Fenomena menjamurnya coffee shop kekinian di Kota Sukabumi kerap kali identik dengan konsep interior modern dan penggunaan kemasan sekali pakai. Namun, D'jogray Cafe memilih memutar arah. Kafe yang berlokasi di Jalan Cikaret, Kampung Jogray, Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole ini hadir menawarkan antitesis: sebuah tempat nongkrong yang sepenuhnya mengusung napas ramah lingkungan (eco-friendly).
Menempati bekas bangunan vila di tepi hamparan sawah hijau, D'jogray Cafe yang bertransformasi sejak awal 2026 ini berhasil mengawinkan estetika arsitektur bambu-kayu khas Sunda dengan sistem pengelolaan sampah mandiri yang hulu ke hilir.
Pengelolaan Sampah Mandiri dari Sumbernya
Komitmen zero waste atau nihil sampah ke TPA bukan sekadar jargon pajangan di meja kasir. Di kafe ini, seluruh sisa konsumsi dikelola secara sistematis berdasarkan jenisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Limbah organik dari sisa makanan dan bahan dapur diendapkan selama dua minggu dalam lubang biopori sedalam 2 meter. Hasil pengomposan dialokasikan sebagai pupuk alami sektor pertanian sekitar, sedangkan sisa pemilahan lainnya dialihkan untuk pakan ternak warga.
Sementara itu, pemisahan dilakukan khusus untuk limbah anorganik. Botol plastik disebar di setiap sudut ruang kafe untuk mengedukasi pengunjung. Setiap dua minggu sekali, sekitar 1 hingga 2 kuintal sampah anorganik ditarik dan diolah terintegrasi melalui Bank Sampah Astrajingga.
Berawal dari Keresahan Banjir Kampung Jogray
Lahirnya D'jogray Cafe tak lepas dari rekam jejak kelam Kampung Jogray yang dahulu kerap diterjang banjir akibat tumpukan sampah liar. Berawal dari kejenuhan atas masalah yang tak kunjung usai, Deri Maulana (33) bersama warga sekitar nekat menginisiasi Bank Sampah Astrajingga sekitar 1,5 tahun lalu.
Inisiatif swadaya tersebut terbukti ampuh menyetop banjir secara total. Bahkan, ekosistem Bank Sampah kini mampu menyalurkan insentif ekonomi sekitar Rp 1,6 juta per bulan untuk tiap RW yang berpartisipasi. Sukses mengelola sampah permukiman, Deri yang juga penggagas D'jogray Cafe membawa formula ramah lingkungan tersebut ke dalam bisnis kuliner.
"Kita ingin mengedukasi masyarakat secara langsung. Lewat tagline Kafe Ramah Lingkungan, pengunjung bisa melihat sendiri bahwa bisnis pun bisa mengelola sampahnya. Kalau di kafe saja bisa, harusnya di rumah juga pasti bisa," ungkap Deri, Senin (10/8/2026).
Langkah Awal Menuju Ekosistem Wisata Kampung Budaya
Ke depan, D'jogray Cafe diproyeksikan sebagai pintu masuk dari rencana besar masyarakat lokal untuk membangun ekosistem wisata berkonsep Kampung Budaya. Pengunjung tak hanya disuguhkan paduan menu Sunda autentik dan hidangan modern di tengah spot estetik, tetapi juga diajak menjadi bagian dari gerakan pelestarian alam.
Bagi yang ingin merasakan pengalaman ngopi berwawasan lingkungan ini, D'jogray Cafe beroperasi setiap hari pukul 11.00 - 22.00 WIB. Khusus hari Minggu, kafe melayani pengunjung lebih awal mulai pukul 07.00 WIB dengan sajian menu sarapan khas.
Simak Video "Video: 'Revolusi Pengelolaan Sampah' ala Walkot Solo Respati Ardi"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
