Viral Ucapan 'Belum Merdeka', Abuy Tukang Cukur Bogor Sempat Tak Tidur

Viral Ucapan 'Belum Merdeka', Abuy Tukang Cukur Bogor Sempat Tak Tidur

Andry Haryanto - detikJabar
Kamis, 13 Agu 2026 14:14 WIB
Nur Hidayat (30) alias Abuy, tukang cukur yang viral karena ucapannya.
Foto: Andry Haryanto
Bogor -

"Indonesia udah merdeka, tapi bagi saya, bagi diri saya sendiri itu belum."

Kalimat itu meluncur dari Nur Hidayat, tukang cukur berusia 30 tahun yang akrab disapa Abuy. Beberapa hari terakhir wajahnya berseliweran di media sosial. Bukan karena potongan rambut yang dibuatnya atau kios pangkas yang ia jalankan sejak 2014, melainkan gara-gara satu kalimat spontan saat ditanya mengapa belum memasang bendera Merah Putih.

"Emangnya udah merdeka?"

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Potongan ucapan itu kemudian beredar luas di media sosial dan menjadi buah bibir. Konteksnya melebar ke mana-mana. Ada yang menganggap Abuy menolak memasang bendera. Ada pula yang membaca kalimat tersebut sebagai sindiran terhadap keadaan negeri. Video itu bahkan membuat lelaki yang sehari-hari menggantungkan pendapatan dari gunting dan mesin cukur tersebut sempat tidak bisa tidur.

Padahal menurut Abuy, kalimat itu jauh lebih sederhana. Ketika rombongan Kecamatan Rancabungur datang mengimbau warga memasang bendera, kalender belum menunjukkan 17 Agustus.

ADVERTISEMENT

"Sebenarnya enggak menjurus ke situ, ya. Maksud saya itu 'belum merdeka' artinya belum hari H-nya Hari Kemerdekaan. Belum tanggal 17," kata Abuy saat ditemui di kios cukurnya, Jalan Atang Sanjaya, Bantar Jaya, Rancabungur, Kabupaten Bogor, Kamis (13/8/2026).

Abuy mengaku tidak pernah menolak memasang Merah Putih. Ia juga membantah ada keterpaksaan ketika akhirnya mengibarkan bendera. "Enggak ada sama sekali. Enggak ada. Jadi udah inisiatif sendiri," ujarnya menjawab Merah Putih yang sudah berkibar di depan tempat kerjanya.

Namun setelah video telanjur menyebar, perkara yang semula hanya percakapan di sebuah tempat pangkas itu berubah menjadi urusan publik. Abuy mengaku sempat ketakutan. Malamnya tidak lagi setenang biasanya.

"Sempat enggak bisa tidur. Saya ketakutan gara-gara video itu viral. Kepikiran lah. Enggak enak, gimana, malu lah saya jadinya," katanya.

Pelan-pelan keadaan berubah. Dukungan muncul dari kolom komentar. Orang-orang mencarinya di Instagram, TikTok, hingga Facebook. Sebagian bahkan ingin datang langsung ke tempat pangkasnya. Bagi Abuy, komentar-komentar itu menjadi semacam penyangga setelah ia merasa terpuruk.

"Jadinya itu jadi satu dukungan buat saya. Jadi penyemangat lagi. Yang awalnya terpuruk tuh jadi semangat lagi. Akhirnya tenang lah," ucap warga Pamijahan ini.

Di balik kegaduhan itu, kalimat "belum merdeka" justru membuka cerita lain yang lebih dekat dengan kehidupan Abuy, soal ekonomi sehari-hari. Ketika ditanya apa arti kemerdekaan bagi dirinya, jawabannya tidak berputar pada pidato besar. Ukurannya sederhana: harga bahan pokok, ongkos bensin, jumlah pelanggan yang datang, serta kemampuan membawa pulang penghasilan untuk keluarga.

"Makna merdeka, ya, dari segi ekonomi sih saya pribadi memang belum merdeka. Masih ngerasa kekurangan lah mungkin. Indonesia udah merdeka, tapi bagi saya, bagi diri saya sendiri itu belum," katanya.

Abuy tinggal bersama istri dan seorang anak yang baru berusia satu tahun lima bulan. Setiap hari ia menempuh perjalanan dari Pamijahan menuju tempatnya bekerja. Waktu tempuhnya sekitar 40 menit ketika jalan lengang dan bisa mencapai satu jam saat macet.

Perjalanan itu berarti bensin. Setiba di tempat kerja, ada kebutuhan makan. Sementara pendapatan dari kursi pangkas tidak selalu bisa diprediksi.

Menurut dia, persaingan usaha cukur juga semakin rapat. Dua tempat pangkas lain kini berdiri tidak jauh dari tempatnya bekerja. Jika sebelumnya dalam sehari ia bisa memperoleh sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, pendapatan itu kini bisa turun menjadi sekitar Rp50 ribu sampai Rp100 ribu.

"Ya gitulah, sulit cari nafkah. Memang lagi sulit. Banyak saingan juga. Ditambah lagi kan banyak saingan-saingan yang dekat," ujarnya.

Abuy membandingkan keadaan sekarang dengan beberapa tahun silam. Dalam ingatannya, harga bensin dan kebutuhan pokok dahulu tidak seberat saat ini.

