Menjaga Nyala Literasi dari Saung Kecil di Tepi Sungai Cimanuk

Menjaga Nyala Literasi dari Saung Kecil di Tepi Sungai Cimanuk

Burhanudin - detikJabar
Selasa, 21 Jul 2026 09:30 WIB
Aktivitas anak-anak di poskamling Blok Como, Desa Pilangsari, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.
Aktivitas anak-anak di poskamling Blok Como, Desa Pilangsari, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu (Foto: Burhanudin/detikJabar).
Indramayu -

Di sudut Blok Como, Desa Pilangsari, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, berdiri sebuah saung sederhana yang tak jauh dari tanggul Sungai Cimanuk. Bangunan yang dulunya hanya difungsikan sebagai pos ronda itu kini menyimpan ratusan buku, dan pernah menjadi tempat anak-anak menumbuhkan kegemaran membaca.

Di balik keberadaan perpustakaan mini tersebut ada sosok Tardiarto (46) bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Komunitas Lentera Selawe. Sejak akhir 2018, mereka berupaya menghadirkan ruang belajar gratis bagi masyarakat, sebagai ikhtiar membangun budaya literasi di tengah derasnya arus teknologi digital.

Gagasan itu lahir dari kegelisahan melihat anak-anak di lingkungan sekitar yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain gim di telepon genggam (HP) dibanding membuka buku.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awalnya itu karena banyak anak-anak yang kecanduan main HP, pada main gim, sedangkan minat baca bukunya rendah," ujar Tardiarto belum lama ini.

ADVERTISEMENT

Berbekal semangat gotong royong, warga kemudian menyulap poskamling yang berada tepat di depan rumah Tardiarto menjadi perpustakaan sederhana. Rak-rak kayu dipenuhi koleksi buku yang berasal dari donasi masyarakat hingga bantuan pemerintah.

Kini buku-buku itu jumlahnya mencapai ratusan, bahkan mendekati seribu eksemplar. Isinya beragam, mulai dari buku pengetahuan, novel, cerita anak, hingga komik yang paling diminati para pembaca muda.

"Kalau keseluruhan ada ratusan mau seribu buku," katanya.

Pada masa-masa awal berdiri, perpustakaan saung itu tak pernah sepi. Kehadiran lapangan bulu tangkis di samping rumah Tardiarto membuat kawasan tersebut menjadi tempat berkumpul warga, terutama anak-anak.

Setiap kali mereka selesai bermain, Tardiarto tak pernah melewatkan kesempatan untuk mengajak mereka mampir membaca.

Ajakan sederhana itu ternyata cukup berhasil. Meski sebagian besar memilih komik atau novel, setidaknya kebiasaan membuka buku mulai tumbuh.

"Waktu itu efektif, mereka mau baca buku, walaupun kebanyakan memang buku kayak novel, buku cerita, terus komik. Setidaknya anak-anak mau membaca," kenangnya.

Namun menjaga semangat membaca ternyata jauh lebih sulit dibanding memulainya.

Dalam satu tahun terakhir, perpustakaan itu mulai kehilangan pengunjung. Rak-rak buku perlahan diselimuti debu, sementara koleksi yang ada semakin usang karena belum banyak diperbarui. Anak-anak yang dulu ramai datang kini hanya sesekali terlihat, bahkan lebih sering perpustakaan itu kosong tanpa pembaca.

"Makanya sekarang sepi, perlu diakui memang untuk membudayakan membaca itu penuh dengan tantangan," tutur Tardiarto.

Menurutnya, minimnya pembaruan koleksi buku menjadi salah satu penyebab menurunnya minat masyarakat. Di sisi lain, kesibukan para anggota Komunitas Lentera Selawe juga membuat aktivitas literasi tidak lagi seintens beberapa tahun lalu.

Meski demikian, Tardiarto belum kehilangan harapan.

Baginya, nama Lentera Selawe bukan sekadar identitas komunitas. Nama itu mengandung makna "25 cahaya", simbol harapan agar semangat belajar dan membaca tetap menjadi penerang bagi masyarakat meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.

Kesadaran bahwa kebiasaan membaca kini telah bergeser membuat Tardiarto mulai memikirkan pendekatan baru. Ia tidak lagi memandang gawai sebagai musuh, melainkan alat yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas literasi.

"Salah satu yang saya coba pikirkan itu gimana kalau literasi yang semula dari buku berubah menjadi lewat digital," ungkapnya.

Konsep itu memang masih terus dirancang. Namun dalam kesehariannya, ia mulai membiasakan warga membaca informasi dari sumber yang dapat dipercaya setiap kali muncul isu yang ramai diperbincangkan.

Saat kabar kecelakaan di jalur Pantura yang menewaskan 12 orang menjadi perbincangan, misalnya, Tardiarto mengajak warga mencari dan membaca berita lengkapnya melalui media daring, bukan sekadar mempercayai cerita yang beredar dari mulut ke mulut.

"Seperti waktu kemarin kecelakaan di Pantura yang korbannya ada 12. Itu kan awalnya cuma katanya-katanya, saya ajak warga baca beritanya biar tahu pasti kejadiannya seperti apa," ujarnya.

"Alhamdulillah mereka buka HP, terus baca berita. Setidaknya ada aktivitas membaca yang mereka lakukan," lanjut dia.

Bagi Tardiarto, hakikat literasi bukan semata-mata membaca buku cetak. Yang terpenting adalah membiasakan masyarakat mencari informasi yang benar, memahami isi bacaan, dan tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi.

Dari sebuah saung sederhana di tepian Sungai Cimanuk, harapan itu masih terus dijaga. Mungkin rak-rak bukunya kini tak lagi seramai dulu, tetapi semangat untuk menyalakan budaya membaca belum benar-benar padam.

Selama masih ada orang-orang yang peduli, Lentera Selawe percaya cahaya literasi akan terus menemukan jalannya, baik melalui lembaran buku maupun layar gawai.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Belajar Kehidupan Lewat Pendidikan"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads