Di tengah kepungan gedung-gedung pencakar langit Jakarta, berdiri kokoh sebuah masjid tua yang menyimpan jejak sejarah. Usianya hampir memasuki 3 abad yakni 279 tahun. Adalah Masjid Hidayatullah. Masjid ini diperkirakan berdiri pada 1747.
Pengurus Masjid Hidayatullah, M Thohir, menyebut, penetapan usia Masjid Hidayatullah berdasarkan penelitian Dinas Kebudayaan Jakarta. Hal itu dilihat dari aspek bangunan, ubin, hingga mimbar masjid.
"Memang Masjid Hidayatullah ini salah satu masjid tertua di daerah Jakarta. Diperkirakan berdiri tahun 1747," kata Thohir saat ditemui detikcom, Selasa (17/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasinya berada di Karet Semanggi, Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan. Masjid ini merupakan wakaf dari seorang Bugis Makassar Betawi bernama Syekh Muhammad Yusuf.
Kala itu, tanah seluas sekitar 3.000 meter persegi dihibahkan untuk dijadikan masjid. Awalnya, bangunan masjid hanya berada di bagian belakang, sementara area lain difungsikan sebagai tempat wudhu, sumur, hingga aula pengurus.
Namun, seiring perkembangan kota, luas lahan masjid kini menyusut menjadi sekitar 1.500 meter persegi. Penyusutan terjadi akibat pelebaran Kali Krukut dan pembangunan jalan inspeksi. Tak hanya itu, ribuan makam di sekitar masjid juga sempat dipindahkan.
"Kurang lebih hampir 1.500 makam harus diangkat dan dipindahkan. Ada yang dipindahkan ke lokasi sekarang, ada juga ke tempat lain," ujar Thohir.
Meski demikian, bentuk bangunan utama masjid disebut masih mempertahankan keaslian sejak pertama kali berdiri. Renovasi hanya dilakukan untuk perbaikan bagian kayu yang lapuk.
Masjid Hidayatullah Karet Semanggi (Foto: Weka Kanaka/detikcom) |
Tercatat, Masjid Hidayatullah telah direnovasi sebanyak empat kali, yakni pada 2 Februari 1921, 2 Februari 1948, tahun 1998, dan terakhir pada 2013.
Jejak sejarah itu juga terlihat jelas di mimbar khatib Jumat yang memuat tulisan Arab Melayu. Tulisan tersebut menjadi penanda renovasi pada 1921 dan 1948, sekaligus bukti keberadaan masjid sejak masa lampau.
Dari sisi arsitektur, Masjid Hidayatullah mencerminkan perpaduan tiga kebudayaan, yakni Betawi, Tionghoa, dan Hindu. Ciri Betawi tampak pada jendela dan pintu, atap masjid bergaya Tionghoa, sementara unsur Hindu terlihat pada dua menara kembar dengan ornamen bunga Kamboja.
"Bahkan di mimbar juga ada tiga kebudayaan itu sekaligus," tutur Thohir.
Berdiri di kawasan strategis, masjid ini sempat menghadapi ancaman penggusuran. Baik dari ambisi pengembang maupun wacana pemindahan oleh pihak tertentu. Namun, para pengurus yang memahami betul sejarah masjid bersikukuh mempertahankannya.
"Alhamdulillah, dengan izin Allah dan doa umat Islam, masjid ini bisa kita pertahankan. Mudah-mudahan dari awal sampai hari kiamat tetap berada di tempatnya," kata Thohir.
Upaya pelestarian itu akhirnya berbuah pengakuan resmi. Masjid Hidayatullah kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Pertama oleh Dinas Kebudayaan, dan yang terbaru oleh Gubernur DKI Jakarta pada 2025.
Masjid Hidayatullah Karet Semanggi (Foto: Weka Kanaka/detikcom) |
Sisi menarik lainnya dari Masjid Hidayatullah adalah keberadaan makam di sekitar area masjid. Hal ini membuat momen Ramadan, Idul Fitri, hingga Idul Adha selalu diramaikan oleh para peziarah.
"Keluarga yang makamnya ada di sekitar sini datang berziarah. Mereka merasa ada keluarganya yang harus dikunjungi dan didoakan. Ini jadi pengingat bagi mereka bahwa suatu saat kita pun akan seperti itu (meninggal dunia)," pungkas Thohir.
(hnh/inf)














































Komentar Terbanyak
Eks Menag Kritik Rencana War Tiket Haji Kemenhaj
Kemenhaj Wacanakan War Tiket Jadi Mekanisme Naik Haji Tanpa Antre
Prabowo Ingin Hapus Antrean Haji, Kemenhaj Kaji Sistem "War Ticket"