"Kalau dibilang dari segi ekonomi, jauh lebih enak zaman dulu. Soalnya kan zaman dulu mah Pertalite juga pada murah, sembako juga pada murah. Enggak kayak sekarang," katanya.

Karena itu, kemerdekaan dalam pikiran Abuy bertemu langsung dengan urusan dapur. Ia berharap kemerdekaan tidak hanya hadir dalam perayaan setiap Agustus, tetapi juga terasa ketika masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.

"Sembako murah. Ekonominya juga gampang. Cari apa juga enggak sesulit kayak gini," ujarnya.

Namun ia tidak berpikir meninggalkan profesi yang ditekuninya sejak 2014. Dunia cukur ia kenal dari kakak iparnya sejak sekitar 2013. Profesi itu kemudian menjadi jalan hidupnya. Ketika pandemi COVID-19 datang, Abuy sempat berjualan sandal dan sepatu di kawasan Mangga Dua sebelum kembali bertahan dengan gunting dan sisir.

Untuk menambah pemasukan, ia memelihara ayam dan ikan di kampung. Hasilnya dijual kepada warga sekitar atau siapa pun yang membutuhkan. Saat sebagian orang memilih pinjaman daring untuk menutup kebutuhan hidup, Abuy mengaku belum pernah terpikir mengambil jalan tersebut.

"Alhamdulillah saya enggak kepikiran kalau untuk ke situ," kata Abuy.

Merdeka bagi Abuy barangkali memang tidak rumit. Ia tidak merumuskannya dalam kalimat panjang. Ia hanya ingin kehidupan sedikit lebih ringan. Mencari penghasilan tidak terlalu sulit. Harga kebutuhan tidak terus menjauh dari kemampuan warga kecil. Dan orang-orang tetap bisa hidup rukun.

"Harapan saya makin baik lagi aja ke depannya. Masyarakat Indonesia makin rukun, makmur. Rakyatnya makin sukses lah, istilah orang kampung aja," katanya.

Kini Abuy mengaku sudah kembali bekerja seperti biasa. Ketakutan setelah video viral perlahan mereda. Kursi pangkas kembali diduduki pelanggan. Gunting bergerak lagi di antara rambut yang tumbuh.

Camat Rancabungur: Orang yang Menegur Abuy Bukan Pegawai Kecamatan

Camat Rancabungur Dita Aprillia menyampaikan permohonan maaf atas kesimpangsiuran informasi yang muncul setelah video Abuy beredar di media sosial. Menurut Dita, kejadian bermula pada Jumat, 7 Agustus, ketika dirinya bersama jajaran kecamatan melakukan kegiatan rutin. Selain bersih-bersih lingkungan, mereka juga mengimbau warga untuk memasang bendera Merah Putih.

Saat rombongan masuk ke tempat pangkas tempat Abuy bekerja, ikut bersama mereka seorang yang disebut Dita sebagai 'rekan media'.

"Perlu saya tegaskan di sini bahwa orang tersebut bukan pegawai kecamatan, tetapi rekan media yang membantu mengimbau, yang membantu pada saat itu juga membagi-bagikan bendera," kata Dita ditemui detikJabar di kantornya, Kamis (13/8/2028).

Camat Rancabungur Dita AprilliaCamat Rancabungur Dita Aprillia Foto: Andry Haryanto

Dita mengakui saat itu muncul perkataan dengan intonasi tinggi ketika Abuy ditanya soal pemasangan bendera. Perselisihan kemudian terjadi. Ia meminta Sekretaris Kecamatan membantu melerai.

Menurut Dita, pihak kecamatan tidak pernah memerintahkan Abuy membuat video permohonan maaf sambil memegang bendera. Ia menyebut Abuy sempat datang bersama RT dan RW untuk meluruskan persoalan agar tidak berlanjut.

Namun pada kesempatan lain, kata Dita, rekan media tersebut meminta Abuy memegang bendera dan menyampaikan permohonan maaf tanpa sepengetahuan dirinya maupun pegawai kecamatan.

"Di situ tidak ada instruksi apa pun dari saya dan saya juga tidak mengetahui kejadian tersebut," ujarnya.

Dita juga menegaskan tidak ada maksud dari pemerintah kecamatan untuk memaksa maupun mengintimidasi warga agar memasang bendera.

"Saya tidak ada niat sedikit pun untuk memaksa, mengintimidasi seseorang memasang bendera," katanya.

Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin menjelang Hari Kemerdekaan dengan tujuan mengajak warga menghargai jasa para pahlawan melalui pemasangan Merah Putih di lingkungan masing-masing. Dita mengatakan pihaknya telah berkomunikasi langsung dengan Abuy.

Kecamatan juga berupaya mencari rekan media yang merekam dan mempublikasikan video tersebut. Namun hingga keterangannya disampaikan, orang yang bersangkutan belum dapat dihubungi. Sementara Abuy sendiri memastikan tidak pernah mendapat intimidasi dari kecamatan maupun Satpol PP.

"Sebetulnya enggak ada sama sekali intimidasi dari pihak kecamatan ataupun Bapak Satpol PP. Itu enggak ada sama sekali," kata Dita.



(tya/tya)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads