Lurah Margasuka Darmawansyah akhirnya buka suara soal insiden dengan Kepala Puskesmas Cibolerang Ira Regina. Insiden itu jadi sorotan setelah videonya tersebar di media sosial.
Saat ditemui detikJabar, Darmawansyah pun blak-blakan atas insiden yang terjadi pada 5 Mei 2026 di Balai RW 06 Kelurahan Margasuka, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung sekitar pukul 09.00 WIB. Pada waktu itu, ia bersama istrinya, Regy Regina, bermaksud untuk menanyakan program posyandu bagi remaja agar tepat sasaran.
Istri Darmawansyah, Regy yang juga menjabat sebagai Ketua TP Posyandu Kelurahan Margasuka, meminta agar agenda posyandu remaja dipindahkan dari hari kerja ke hari Sabtu, plus ada agenda cek gula darah. Namun permintaan itu dijawab Kepala Puskesmas Cibolerang bahwa di akhir pekan tak ada tenaga kesehatan yang bisa bertugas, dan diklaim sudah bisa dilakukan kader posyandu yang sudah mendapat pelatihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ternyata ketika dikonfirmasi istri saya, pelatihan terkait dengan gula darah tidak dilaksanakan. Kemudian istri saya menanyakan kembali kepada Kepala Puskesmas dan jawabannya ternyata beda. 'Kalau tidak dilaksanakan memang kenapa?'," kata Darmawansyah menirukan respons Kepala Puskesmas Cibolerang terhadap istrinya, Rabu (3/6/2026).
Darmawansyah sendiri saat itu sedang meminta penjelasan dari staf puskesmas soal masalah stunting di kelurahannya. Sebab, ia meminta supaya anak di atas 5 tahun bisa dihapus dari daftar stunting.
Di tengah obrolan, Darmawansyah baru menyadari cekcok antara istrinya dengan Kepala Puskesmas Cibolerang sudah semakin memanas. Dia mengaku coba menenangkan, namun ternyata respons kedua orang itu justru semakin tegang.
Tanpa pikir panjang, Darmawansyah lalu berinisiatif menggebrak meja di lokasi posyandu itu. Tujuannya agar cekcok antara Kepala Puskesmas Cibolerang dengan istrinya bisa segera dihentikan.
"Jadi untuk mendiamkan situasi, makanya Pak Lurah menggebrak meja. Ternyata kepala puskesmas berbalik menggebrak meja, kemudian istri saya menggebrak meja juga," ucapnya.
Sayangnya, Darmawansyah menyesalkan narasi yang beredar justru menyudutkan posisinya. Padahal saat itu, dia bermaksud meredakan situasi panas di sana agar tak makin melebar.
"Jadi maksud Pak Lurah tidak untuk melakukan deviasi di wilayah, murni melakukan monitoring. Tetapi ternyata yang ada di video yang tersebar di media sosial, ternyata dibolak-balikkan fakta. Jadi, intinya, Pak Lurah hanya meredam situasi. Tetapi ternyata Pak Lurah yang kena urusan ini," ungkapnya.
Darmawansyah mengatakan, sudah dipanggil Kepala BKPSDM Kota Bandung Evi Hendarin tadi pagi. Sayangnya, dia mengaku tidak diberi kesempatan untuk memberikan klarifikasi dan menjelaskan kronologinya secara utuh.
Meskipun demikian, Darmawansyah bersedia meminta maaf atas tindakannya yang sudah melanggar etika seorang pejabat publik. Namun ia juga menuntut jika nantinya dia mendapat sanksi, Kepala Puskesmas Cibolerang juga harus mendapat hukuman serupa.
"Saya tidak diberi peluang, kesempatan untuk melakukan klarifikasi. Sementara penyampaian Kepala BKPSDM, diperintahkan melalui kecamatan untuk memberikan sanksi kepada saya. Jadi intinya, yang saya sampaikan di tempat ini, saya minta kalau memang saya bersalah di depan publik, sekali lagi saya minta maaf. Karena saya itu sebagai sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Dan Insyaallah saya sebagai pimpinan tetap bertanggung jawab menjalankan tugas kedinasan dengan baik karena itu merupakan tanggung jawab saya sebagai lurah di tempat ini," katanya.
"Satu lagi yang saya minta, kalau saya dikenakan sanksi dari Pemerintah Kota Bandung, saya minta supaya adil. Kepala Puskesmas Cibolerang dikenakan sanksi juga. Karena bisa dilihat di video itu kondisinya seperti apa. Justru saya yang tadinya melerai situasi itu, justru saya yang dibalikin (dirugikan)," pungkasnya.
detikJabar sudah berusaha mengkonfirmasi secara langsung kejadian ini ke Kepala Puskesmas Cibolerang, Ira Regina. Namun setelah didatangi ke kantornya, yang bersangkutan tidak ada di tempat.
(ral/yum)
