Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) terus mendorong percepatan sertifikasi halal bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Hal ini sejalan dengan implementasi Wajib Halal 2026 yang berlaku penuh pada 18 Oktober 2026.
Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan menuturkan sektor halal menyumbang sekitar 27 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Dia menilai sektor halal memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional.
"Halal secara perlahan dan pasti semakin hari semakin dilirik. Kontribusi kita terhadap PDB itu 27,34 persen. Keren, keren banget, seperempat lebih," katanya dalam Media Gathering yang digelar di Jakarta, Senin (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau begitu, pria yang akrab disapa Babe Haikal tersebut menuturkan jumlah pelaku yang sudah memilii sertifikasi halal masih perlu ditingkatkan. Dari sekitar 60 juta pelaku usaha di Indonesia, baru sebagian yang masuk dalam sistem sertifikasi halal.
"Percepatan sertifikasi halal menjadi penting agar pelaku usaha, terutama UMKM, dapat meningkatkan daya saing sekaligus memberikan kepastian kepada konsumen," tegasnya.
Babe Haikal menjelaskan, pemerintah sudah melakukan berbagai langkah percepatan lewat kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, serta penguatan kampanye literasi halal kepada masyarakat. Ia optimis kesadaran konsumen menjadi faktor pendorong utama dalam memperluas penerapan sertifikasi halal di Indonesia.
"Hukum sosial akan bekerja. Produk yang tidak memiliki sertifikasi halal pada akhirnya akan ditinggalkan konsumen," ungkapnya.
Menurut penuturan Babe Haikal, posisi Indonesia saat ini di industri halal menunjukkan peningkatan. Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy Report 2024/25, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam ekosistem industri halal yang berada di bawah Malaysia dan Arab Saudi.
"Pencapaian tersebut didorong oleh pertumbuhan industri halal nasional yang kuat, peningkatan skor indeks hingga 19,8 poin, serta keunggulan Indonesia di sektor modest fashion yang menempati peringkat pertama dunia. Selain itu, sektor makanan dan kosmetik halal juga menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan," pungkasnya.
(aeb/inf)












































Komentar Terbanyak
Polling: Kemenhaj Wacanakan 'War Tiket' untuk Berangkat Haji, Kamu Setuju?
Diskusi Seru DPR dan Kemenhaj soal Strategi Pangkas Antrean Jemaah Haji
Tutup Kekurangan Biaya Haji Rp 1,77 T, Menhaj: Kami Masih Diskusi dengan DPR