Apa Itu Resesi Ekonomi dan 5 Hal yang Harus Dipersiapkan

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 14 Jul 2022 16:20 WIB
Ilustrasi tips keuangan atau resesi
IIustrasi resesi ekonomi (Foto: Getty Images/iStockphoto/PRImageFactory)
Bandung -

Bank Dunia memperingatkan resesi ekonomi global sudah di depan mata. Presiden Bank Dunia David Malpass bahkan menyatakan pesimis jika negara-negara di dunia bisa menghindari resesi ini.

Dalam laporan Global Economic Prospect June 2022 (GEP), Bank Dunia menyebutkan tekanan inflasi yang begitu tinggi di banyak negara tak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Pernyataan Bank Dunia ini semakin menambahkan daftar orang-orang yang menyatakan potensi resesi. Wall Street dan bank sentral di seluruh dunia sebelumnya juga telah memperingatkan tentang penurunan ekonomi yang tajam di dunia.


Namun banyak yang belum mengerti apa itu resesi?

Dikutip dari laman ojk.go.id secara sederhana resesi adalah suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara sedang memburuk yang terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang negatif, pengangguran meningkat, maupun pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang pun diprediksi ikut terseret ke dalam jurang resesi akibat inflasi yang terus meningkat.

Dari detikFinance, berdasarkan laporan dari Federal Reserve yang memprediksi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II-2021 menurun.

Pelacak gross domestic product (GDP), GDPNow Fed Atlanta, menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II hanya 0,9%. Sementara pada kuartal sebelumnya ekonomi AS hanya tumbuh 1,5%.

Ancaman resesi itu ditandai dengan keadaan AS yang kewalahan menghadapi tantangan ekonomi pasca pandemi dan perang di Ukraina. Bank sentral terburu-buru menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi yang sebagian didorong oleh dampak perang Ukraina dan pandemi covid-19.

Salah satunya adalah bank sentral AS, The Fed, yang baru-baru ini menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,75 persen. Selain itu, menurut laporan hampir semua jenis komoditas di Amerika mengalami kenaikan harga.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia juga terancam gelombang resesi ekonomi global?

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkap Indonesia masih dibayangi ancaman resesi. Namun berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bloomberg risiko resesi yang akan dihadapi Indonesia terbilang rendah, hanya 3%.

"Survey dari Bloomberg ada negara yang risiko resesinya bisa mencapai di atas 70%. Nah tadi ditanyakan Indonesia ada di ujung bawah tapi tetap ditanyain gitu. Kita (Indonesia) relative dalam situasi yang tadi disebutkan risikonya 3%," katanya dalam konferensi pers di Nusa Dua, Bali, Rabu (13/7/2022).

Meski begitu, Sri Mulyani mengatakan pemerintah tetap waspada dengan potensi resesi itu.

"Ibaratkan negara lainnya potensi untuk mengalami resesi jauh di atas 70%. Ini tidak berarti kita terlena, kita tetap waspada namun pesannya adalah kita tetap akan menggunakan semua instrumen kebijakan kita. Apakah itu fiscal policy, moneter policy di OJK di financial sector dan juga regulasi yang lain untuk memonitor itu terutama regulasi exposure dari korporasi Indonesia," jelasnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih cukup positif sehingga ia yakin Indonesia masih bisa bertahan. Ia pun membandingkan dengan kondisi krisis keuangan 2008.

"Artinya harus belajar dari krisis global 2008, 2009, sektor korporasi, finansial, APBN, moneter, semuanya mencoba memperkuat diri sendiri pada saat hadapi risiko sekarang ini. Kita dalam situasi daya tahan masih lebih baik, makanya disebut rating lebih kecil," tutupnya.

Apa yang harus dipersiapkan untuk meminimalisir dampak resesi?

Persiapan Menghadapi Resesi

Meminimalisir dampak dari kemungkinan resensi ekonomi, kita bisa mempersiapkan kondisi keuangan kita. Berikut ini tipsnya seperti dikutip dari laman ojk.go.id

1. Siapkan dana darurat

Pastikan 20 persen dari dana untuk investasi dialokasikan untuk dana darurat yang disimpan pada instrumen yang sangat likuid dan disiplin mempersiapkannya. Semakin besar proporsi maka akan semakin siap kalian dalam memenuhi kebutuhan di tengah kondisi resesi ekonomi.

Dana darurat ini penting karena bisa saja kamu kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempatmu bekerja tutup atau bangkrut karena resesi.

2. Kurangi keluarga

Mulailah untuk mengurangi dan tidak menambah beban-beban pengeluaran seperti utang. Jika memungkinkan segera lunasi. Jangan anggap enteng utang meskipun hanya dari kartu kredit karena kamu tidak akan tahu kondisi keuanganmu ketika resesi ekonomi menerpa.

3. Lihat portofolio investasimu

Jika kondisi pasar global sudah mulai menurun maka segeralah atur ulang portofolio investasimu ke dalam bentuk yang lebih aman seperti emas.

4. Hidup sederhana
Hiduplah dengan sewajarnya. Tetap lakukan konsumsi seperti biasa karena ini bisa membantu ekonomi tetap tumbuh. Karena konsumsi masyarakat berperan besar pada pertumbuhan ekonomi kita

Kamu juga tetap perlu tetap menyisihkan uang untuk tabungan dan investasi meski tetap mendahulukan kebutuhan. Kurangi pembelian-pembelian sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu diperlukan, apalagi sifatnya hanya kesenangan jangka pendek.

5. Ikuti perkembangan ekonomi
Cermati perkembangan kondisi ekonomi terbaru dan mulailah memanfaatkan peluang di sekitarmu yang dapat bernilai ekonomi. Jangan ragu untuk usaha kecil-kecilan jika dirasa kondisi keuanganmu masih lemah.

Tetap optimis, resesi adalah bagian dari siklus bisnis atau ekonomi. Bagaimanapun kita harus melewatinya dan melakukan recovery secepat mungkin.

(tey/tey)