Mengintip Aktivitas Pagi di Kampung Cibunut Bandung

Suasana pagi di Kampung Cibunut Bandung.
Setiap pagi tepat pukul 08.00 WIB, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Oh Darling (Orang Hebat Sadar Lingkungan) keliling kampung Cibunut. (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Suasana pagi di Kampung Cibunut Bandung.
Mereka mengambil sampah organik dari rumah ke rumah. Isinya yakni sampah dapur hingga sisa makanan. (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Suasana pagi di Kampung Cibunut Bandung.
Masyarakat di Kampung Cibunut sudah sadar harus memisahkan sampah organik, non organik, residu, dan B3. (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Suasana pagi di Kampung Cibunut Bandung.
Masyarakat dari KSM memiliki anggota dengan beragam usia, namun semangatnya sama. Mereka mencoba terus menggerakkan warga agar konsisten simpan sampah pada tempatnya dan sesuai jenisnya. (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Suasana pagi di Kampung Cibunut Bandung.
Dalam sehari, ada sekitar 25-27 ember sampah organik yang berhasil dikumpulkan. Bulan lalu, sampah organik yang disetor mencapai delapan ton! (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Suasana pagi di Kampung Cibunut Bandung.
Nantinya, sampah organik sebagian kecil diolah di kampung ini untuk menjadi kompos. Sementara sebagian besar disetor dan diolah DLH karena keterbatasan lahan. (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Setiap pagi tepat pukul 08.00 WIB, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Oh Darling (Orang Hebat Sadar Lingkungan) keliling kampung Cibunut. (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Mereka mengambil sampah organik dari rumah ke rumah. Isinya yakni sampah dapur hingga sisa makanan. (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Masyarakat di Kampung Cibunut sudah sadar harus memisahkan sampah organik, non organik, residu, dan B3. (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Masyarakat dari KSM memiliki anggota dengan beragam usia, namun semangatnya sama. Mereka mencoba terus menggerakkan warga agar konsisten simpan sampah pada tempatnya dan sesuai jenisnya. (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Dalam sehari, ada sekitar 25-27 ember sampah organik yang berhasil dikumpulkan. Bulan lalu, sampah organik yang disetor mencapai delapan ton! (Foto: Anindyadevi Aurellia)
Nantinya, sampah organik sebagian kecil diolah di kampung ini untuk menjadi kompos. Sementara sebagian besar disetor dan diolah DLH karena keterbatasan lahan. (Foto: Anindyadevi Aurellia)