Kehadiran Masjid Al Ikhlas di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) menjadi oase spiritual baru bagi masyarakat sekitar. Tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga tampil mencolok dengan arsitektur klasik bergaya Timur Tengah yang terinspirasi dari masjid-masjid di Turki era Ottoman.
Masjid Al Ikhlas PIK merupakan bagian dari komitmen pengembang kawasan dalam menyediakan fasilitas keagamaan yang representatif, nyaman, sekaligus memiliki nilai estetika tinggi.
Masjid Al Ikhlas PIK Foto: Devi Setya/detik.com |
Mengusung Konsep Klasik Ottoman ala Turki
Konsep pembangunan Masjid Al Ikhlas PIK lahir dari gagasan manajemen puncak Agung Sedayu Group (ASG). Perencanaan hingga desain masjid ditangani secara khusus oleh divisi Perencanaan dan Desain internal ASG, termasuk penggunaan arsitek dari lingkungan perusahaan sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Arsitekturnya mengusung gaya klasik yang terinspirasi dari Ottoman Timur Tengah. Kalau masyarakat awam mungkin lebih mudah menyebutnya sebagai gaya masjid Turki," ujar Eka Agus selaku Ketua DKM Masjid Al Ikhlas PIK saat ditemui detikHikmah.
Luas Masjid dan Kapasitas Jemaah
Masjid Al Ikhlas PIK berdiri di atas lahan seluas 2.435 meter persegi, dengan luas bangunan utama sekitar 1.200 meter persegi. Proporsi ini membuat masjid tampak megah, namun tetap menyatu dengan lanskap kawasan sekitarnya.
Selain ruang utama salat, masjid juga dilengkapi area plaza dan halaman yang cukup luas, yang terbukti sangat fungsional saat jumlah jamaah membludak.
Secara desain, kapasitas ideal Masjid Al Ikhlas PIK berada di kisaran 600 jamaah di dalam ruang utama.
Menariknya, sejak diresmikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar pada pertengahan Januari 2026 dan mulai rutin menggelar salat Jumat, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Pada pelaksanaan salat Jumat ketiga pasca peresmian, jumlah jamaah tercatat mencapai lebih dari 1.000 orang.
"Kalau kapasitas di dalam itu kan 600, tapi kalau ya sedikit-sedikit dirapikan mungkin 700. Namun kejadian kemarin itu sampai 1.086 jamaah, sehingga jamaah meluber ke plaza, ke halaman," jelas Eka Agus.
Ciri Khas Arsitektur: Kubah, Menara, dan Ornamen Elegan
Masjid Al Ikhlas PIK memiliki sejumlah elemen khas yang memperkuat identitas arsitektur Timur Tengah.
Ciri paling menonjol adalah kubah utama yang menjadi titik fokus bangunan. Kubah ini memiliki ukuran sangat besar dan berada tepat di bagian tengah masjid.
Selain kubah, terdapat pula dua menara yang berdiri anggun di sisi masjid. Kubah dan menara ini merupakan elemen klasik masjid-masjid Timur Tengah, khususnya di kawasan Turki dan wilayah Ottoman.
Pada bagian dalam kubah terdapat kaligrafi surat Al-Ikhlas berkelir emas yang mengitari pinggir kubah.
Selain itu, interior dan eksterior masjid dihiasi ornamen geometris berbentuk segi enam yang tertanam rapi pada dinding-dinding bangunan. Ornamen ini tidak hanya memperindah visual, tetapi juga mencerminkan kekayaan seni Islam klasik.
"Lalu dari sisi lain adalah warna. Di sini kebanyakan warna yang digunakan adalah warna emas begitulah ya, yang melambangkan keagungan," tambah Eka Agus.
Hal yang juga menjadi perhatian jemaah adalah ruang wudhu dan toilet yang elegan layaknya hotel berbintang. Fasilitas toilet dilengkapi dengan pendingin udara serta memiliki area toilet khusus disabilitas.
Sementara di area wudhu tak kalah mewah, kran air di masjid ini hadir dengan desain mewah. Kran yang bentuknya berbeda dari kebanyakan kran air di masjid lain. Kran logam dengan bahan emas ini sukses menarik perhatian jemaah.
Pohon Kurma sebagai Sentuhan Timur Tengah
Di bagian depan masjid, berdiri delapan pohon kurma yang menambah kesan Timur Tengah. Menurut Eka Agus, keberadaan pohon kurma tersebut lebih bersifat simbolis, bukan dikaitkan dengan makna tertentu.
"Karena konsep masjid ini terinspirasi Timur Tengah, pohon kurma jadi elemen yang pas. Apalagi kawasan ini panas dan pesisir, jadi cocok juga sebagai peneduh," jelasnya.
Pengunjung Membludak
Pengelola Masjid Al Ikhlas PIK mengaku tidak menyangka antusiasme masyarakat begitu besar. Informasi tentang Masjid Al Ikhlas menyebar secara alami dari mulut ke mulut hingga media sosial.
"Kami tidak pernah menyuruh atau meminta untuk diviralkan. Tapi dengan sendirinya informasi itu menyambung, banyak yang datang ingin membuktikan langsung," ujar Eka Agus.
"Harapan kami, jamaah datang pertama kali lalu suatu saat ingin datang lagi, bahkan kalau bisa dirutinkan," sambungnya.
Antusiasme jamaah tidak hanya datang dari wilayah sekitar PIK. Eka Agus mengungkapkan, sejumlah pengunjung datang dari luar kota bahkan luar negeri.
"Ada jamaah dari Malaysia, sudah dua kali datang. Kami tanya, memang sengaja? Mereka jawab sengaja. Katanya dekat, cuma dua jam," ungkapnya.
Selain itu, rombongan jamaah juga datang dari Padang, Sumatra Barat, Sidoarjo, Jawa Timur, hingga Sukabumi, Jawa Barat. Bahkan, hingga larut malam masih ada jamaah yang datang untuk melihat langsung dan menunaikan ibadah di masjid ini.
Lonjakan Jamaah Jadi Tantangan Pengelola
Ramainya jamaah yang datang di luar perkiraan menjadi tantangan tersendiri bagi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Namun pengelola menegaskan kesiapan mereka untuk melayani jamaah dalam kondisi apa pun.
"Sebagai pengurus DKM, kami harus siap. Mau jamaah sedikit atau banyak, itu bagian dari berkhidmat kepada umat," tegas Eka Agus.
Pengelolaan kebersihan, ketertiban, dan keamanan menjadi prioritas. Untuk memastikan kenyamanan jamaah, pihak masjid menyiapkan petugas keamanan khusus yang berjaga, di luar sistem keamanan kawasan Riverwalk PIK yang sudah berjalan siang dan malam.
Pengelola juga memastikan keamanan jamaah, termasuk kendaraan dan alas kaki, agar jamaah dapat beribadah dengan tenang.
Ke depan, Eka Agus berharap Masjid Al Ikhlas PIK dapat terus dimakmurkan oleh jamaah dan menjadi milik bersama umat, bukan sekadar bangunan fisik.
"Masjid ini bukan milik perorangan. Sudah menjadi milik umat," tutupnya.
(dvs/lus)













































Komentar Terbanyak
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, MUI: Kehancuran bagi AS-Israel
Kisah Turunnya Malaikat yang Menjabat Tangan Manusia di Malam Lailatul Qadar
Perkiraan Lebaran 2026 Menurut NU, Muhammadiyah, Pemerintah, BMKG dan BRIN