Kisah Kaum Muslim Menangkan Perang Khadaq dengan Strategi Parit

Kisah Kaum Muslim Menangkan Perang Khadaq dengan Strategi Parit

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Sabtu, 29 Nov 2025 05:00 WIB
Ilustrasi perang, sahabat nabi, pasukan berkuda.
Ilustrasi peperangan (Foto: Vector_Corp/Freepik)
Jakarta -

Perang Khandaq bermula karena dendam Yahudi dari suku bani Nadhir yang terusir oleh pasukan Islam dari Madinah. Pertempuran ini terjadi pada 5 Hijriah bulan Syawal, tepatnya sekitar 627 Masehi.

Dinukil dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah karya H Abu Achmadi dan Sungarso, kala itu kafir Quraisy Makkah terhasut oleh Yahudi untuk memerangi kaum muslimin di Madinah. Akibatnya, tentara musuh dalam perang tersebut mencakup gabungan hingga 10.000 pasukan, padahal kaum muslimin hanya memiliki 3.000 tentara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khandaq tersebut diartikan sebagai parit. Kaum muslimin menggali parit di sekeliling kota Madinah untuk bertahan dari gempuran sekaligus mencegah musuh menerobos Kota Madinah. Strategi parit itu disiasati oleh Salman Al Farisi, salah satu sahabat Rasulullah SAW.

Menurut buku Sejarah Terlengkap Peradaban Islam yang disusun Abul Syukur Al Azizi, ide itu didasari dari kebiasan orang-orang di kampung halamannya, Persia. Pembangunan parit di Persia tersebut menjadi mekanisme pertahanan, utamanya dari pasukan berkuda.

ADVERTISEMENT

Pada zaman tersebut, padahal pembangunan parit tidak dikenal dalam strategi perang Arab. Kebanyakan dari mereka mengenal taktik gerilya, seperti maju, mundur, gempur serta lari.

Meski demikian, Rasulullah SAW tidak mengabaikan usulan dari Salman. Dia bahkan membangun peta penggalian memanjang dari ujung utara hingga selatan.

Setiap sepuluh pasukan diwajibkan menggali parit sepanjang 40 meter. Setelah enam hari, panjang parit yang berhasil digali mencapai 5.544 meter. Pendapat lain menyebut pembangunan parit itu memakan waktu 10 hari.

Perang Khandaq berlangsung dengan sengit. Salah satu tokoh yang menonjol dalam pertempuran ini adalah Ali bin Abi Thalib yang bersikeras menghadapi Amr bin Abdi Wudd, seorang pimpinan musuh dengan kemampuan pedang di luar nalar.

Awalnya, Nabi Muhammad SAW tidak menyetujui karena dia ingin sahabat yang usianya lebih tua dan dianggap sepadan untuk melawan Amr. Tetapi, Ali bin Abi Thalib bersikeras hingga berhasil memenangkan duel pedang dengan Amr bin Abdi Wudd.

Rasulullah SAW sempat ragu karena enggan kehilangan Ali bin Abi Thalib. Sebab, sang nabi sempat kehilangan pamannya, Hamzah ketika Perang Uhud sehingga beliau tidak ingin mengambil resiko.

Keberanian Ali berhasil mengalahkan Amr hingga tewas. Peristiwa itu menjadi titik puncak yang menyebabkan tentara musuh mundur dari lokasi perang, padahal jumlah mereka berbanding terbalik dengan pasukan muslim.

Musuh yang masih bertahan di tenda-tenda tidak bisa memasuki kota Madinah. Bahkan, banyak di antara mereka yang mati kedinginan dan terserang penyakit malaria karena cuaca Kota Madinah kala itu sangat dingin.




(aeb/kri)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads