Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, meninjau lokasi longsor di Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Minggu (25/1/2026).
Menteri Tito datang setelah Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka selesai mengecek lokasi longsor dan upaya evakuasi oleh Tim SAR Gabungan. Tito berdiri di lokasi yang sama dengan Wapres Gibran.
Menteri Tito meminta proses evakuasi terhadap korban yang masih belum ditemukan mesti semaksimal mungkin. Berdasarkan data, sampai Minggu siang sebanyak 16 orang dinyatakan meninggal. Lalu 23 orang selamat, dan 74 lainnya masih belum ditemukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang pertama jangka pendek dulu, semaksimal mungkin untuk mencari korban yang hilang, dibantu keluarganya. Yang direlokasi juga sudah dibantu saya lihat, dari gubernur, bupati, dan lain-lain," kata Tito saat ditemui, Minggu (25/1/2026).
"Kemudian jangka panjang mereka harus direlokasi, dapat tempat yang baik, aman, kerjaan mereka dibantu," imbuhnya.
Berdasarkan kondisinya, Tito mengatakan lokasi longsor tersebut tak boleh ditempati lagi. Lahannya kemudian mesti direboisasi dengan tanaman keras agar struktur tanahnya bisa menguat kembali.
"Kalau kembali akan longsor lagi, ini jadi pelajaran bagi daerah lain, untuk memperkuat tata ruang, daerah rawan ini harus kita petakan, setiap bupati wali kota gubernur, kita petakan secara nasional untuk kota memikirkan potensi kerawanan hidro meteorologi seperti ini hujan lebat, hujan deras," kata Tito.
Tito menyebut tanah di lokasi longsor tersebut gembur dan subur sehingga baik untuk tanaman. Namun di sisi lain, rawan untuk fondasi bangunan karena tanahnya tidak kokoh.
"Ditambah lagi saya lihat daerah perbukitan yang gembur, banyak permukiman, dan tanaman pelindung yang akarnya menancap ke dalam berganti holtikultura, sayuran dan lain-lain sehingga membuat rentan saat hujan deras. Ini mirip seperti di Banjarnegara, Cilacap," kata Tito.
Terkait kemungkinan langkah hukum karena unsur kelalaian atau faktor lainnya, Tito menyatakan hal tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut dan tidak menjadi fokus utama saat ini.
"Kita belum tahu bagaimana tata ruangnya. Itu nanti dulu. Sekarang fokus dulu pada penanganan dan pengamanan," kata Tito.
(dir/dir)
