Media sosial baru-baru ini diramaikan oleh laporan mengenai seorang pasien yang meninggal dunia di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung akibat infeksi hantavirus. Menanggapi kekhawatiran publik, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memberikan klarifikasi peristiwa tersebut merupakan kasus medis yang terjadi pada tahun 2025 dan bukan merupakan wabah baru.
Kemenkes menegaskan kasus ini tidak berkaitan dengan penyebaran hantavirus (Andes virus) yang sebelumnya dilaporkan terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Berikut ringkasannya yang dirangkum detikJabar dari detikHealth, Rabu (20/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Profil Pasien dan Kronologi Gejala Awal
Kasus ini menimpa seorang pria berusia 49 tahun yang bekerja sebagai buruh bangunan dan berdomisili di kawasan Cibeunying Kolot, Kota Bandung.
- 6 Hari Sebelum Masuk RS: Pasien mulai mengalami gejala demam yang hilang timbul.
- 3 Hari Sebelum Masuk RS: Pasien merasakan nyeri yang semakin memberat pada perut bagian kanan atas.
- 1 Hari Sebelum Masuk RS: Muncul gejala kuning pada badan dan mata (jaundice), disertai warna urine yang pekat dan nyeri otot.
- Keluhan Tambahan: Pasien juga mengalami mual dan muntah setiap kali mencoba makan atau minum.
Detik-detik Perburukan Kondisi di Rumah Sakit
Pasien hanya menjalani perawatan selama tiga hari di RSHS sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia karena kondisinya yang terus menurun secara drastis.
- Hari Pertama Perawatan: Pasien tiba dengan kondisi demam, mata kuning, dan sesak napas. Hasil rontgen menunjukkan adanya bronkopneumonia, sementara USG menemukan pembesaran jantung (kardiomegali).
- Hari Kedua: Kondisi pasien memasuki fase kritis seiring dengan saturasi oksigen yang terus menurun.
- Keputusan Medis: Tim medis merekomendasikan tindakan intubasi untuk membantu pernapasan, namun pihak keluarga menolak.
"Ketika diedukasi untuk tindakan intubasi, keluarga menolak. Akhirnya pasien meninggal dunia," kata Dokter spesialis penyakit dalam RSHS, Elisabeth Hutajulu.
Diagnosis Medis: Infeksi Ganda Hantavirus dan Leptospirosis
Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel laboratorium, terungkap pasien mengalami infeksi ganda yang memperparah kondisi fisiknya.
- Penyebab Perburukan: Kombinasi hantavirus dan leptospirosis menyebabkan kadar trombosit pasien menjadi sangat rendah dan meningkatkan indikator infeksi (prokalsitonin).
- Diagnosis Akhir: Pasien didiagnosis mengalami Weil's disease dengan infeksi hantavirus yang disertai syok sepsis.
- Komplikasi Ginjal: Pasien juga menderita Acute Kidney Injury (AKI) stage 3 dengan hiperkalemia sebelum meninggal.
"Setelah dikirimkan sampelnya, pasien ini positif hantavirus dan leptospirosis, jadi ini yang menjelaskan kenapa pasien itu cukup berat dengan prokalsitonin meningkat kemudian trombositnya juga sangat rendah," ucap Elisabeth.
Perbedaan Tipe Hantavirus: Bandung vs MV Hondius
Kemenkes menekankan pentingnya masyarakat memahami perbedaan tipe klinis hantavirus agar tidak terjadi kesalahpahaman informasi.
- Tipe HFRS (Kasus RSHS): Pasien di Bandung mengidap tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal. Tipe ini sudah terdeteksi di Indonesia sejak 1991 dengan angka kematian sekitar 5-15 persen.
- Tipe HPS (Kasus MV Hondius): Kasus di kapal pesiar merupakan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Andes Virus yang menyerang paru-paru dan jantung. Tipe ini memiliki tingkat kematian hingga 60 persen dan merupakan satu-satunya jenis yang dapat menular antarmanusia.
"Kasus ini di tahun 2025, tipenya HFRS, bukan tipe HPS yang di MV Hondius," kata Direktur Jenderal P2P Kemenkes, Andi Saguni.
