Nisfu Syaban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Imam al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin mengatakan umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada malam tersebut. Salah satunya dengan sholat hajat.
Malam Nisfu Syaban juga menjadi salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Sayyidina Ali, Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا يَوْمَهَا، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ، أَلَا مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقَهُ، أَلَا مِنْ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ، أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطَّلِعَ الْفَجْرَ
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya: "Ketika malam Nisfu Syaban tiba, maka beribadahlah di malam harinya dan puasalah di siang harinya. Sebab, sungguh (rahmat) Allah turun ke langit dunia saat tenggelamnya matahari. Kemudian Ia berfirman, 'Ingatlah orang yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku ampuni, ingatlah orang yang meminta rezeki kepada-Ku maka Aku beri rezeki, ingatlah orang yang meminta kesehatan kepada-Ku maka Aku beri kesehatan, ingatlah begini, ingatlah begini, sehingga fajar tiba'."
Hadits di atas dinukil dari buku Keutamaan dan Ibadah Malam Nisfu Syaban oleh Muhammad Juriyanto. Maka itu, umat Islam dapat memanfaatkan waktu tersebut dengan melaksanakan sholat hajat. Lantas bagaimana bacaan niat dan tata cara sholat hajat yang benar? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Sholat Hajat?
Dijelaskan dalam buku Perbaiki Sholatmu Niscaya Allah akan Perbaiki Hidupmu oleh Idris bin Umar, sholat hajat adalah sholat sunnah yang dikerjakan ketika memiliki hajat (keinginan, kebutuhan, atau kepentingan) yang mendesak dan memohon agar Allah SWT mengabulkannya dan memberikan jalan.
Sholat hajat pada hakikatnya dapat dilakukan kapan saja. Namun, terdapat waktu utama yaitu pada sepertiga malam terakhir, atau sekitar pukul 01.00 hingga menjelang waktu sholat Subuh. Waktu tersebut dianggap mustajab untuk memanjatkan doa.
Mengenai hal tersebut, dijelaskan dalam salah satu hadits berikut:
"Malam manakah yang paling didengar (dikabulkan oleh Allah SWT)? Rasulullah SAW bersabda, 'Pada tengah malam'." (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فاسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
Artinya: "Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman, 'Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku-kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Ku-berikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Ku-ampuni." (HR Bukhari dan Muslim)
Bacaan Niat Sholat Hajat
Sebelum melakukan sholat hajat, alangkah baiknya untuk mengukuhkan niat terlebih dahulu. Dikutip dari laman resmi Kemenag, berikut bacaan niat sholat hajat:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatal hâjati rak'ataini adâʻan lillâhi ta âlâ.
Artinya: "Aku berniat sholat sunnah hajat dua rakaat tunai karena Allah SWT."
Tata Cara Sholat Hajat
Masih dikutip dari sumber sebelumnya, sholat hajat dapat dilakukan 2 hingga 12 rakaat dengan setiap 2 rakaat salam. Cara melakukannya sama dengan sholat sunnah pada umumnya, yang membedakan hanyalah niat dan doanya saja. Berikut tata cara sholat hajat:
- Membaca niat sholat hajat
- Takbiratul ihram
- Membaca doa iftitah
- Membaca surah Al-Fatihah
- Membaca salah satu surah dalam Al-Qur'an
- Rukuk
- I'tidal
- Sujud
- Duduk di antara dua sujud
- Sujud kedua
- Berdiri dan lakukan rakaat kedua seperti rakaat pertama sampai sujud kedua
- Tasyahud akhir
- Salam
Doa Setelah Sholat Hajat
Umat Islam dapat memanjatkan doa setelah sholat hajat. Berikut bacaan doanya:
سُبْحَانَ الَّذِي لَبِسَ العِزَّ وَقَالَ بِهِ سُبْحَانَ الَّذِي تَعَطَّفَ بِالْمَجْدِ وَتَكَرَّمَ بِهِ، سُبْحَانَ ذِي الْعِزَّ وَالْكَرَمِ سُبْحَانَ ذِي الطَّوْلِ أَسْأَلُكَ بِمَعَاقِدِ العِزّ مِنْ عَرْشِكَ وَمُنْتَهَى الرَّحْمَةِ مِنْ كِتَابِكَ وَبِاسْمِكَ الْأَعْظَمِ وَجَدَكَ الْأَعْلَى وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ العَامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بِرٌ وَلَا فَاجِرٌ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Subhânal-ladzî labisal-'izza wa qâla bihi. Subhânal-ladzî taʻaththafa bil-majdi wa takarrama bihi. Subhâna dzil-'izzi wal-kirami, subhâna dzith-thauli as'aluka bimu'âqidil-'izzi min 'arsyika wa muntahar-rahmati min kitâbika wa bismikal-a'dhami wa jaddikal-aʻla wa kalimâtikat-tâmmâtil-'âmmâtil-latî lâ yujâwizuhunna birrun wa lâ fâjirun an tushalliya 'ala sayyidinâ Muhammadin wa 'ala âli sayyidinâ Muhammadin.
