Jejak Kehidupan Purba di Jawa Barat

Melihat Lagi Perburuan Fosil Gigi Hiu Purba Megalodon di Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Sabtu, 20 Agu 2022 12:30 WIB
Melihat Lagi Suasana Perburuan Fosil Gigi Megalodon di Surade Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi - Perburuan fosil gigi megalodon di Kampung Cigintung, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi pernah terjadi secara masif pada tahun 2020 lalu. Hal itu belangsung hingga satu tahun kemudian, di tahun 2021 warga bahkan membongkar lahan pertanian dan kebun mereka demi pundi-pundi Rupiah.

Kondisi itu terekam oleh kamera detikJabar saat menyambangi kawasan itu pada awal tahun 2021 lalu. Saat itu, banyak warga yang mendadak jadi jutawan karena menjual fosil hasil perburuan mereka. Kini, banyak fosil yang berpindah tangan untuk sekedar jadi koleksi warga di luar negeri.

"Kalau sekarang hanya tinggal kenangan, sekarang banyak yang punya mobil (dari) megalodon, motor dari megalodon, rumah mewah dari megalodon, begitu ya istilahnya untuk mereka yang sukses menjadikan fosil itu sebagai komoditi," kata Mansyur, warga sekaligus pengelola Museum Megalodon, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade kepada detikJabar, Rabu (17/8/2022).

Melihat Lagi Suasana Perburuan Fosil Gigi Megalodon di Surade Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Mansyur adalah adik dari Nanang, Kades Gunungsungging. Berbeda dengan masyarakat kebanyakan, Mansyur lebih sadar dengan kondisi kerusakan masif di desanya akibat perburuan fosil tersebut.

Saat itu Mansyur dan salah seorang pegiat wisata Eli Yulianti memperlihatkan sejumlah lokasi yang dieksplotasi secara liar oleh warga. Aktivitas penggalian dilakukan gila-gilaan dari lokasi tersebut, tidak hanya menggunakan peralatan tradisional aktivitas itu bahkan menggunakan mesin.

"Kampung ini sudah dikenal dengan temuan fosil ini, bahkan namanya spontan berubah jadi Kampung Megalodon. Meskipun berada di lahan milik warga perburuan fosil ini lama-lama ada habisnya, kalau misalkan dikelola dengan baik mungkin kita bisa mengabadikan lokasi ini dan mungkin membuat taman fosil purba. Mungkin kalau lebih mantapnya lagi ada dari pemerintah yang datang untuk melakukan penelitian untuk mengukuhkan taman fosil tersebut," cerita Eli kepada detikJabar, Januari 2021 lalu.

Perburuan masif dilakukan karena belum adanya regulasi, saat itu harga jual fosil tersebut membengkak seiring ramainya persaingan para tengkulak adu tawar dengan warga. "Sampai sekarang harganya antara Rp 3 juta hingga Rp 150 juta, harga itu tergantung dari jenis, ukuran dan mulusnya barang. Karena ada kelir (list) fosil yang bermacam warnanya," lanjut Eli.

"Warga juga menyebut benda itu Huntu (Gigi) Gelap (Petir), karena bentuknya memang mirip. Hanya bedanya fosil ini ada gerigi kecil," sambungnya.

Pendekatan secara persuasif saat itu terus dilakukan agar warga lebih sadar bahwa yang mereka buru kemudian dijadikan komoditi itu adalah benda langka warisan zaman purba yang bisa diwariskan kepada generasi penerus soal sejarah keberadaan tempat mereka kini tinggal di masa lampau.

Melihat Lagi Suasana Perburuan Fosil Gigi Megalodon di Surade Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Perjuangan itu tidak sia-sia seiring berdirinya sebuah museim kecil yang mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak. Perlahan perburuan mulai menghilang. Warga mulai merasakan dampak pembangunan infrastruktur di kawasan mereka, perlahan wisata-wisata kreatif mulai tumbuh.

"Aktivitas perburuan mereda dengan adanya megalodon masyarakat perlahan mulai menyadari mulai enggak mau ambil lagi fosil tersebut setelah adanya museum kemudian dengan datangnya peneliti mereka sadar secara sendirinya sekarang tidak tergoyah dengan uang semua perburuan fosil terhenti," ungkap Mansyur pengelola museum menceritakan kondisi terkini.

"Kami secara perlahan membuat batasan, dan masyarakat akhirnya mengerti tujuan kami tidak ada lagi aktivitas jual beli fosil. Kami memberi contoh dari apa yang kami lakukan sendiri, kami mengoleksi tapi tidak menjual dan kami simpan di museum. Warga malu dengan sendirinya, karena dampak bisa dirasakan seperti jalanan bagus, banyak wisatawan datang," pungkasnya.


(sya/yum)

Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Foto

detikNetwork