Seorang wanita di Fujian, China, nyaris kehilangan nyawa setelah mengonsumsi durian lalu minum alkohol. Peristiwa yang terjadi di Fuzhou ini menjadi peringatan bahwa kombinasi makanan tertentu dapat berdampak serius bagi kesehatan.
Mengutip detikFood, dilaporkan pada 4 Mei, wanita tersebut awalnya makan durian, kemudian minum sekitar 200 ml minuman beralkohol jenis baijiu. Tak lama setelah itu, tubuhnya menunjukkan reaksi berat.
Ia mengalami ruam seperti biduran (urtikaria), dada terasa sesak, dan kesulitan bernapas. Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Oriental Daily (4/5), saat tiba di instalasi gawat darurat, kadar oksigen dalam darahnya sempat turun hingga 78 persen. Angka ini tergolong berbahaya dan dapat mengancam nyawa.
Tim medis segera memberikan penanganan intensif. Dokter yang menangani menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan reaksi mirip reaksi disulfiram, yang juga dikenal terjadi saat alkohol dikonsumsi bersamaan dengan obat tertentu.
Dalam kasus ini, durian mengandung senyawa sulfur yang dapat menghambat kerja enzim di hati dalam memecah alkohol.
"Ketika alkohol masuk ke dalam tubuh, akan terbentuk zat bernama asetaldehida. Senyawa dalam durian menghambat proses pemecahan zat tersebut, sehingga menumpuk dan memicu reaksi berbahaya," jelas dokter yang menangani.
Penumpukan asetaldehida dapat memicu berbagai gejala, seperti detak jantung tidak teratur, kejang pada saluran pernapasan, hingga gangguan sistem pernapasan dan sirkulasi. Dalam kondisi ekstrem, hal ini dapat berujung pada kegagalan organ.
Selama ini, sebagian masyarakat menganggap kombinasi durian dan alkohol hanya menyebabkan efek panas dalam. Namun, para ahli menegaskan bahwa reaksi tersebut memiliki dasar medis yang jelas.
Dokter menyarankan masyarakat menghindari konsumsi alkohol setidaknya 24 jam sebelum dan sesudah makan durian. Anjuran ini berlaku untuk semua jenis minuman beralkohol, termasuk bir, anggur, serta produk lain yang mengandung alkohol, seperti obat tertentu dan bahan masakan.
Bagi individu dengan kondisi hati yang lemah atau memiliki riwayat alergi, disarankan memberi jeda lebih lama, bahkan hingga tiga hari. Langkah ini penting untuk memastikan fungsi metabolisme hati kembali normal dan mengurangi risiko kesehatan.
Artikel ini telah tayang di detikFood. Baca selengkapnya di sini.
(raf/sud)