Artinya: "Maha Suci dzat yang mengenakan keagungan dan berkata dengannya. Maha Suci dzat yang menaruh iba dan menjadi mulia karenanya. Maha Suci dzat pemilik keagungan dan kemuliaan. Maha Suci dzat pemilik karunia. Aku memohon kepada-Mu agar bersholawat untuk Sayyidina Muhammad dan keluarganya dengan garis-garis luar mulia Arasy-Mu, puncak rahmat kitab-Mu, dan dengan nama-Mu yang sangat agung, kemuliaan-Mu yang tinggi, kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dan umum yang tidak dapat dilampaui oleh hamba yang taat dan durjana."
Setelah selesai membaca doa di atas, dapat dilanjut dengan membaca doa Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:
لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الحَلِيمُ الكَرِيمُ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ العَلِيُّ العَظِيمُ سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Lâ ilaha illallâhul-halîmul-karîmu, lâ ilaha illallâhul-'aliyyul-adhîmu subhanallâhi rabbil-'arsyil-'adhîmi wal-hamdulillâhi rabbil-'alamîna.
Artinya: "Tiada Tuhan selain Allah yang santun dan pemurah. Tiada Tuhan selain Allah yang maha tinggi dan agung. Maha Suci Allah, Tuhan Arasy yang megah. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam."
Bagi yang memiliki hajat tertentu, dapat melanjutkan dengan membaca doa Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Imam At-Tirmidzi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرّ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ لَا تَدَعْ لِيْ ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمَّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضى إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Allâhumma innî as'aluka mûjibâti rahmatika, wa 'azâ'ima maghfiratika, wal-ghanîmata min kulli birrin, was-salâmata min kulli itsmin lâ tadaʻ lî dzanban illâ ghafartahu, wa lâ hamman illâ farrajtahu, wa lâ hâjatan hiya laka ridlan illâ qadlaitahâ yâ arhamar-râhimîna.
Artinya: "Tiada Tuhan selain Allah yang maha lembut dan maha mulia. Maha suci Allah, penjaga Arasy yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Aku mohon kepada-Mu bimbingan amal sesuai rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, kesempatan meraih sebanyak kebaikan, dan perlindungan dari segala dosa. Janganlah Kau biarkan satu dosa tersisa padaku, tetapi ampunilah. Jangan juga Kau tinggalkanku dalam keadaan bimbang, karenanya bebaskanlah. Jangan pula Kau terlantarkan aku yang sedang berhajat sesuai ridha-Mu karena itu penuhilah hajatku. Hai Tuhan yang maha pengasih."
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Kata-kata Nisfu Syaban 2026 Singkat Penuh Doa, Harapan, dan Ampunan
Hukum Mengambil Barang Temuan di Jalan yang Tidak Diketahui Pemiliknya
Bolehkah Puasa Tanpa Sahur? Ini Penjelasan dan Hukumnya