Kisah Fir'aun menjadi salah satu kisah yang banyak disebutkan dalam Al-Qur'an. Beberapa ayat menyebutkan kisah Firaun dan perbuatan zalimnya yang bisa menjadi pelajaran bagi umat Islam masa kini.
Beberapa dalil menyebutkan sosok Fir'aun digambarkan sebagai penguasa yang memiliki kekuasaan besar, tetapi justru menggunakan kekuasaannya untuk menindas manusia dan menolak kebenaran yang disampaikan Nabi Musa AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah Fir'aun bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Al-Qur'an mengabadikannya sebagai pelajaran bagi manusia agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Dirangkum dari buku Imannya Fir'aun yang ditulis Eko Setyo Budi, berikut lima pelajaran penting dari kisah Fir'aun yang diabadikan dalam Al-Qur'an.
1. Kesombongan Dapat Membawa kepada Kebinasaan
Salah satu sifat paling menonjol dari Fir'aun adalah kesombongannya. Ia tidak hanya menolak dakwah Nabi Musa AS, tetapi juga menganggap dirinya memiliki kedudukan yang sangat tinggi hingga berani mengklaim dirinya sebagai tuhan.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nazi'at ayat 24,
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
Artinya: "Lalu dia berkata, 'Akulah tuhanmu yang paling tinggi.'"
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, pernyataan tersebut menunjukkan puncak kesombongan Fir'aun. Kekuasaan yang dimilikinya membuatnya melampaui batas dan tidak mau tunduk kepada kebenaran.
2. Kekuasaan Tidak Boleh Digunakan untuk Menindas
Fir'aun tidak hanya dikenal karena kesombongannya. Ia juga menggunakan kekuasaannya untuk melakukan penindasan terhadap Bani Israil.
Allah SWT menggambarkan tindakan Fir'aun dalam Al-Qur'an Surah Al-Qashash ayat 4,
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَآئِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَآءَهُمْ وَيَسْتَحْىِۦ نِسَآءَهُمْ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ
Artinya: "Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan."
Ayat tersebut memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat menjadi alat kezaliman ketika tidak disertai keadilan.
Fir'aun membagi masyarakat ke dalam kelompok-kelompok dan melemahkan sebagian dari mereka. Bani Israil menjadi kelompok yang ditindas, bahkan anak laki-laki mereka dibunuh.
3. Jangan Menolak Kebenaran karena Kesombongan
Nabi Musa AS datang kepada Fir'aun membawa bukti-bukti kekuasaan Allah SWT. Namun, Fir'aun tetap menolak dan menganggap mukjizat yang dibawa Nabi Musa AS sebagai sihir.
Salah satu dialog tersebut diabadikan dalam Al-Qur'an.
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَآ اَنْزَلَ هٰٓؤُلَاۤءِ اِلَّا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ بَصَاۤىِٕرَۚ وَاِنِّيْ لَاَظُنُّكَ يٰفِرْعَوْنُ مَثْبُوْرًا
Artinya: "Dia (Musa) menjawab, "Sungguh, engkau benar-benar telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa engkau, wahai Fir'aun, terlaknat." (QS Al-Isra': 102)
Dalam Tafsir Tahili dijelaskan, Musa AS mengatakan kepada Fir'aun sesungguhnya Fir'aun telah mengetahui bahwa yang menurunkan ayat-ayat ini adalah Tuhan yang memiliki langit dan bumi. Hal itu dijelaskan Nabi Musa AS sebagai bukti dan keterangan bahwa yang diserukannya itu adalah suatu kebenaran. Hanya orang yang bersih hatinya yang dapat menerima seruan tersebut.
4. Jangan Meremehkan Orang yang Lemah
Fir'aun memiliki kekuatan militer dan kekuasaan yang besar. Ia merasa mampu mempertahankan kekuasaannya dengan menekan orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya.
Namun, Al-Qur'an justru menunjukkan bahwa orang-orang yang dianggap lemah oleh Fir'aun kemudian mendapatkan pertolongan Allah SWT.
Dalam Surah Al-Qashash ayat 5, Allah SWT berfirman,
وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسْتُضْعِفُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ ٱلْوَٰرِثِينَ
Artinya: "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)."
5. Harta dan Kekuasaan Tidak Dapat Menyelamatkan dari Azab Allah
Fir'aun memiliki kerajaan, pasukan, kekuasaan, dan berbagai fasilitas duniawi. Namun semua itu tidak mampu menyelamatkannya ketika azab Allah SWT datang.
Puncak kisah Fir'aun terjadi ketika ia mengejar Nabi Musa AS dan Bani Israil hingga ke laut. Dengan izin Allah SWT, laut terbelah dan Nabi Musa AS bersama pengikutnya dapat melintas.
Ketika Fir'aun dan pasukannya mengejar, laut kembali seperti semula sehingga mereka tenggelam.
Dalam keadaan akan tenggelam, Fir'aun akhirnya mengakui keimanannya.
Termaktub dalam Surah Yunus ayat 90,
۞ وَجَٰوَزْنَا بِبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱلْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُۥ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَدْرَكَهُ ٱلْغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِىٓ ءَامَنَتْ بِهِۦ بَنُوٓا۟ إِسْرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
Artinya: Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".
Namun, pengakuan tersebut datang ketika ia sudah berada dalam kondisi yang sangat kritis.
Allah SWT kemudian berfirman dalam Surah Yunus ayat 91,
ءَآلْـَٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ
Artinya: "Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan."
Tafsir Ibnu Katsir menuliskan penjelasan tentang ayat ini, Fir'aun beriman ketika hal itu tidak bermanfaat baginya, (Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, "Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami mempersekutukan(nya) dengan Allah." Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.
