Susu Kedaluwarsa Picu Keracunan Puluhan Siswa SD di Sukabumi

Susu Kedaluwarsa Picu Keracunan Puluhan Siswa SD di Sukabumi

Siti Fatimah - detikJabar
Rabu, 29 Jul 2026 17:04 WIB
Ilustrasi Trauma Keracunan MBG
Ilustrasi keracunan (Foto: Edi Wahyono)
Sukabumi -

Sebanyak 39 siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojongkoneng, Kelurahan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan mengalami keracunan massal pada Selasa (28/7/2026). Insiden ini terjadi setelah para murid mengonsumsi susu UHT yang menjadi bagian dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Ironisnya, susu tersebut diketahui telah kedaluwarsa sejak Juni 2026.

Produk susu tersebut dipasok oleh dapur Nazran SPPG CIBADAK 02 yang dikelola Yayasan Ulul Albab Fasihah Al Munawaroh. Akibatnya, puluhan siswa mengeluhkan mual, pusing, hingga sakit perut hebat. Bahkan, satu orang siswa harus mendapatkan penanganan darurat di RSUD Sekarwangi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Tim Kerja Surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Tatang Koswara, menjelaskan bahwa paket makanan tersebut dibagikan pada Selasa pagi. Gejala mulai muncul secara serentak tidak lama setelah para siswa menghabiskan jatah makan mereka.

"Jam makanan datang pukul 08.30 WIB, kemudian dikonsumsi pada pukul 09.00 WIB. Jam onset atau kasus pertama kali timbul gejala terjadi pukul 09.40 WIB," ungkap Tatang saat dikonfirmasi detikJabar, Rabu (29/7/2026).

ADVERTISEMENT

Menu MBG hari itu terdiri dari nasi liwet, telur asam manis, cah wortel dan jagung, buah lengkeng, serta susu UHT. Laporan mengenai kondisi siswa yang memburuk baru diterima Puskesmas Sekarwangi pada malam harinya.

"Salah satunya ada susu UHT yang dikonsumsi dengan expired pada bulan Juni 2026," terangnya.

Kondisi Korban dan Penanganan Medis

Humas RSUD Sekarwangi, Irman Irmansyah Saputra, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima satu pasien rujukan dari SDN Bojongkoneng pada Rabu (29/7/2026) pukul 12.21 WIB. Siswa kelas 1 tersebut dilarikan ke rumah sakit karena mengalami mual berat.

"Berdasarkan informasi medis dari dokter dan perawat IGD, dugaan sementara pasien mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi susu. Saat tiba di rumah sakit, kondisi fisik anak mengeluh mual," ujar Irman.

Meski sempat direncanakan untuk pemasangan infus, pasien menolak dan akhirnya diberikan obat oral. Setelah observasi intensif selama 30 menit, tim medis menyatakan kondisi pasien telah stabil.

"Kondisinya bagus dan stabil. Tidak ada efek muntah-muntah atau komplikasi lain, sehingga pasien tidak perlu menjalani observasi rawat inap dan langsung diperbolehkan pulang oleh tim medis," jelasnya.

Data rumah sakit menunjukkan total 39 siswa terdampak dalam peristiwa ini. Mayoritas siswa mendapatkan penanganan medis dan observasi langsung di lokasi sekolah, sementara hanya satu orang yang membutuhkan perawatan di IGD.

Investigasi dan Uji Laboratorium

Dinas Kesehatan melalui Tim Gerak Cepat (TGC) telah melakukan langkah cepat dengan menyisir lokasi kejadian guna penyelidikan epidemiologi.

"Tindakan yang sudah dilakukan yaitu berkoordinasi dengan tim TGC meninjau lokasi SPPG untuk investigasi, survei tempat, wawancara, dan observasi lingkungan SPPG," ujar Tatang.

Selain melakukan pemantauan terhadap kondisi kesehatan para siswa, petugas juga telah mengamankan sampel makanan dari menu MBG tersebut untuk diuji secara klinis.

"Kami sedang menunggu hasil lab, karena sampel sudah dikirim ke laboratorium," pungkasnya.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads