Jembatan Gantung yang Tak Lagi Bikin Cemas Petani Pacet ke Sawah

Jembatan Gantung yang Tak Lagi Bikin Cemas Petani Pacet ke Sawah

Yuga Hassani - detikJabar
Rabu, 06 Mei 2026 17:19 WIB
Jembatan gantung garuda di Pacet
Jembatan gantung garuda di Pacet (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Kabupaten Bandung -

Hembusan angin sejuk menyelimuti kawasan perkampungan yang asri di Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Lanskap alam yang indah berpadu dengan aktivitas warga yang tak pernah berhenti, menggambarkan denyut kehidupan desa yang terus berjalan.

Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari bertani di sawah dan berkebun. Jarak yang jauh dan medan yang berat tak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap produktif demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Akses jalan setapak yang terjal menjadi jalur utama pergerakan ekonomi warga. Di sisi lain, aliran Sungai Citarum membelah kawasan tersebut sekaligus menjadi sumber air bagi lahan pertanian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jembatan penghubung antara Kampung Rumbia, Desa Sukarame dan Kampung Cibutak, Desa Cikitu menjadi urat nadi aktivitas warga. Dahulu, jembatan tersebut hanya terbuat dari bambu dengan kondisi yang memprihatinkan.

ADVERTISEMENT

Petani Kampung Rumbia, Suryani (46), mengatakan jembatan lama memang masih bisa dilalui, namun sangat berisiko, terutama saat musim hujan.

"Sebetulnya yang dulu juga bisa dilewatin, memang dibangun pakai bambu, cuma ya itu khawatir kalau air sungai citarum lagi besar abis hujan, terus kan licin bambu," ujar Suryani, saat ditemui detikJabar, Rabu (6/5/2026).

Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih menunda aktivitas ketika cuaca buruk.

"Jadi, kalau posisi gitu (hujan) saya lebih baik menunda kalau mau ke sawah atau ke kebun," katanya.

Tak jarang, warga bahkan nekat menyeberangi sungai dengan berenang saat debit air rendah.

"Betul, kalau dulu sebagian warga memang suka ada yang nyebrang sungai, anak sekolah juga ada. Saya juga pernah lah basah-basahan," jelasnya.

Warga Kampung Cibutak, Herman Yahya (41), menambahkan jembatan tersebut menjadi satu-satunya akses cepat bagi warga, termasuk anak sekolah. Jika harus memutar lewat jalan raya, jaraknya cukup jauh.

"Iya ini mah akses satu-satunya yang digunakan warga. Kalau harus muter mah jauh banget," kata Herman.

Namun, saat jembatan basah usai hujan, warga enggan melintas karena risiko terpeleset.

"Iya motor juga bisa masuk, cuma ya sekali ewang aja lewatnya. Kalau basah bekas hujan mah jarang ada yang melintas, apalagi kalau hujan mah," bebernya.

Kini, kondisi itu telah berubah. Jembatan bambu yang dulu mengkhawatirkan telah digantikan dengan jembatan gantung berbahan besi yang kokoh. Pembangunan ini digagas oleh Kodim 0624 Kabupaten Bandung.

"Saya sangat bersyukur ada jembatan ini, kondisinya juga bagus, kokoh. Beda pisan dengan yang sebelumnya. Mudah-mudahan dengan adanya jembatan ini, kegiatan warga bisa terbantu, kaya kalau ngangkut pare kan bisa lebih cepet, insya Allah motor bisa lewat dengan aman," ungkap Herman.

Jembatan baru tersebut memiliki panjang 50 meter dan lebar 1,2 meter, dengan desain dominan merah putih serta dihiasi bendera. Jembatan ini diberi nama Jembatan Gantung Perintis Garuda Kodim 0624 Kabupaten Bandung.

Bantu Kendala Transportasi

Dandim 0624 Kabupaten Bandung, Letkol Kav Samto Betah, menjelaskan pembangunan jembatan merupakan bagian dari program TNI AD dalam membantu masyarakat desa yang terkendala akses transportasi.

"Perbaikan jembatan merupakan program atas perintah Bapak Presiden kepada TNI Angkatan Darat untuk membantu masyarakat desa yang mengalami kendala transportasi perhubungan apalagi yang dilewati sungai," ujar Samto.

Jembatan gantung garuda di PacetJembatan gantung garuda di Pacet Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Ia menegaskan, program tersebut bertujuan agar masyarakat, terutama anak-anak, tidak lagi kesulitan menyeberangi sungai untuk beraktivitas, termasuk pergi ke sekolah.

"Aktivitas warga menyeberangi sungai dengan basah-basahan dan pada hari ini sudah tidak lagi, alhamdulillah program Bapak Presiden sudah terlaksana dan diresmikan oleh Bapak Bupati Kabupaten Bandung," katanya.

Pembangunan jembatan dilakukan selama 3,5 bulan secara gotong royong antara TNI dan masyarakat.

"Artinya kita TNI juga bersama masyarakat melaksanakan pembangunan secara bersama-sama, dan syukur alhamdulillah masyarakat juga antusias," bebernya.

Samto juga mengingatkan pentingnya perawatan jembatan oleh masyarakat karena fasilitas tersebut merupakan milik bersama.

"Jembatan ini sekali lagi bukan punya pemerintah, bukan punya punya TNI tetapi punya milik masyarakat yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya dan dirawat dengan sebaik-baiknya," tegasnya.

Sementara itu, Bupati Bandung Dadang Supriatna menilai keberadaan jembatan tersebut dapat mendorong peningkatan perekonomian warga, khususnya di Kecamatan Pacet.

"Ini hadiah untuk warga Kabupaten Bandung terutama di Kecamatan Pacet," kata Dadang.

Ia juga mengaku akan membantu perbaikan jalan setapak yang masih rusak di sekitar jembatan.

"Sementara ini kita bantu secara pribadi dulu lah. Nanti tadi saya sampaikan Rp10 juta untuk Desa Cikitu dan Rp10 juta untuk Desa Sukarame untuk perbaikan jalan setapak," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: TNI Kebut Perbaikan Jembatan Rusak untuk Akses Pelajar di Mamasa"
[Gambas:Video 20detik]
(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads