Pohon Unik di Majalengka, Punya Delapan 'Kaki'

Pohon Unik di Majalengka
Pohon di Situ Sangiang ini memiliki ciri khas dengan batang yang bercabang menjadi 8 bagian dan kemudian di bagian atasnya menyatu membentuk satu tubuh yang kokoh. Pohon berukuran besar ini menjulang ke atas seperti gapura.
Pohon Berkaki Delapan di Majalengka
Adapun jenis pohon ini adalah pohon nunuk. Pohon ini belum diketahui usianya secara pasti, namun disinyalir sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.
Pohon Berkaki Delapan di Majalengka
Mengenai asal-usul pohon yang memiliki 8 batang tersebut, awalnya pohon ini hanya memiliki 7 batang, namun seiring berjalannya waktu, sebuah akar baru menjulur dan tumbuh menjadi batang yang kedelapan.
Pohon Berkaki Delapan di Majalengka
Pohon ini juga sering kali dikelilingi oleh berbagai cerita dan kepercayaan masyarakat. Salah satu cerita yang berkembang adalah bahwa kulit pohon ini bisa digunakan untuk mendatangkan keharmonisan dalam rumah tangga, bahkan dikatakan dapat membantu mengatasi masalah poligami.
Pohon Berkaki Delapan di Majalengka
Namun demikian, banyak orang yang percaya dengan mitos tersebut. Akibatnya, pohon ini rusak dan hampir punah karena ulah pengunjung yang percaya dengan mitos tersebut. Itu karena, kulit pohon tersebut dikelupas oleh para pengunjung untuk dijadikan 'jimat'.
Pohon di Situ Sangiang ini memiliki ciri khas dengan batang yang bercabang menjadi 8 bagian dan kemudian di bagian atasnya menyatu membentuk satu tubuh yang kokoh. Pohon berukuran besar ini menjulang ke atas seperti gapura.
Adapun jenis pohon ini adalah pohon nunuk. Pohon ini belum diketahui usianya secara pasti, namun disinyalir sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.
Mengenai asal-usul pohon yang memiliki 8 batang tersebut, awalnya pohon ini hanya memiliki 7 batang, namun seiring berjalannya waktu, sebuah akar baru menjulur dan tumbuh menjadi batang yang kedelapan.
Pohon ini juga sering kali dikelilingi oleh berbagai cerita dan kepercayaan masyarakat. Salah satu cerita yang berkembang adalah bahwa kulit pohon ini bisa digunakan untuk mendatangkan keharmonisan dalam rumah tangga, bahkan dikatakan dapat membantu mengatasi masalah poligami.
Namun demikian, banyak orang yang percaya dengan mitos tersebut. Akibatnya, pohon ini rusak dan hampir punah karena ulah pengunjung yang percaya dengan mitos tersebut. Itu karena, kulit pohon tersebut dikelupas oleh para pengunjung untuk dijadikan jimat.