Pernahkah kalian melihat pesawat terbang di atas Ka'bah? Pastinya tidak. karena ada aturan yang melarang hal tersebut. Kira-kira kenapa ya?
Di media sosial, beredar kabar kalau pesawat sama sekali tidak bisa terbang di atas Ka'bah karena ada medan magnet di sekitar Masjidil Haram. Mangnet tersebut mampu menarik pesawat dan merusak navigasinya.
Bahkan, mitos ini sering dikaitkan dengan alasan mengapa Kota Makkah tidak punya bandara sendiri. Ternyata anggapan tersebut tidak benar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan Makkah Tidak Boleh Dilewati Pesawat
Secara resmi, pemerintah Arab Saudi memang menetapkan wilayah udara Makkah sebagai zona larangan terbang.
Dilansir dari Fact Check AFP, Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) telah mengatur pembatasan penerbangan di sekitar kawasan Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Dalam aturan GACA disebutkan:
"Tidak ada yang boleh mengoperasikan pesawat di atas atau di sekitar wilayah yang akan dikunjungi atau dilalui oleh Penjaga Dua Masjid Suci, atau tokoh penting lainnya, kecuali sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Presiden dan diumumkan melalui Pemberitahuan kepada Penerbang (NOTAM)."
Kebijakan ruang udara ini sengaja dibuat agar jutaan jemaah yang beribadah di Masjidil Haram bisa beribadah dengan tenang, khusyuk, dan aman tanpa terganggu kebisingan suara mesin pesawat.
Bagaimana dengan klaim adanya 'magnet raksasa' di atas Ka'bah?
Dilansir dari Alestiklal, para ahli geofisika menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan adanya anomali magnetik khusus di Makkah yang bisa menghalangi atau membahayakan penerbangan.
Peneliti Institut Fisika Bumi Paris (IPGP), Julien Aubert, menjelaskan bahwa medan magnet bumi berasal dari dalam inti bumi, bukan dari permukaan kota tertentu seperti Makkah.
Peneliti Geomagnetisme, Vincent Lesur, menambahkan bahwa meski ada beberapa tempat di bumi yang memiliki anomali magnetik, para ilmuwan tidak pernah menemukan fenomena khusus di Makkah.
Aubert juga menekankan, seandainya pun ada gangguan magnetik di suatu tempat, hal itu paling banyak hanya memengaruhi kompas analog. Sementara itu, sistem penerbangan pesawat modern sudah menggunakan navigasi canggih berbasis satelit (GPS) dan geolokasi, sehingga tidak akan terganggu.
Selain isu medan magnet, Ka'bah kerap dikaitkan dengan isu Makkah sebagai pusat bumi.
Beberapa riset, seperti yang pernah dilakukan Prof. Hussein Kamal El-Din dari Universitas Kairo saat membuat peta penentu arah kiblat, menunjukkan bahwa Makkah berada di posisi yang sangat sentral terhadap sebaran daratan di bumi. Namun, riset ini bermaksud menunjukkan posisi yang relatif sentral secara metode pemetaan kiblat, bukan berarti Makkah adalah pusat geografis bumi secara harfiah.
Ada juga pengukuran menggunakan Google Earth yang mengaitkan jarak Ka'bah ke Kutub Utara dan Kutub Selatan dengan angka golden ratio (1,618). Meski menarik, penelitian ilmiah geografi mencatat bahwa titik pusat geometris daratan dunia secara pengukuran ilmiah berada di wilayah Çorum, Turki.
Kenapa Tidak Ada Bandara di Makkah?
Alasan mengapa Makkah tidak memiliki bandara sangat logis dan tidak ada hubungannya dengan alasan gaib maupun magnetik. Pemerintah Arab Saudi ingin menjaga Kota Makkah sebagai kawasan suci yang difokuskan sepenuhnya untuk tempat ibadah jemaah haji dan umrah.
Menurut pilot asal Arab Saudi, Hassan Al-Ghamdi, Makkah dikelilingi oleh lanskap pegunungan yang kurang ideal untuk lalu lintas penerbangan komersial berskala besar.
Kebisingan lalu lintas udara (noise pollution) dari gema suara pesawat juga dapat mengganggu kekhusyukan umat Islam yang sedang beribadah.
Oleh karena itu, seluruh penerbangan internasional untuk haji dan umrah dialihkan melalui Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah. Dari Jeddah, para jemaah melanjutkan perjalanan darat menuju Kota Makkah menggunakan bus atau kereta cepat.
