Memasuki bulan Syaban, perhatian umat Islam mulai tertuju pada satu momentum istimewa di dalam bulan tersebut, yaitu Nisfu Syaban. Dikutip dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali yang diterjemahkan oleh Purwanto, Nisfu Syaban termasuk malam yang memiliki keutamaan.
Malam Nisfu Syaban sering kali dihidupkan dengan berbagai amalan. Namun, penting untuk memahami bagaimana kedudukan malam ini dalam Islam. Apakah ada amalan khusus, atau sebagai umat Islam cukup meningkatkan kualitas ibadah yang umum dilakukan? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Nisfu Syaban?
Dikutip dari Jurnal Institut Agama Islam Negeri Jember berjudul Tradisi Nisfu Syaban di Pondok Pesantren Bintang Sembilan Dukuh Dempok Jember oleh Umi Latifatun Nihayah, Nisfu Syaban adalah kata majemuk bahasa Arab, yaitu 'Nisfu' dan 'Sya'ban'. Kata Nisfu berasal dari kata nashafa, yanshifu, nashfan yang berarti mencapai tengah-tengah atau setengah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan Sya'ban berarti bulan Syaban, atau bulan ke-8 tahun Hijriah. Jadi Nisfu Syaban dapat diartikan sebagai pertengahan atau tengah-tengah bulan Syaban dalam kalender Hijriah.
Kapan Nisfu Syaban?
Merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang dirilis oleh Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI, Nisfu Syaban atau hari ke-15 di bulan Syaban, jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026. Karena pergantian hari dalam kalender Islam terjadi saat matahari terbenam, maka malam Nisfu Syaban sudah dapat diperingati sejak Senin, 2 Februari 2026, selepas waktu Magrib atau Isya.
Hukum Keutamaan Nisfu Syaban
Dikutip dari buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan karya Abu Maryam Kautsar Amru, para ulama memiliki pandangan yang berbeda mengenai keutamaan malam Nisfu Syaban. Hal ini disebabkan oleh banyaknya hadits lemah dan palsu yang beredar terkait keutamaan malam tersebut.
Walaupun demikian, terdapat satu hadits berderajat hasan yang menjadi dasar adanya keutamaan Nisfu Syaban, berikut haditsnya:
Dari Abu Musa Al-Asy'ari, dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan." (HR Ibnu Majah dan dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).
Al-Hafizh Abu Syamah dalam Al-Ba'its 'ala Inkaril Bida, menegaskan pandangan para Ulama hadits dan kritik perawi bahwa tidak ditemukan satupun hadits berstatus shahih yang secara khusus membahas keutamaan malam Nisfu Syaban.
Senada dengan hal itu, Al-Aqili dalam Adh Dhu'afa' menilai bahwa riwayat mengenai turunnya Allah SWT pada malam tersebut bersifat lemah dan menuai kritikan. Beliau menekankan bahwa kehadiran Allah SWT di langit dunia terjadi setiap malam berdasarkan berbagai hadis sahih, sehingga Nisfu Syaban tetap memiliki kemuliaan sebagaimana malam-malam lainnya secara umum.
Pendapat tersebut didasarkan pada sabda Rasulullah SAW,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرِ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَاسْتَجِيْبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأَعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
Artinya: "Rabb kita Allah SWT turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, seraya berkata: 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku memperkenankan doanya, siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku memberinya, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku mengampuninya'." (HR Bukhari dan Muslim).
Amalan Nisfu Syaban
Pada dasarnya, tidak terdapat amalan khusus yang dapat dilakukan pada malam Nisfu Syaban. Meski begitu, umat Islam dapat melakukan amalan seperti pada malam-malam lainnya. Berikut amalan yang dapat dilakukan untuk menghidupkan malam Nisfu Syaban:
1. Sholat Qiyamul Lail
Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk melaksanakan sholat qiyamul lail, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an surah Al-Isra' ayat 79:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
Artinya: "Pada sebagian malam lakukanlah sholat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Keutamaan sholat malam juga disebutkan dalam hadits, sebagaimana dikutip dalam kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ} أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.
Artinya: "Dan dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, 'Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam'." (HR Muslim dalam Shahih Muslim)
2. Membaca Al-Qur'an
Sebagian ulama salaf mengatakan, dari Anas bin Malik, beliau berkata, "Adapun kaum Muslimin ketika memasuki bulan Syaban, maka mereka menuju kepada mushaf-mushaf (Al-Qur'an) untuk membacanya. Mereka mengeluarkan zakat dari harta mereka, guna diberikan kepada orang yang miskin dan tidak mampu agar kuat berpuasa di bulan Ramadan."
Hadits di atas diriwayatkan berdasarkan sanad yang dhaif. Meski begitu, umat Islam dapat membaca Al-Qur'an pada malam Nisfu Syaban seperti pada malam-malam lainnya, tanpa mengkhususkan malam tersebut.
3. Membaca Doa
Dalam kitab Maslakul Akhyar karya Syekh Sayyid Utsman bin Yahya terdapat doa yang dibaca pada malam Nisfu Syaban, berikut bacaan doanya sebagaimana dinukil dari laman MUI,
اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِينَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُومِيْنَ أَوْ مُقَتَرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقَّاوَتِيْ وَحِرْمَانِي وَافْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفِّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ: يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu 'alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in'ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma'manal khā'ifin. Allāhumma in kunta katabtanī 'indaka fii ummil kitābi asyqiyā'a au mahrūmīna au muqattarīna 'alayya fir rizqi, famhullāhumma fii ummil kitābi syaqāwatī, wa hirmānī waqtitāra rizqī, waktubnī 'indaka su'adā'a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fii kitābikal munzali 'ala lisāni nabiyyikal mursali "Yamhullāhu mā yasyā'u wa yutsbitu wa 'indahū ummul kitāb." Wa shallallahu 'alā sayyidinā Muhammadin wa 'alā ālihī wa shahbihi wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil 'ālamīn.
Artinya: "Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatat ku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufik untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, 'Allah menghapus dan menetapkan apa yang ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.' Semoga Allah memberikan sholawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, serta sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Israel Kembali Serang Gaza setelah Gabung Dewan Perdamaian, 31 Warga Tewas
Kerjanya Meletihkan, Honor Petugas Haji 2026 Bisa Tembus Rp1 Juta per Hari
Anjuran Mempertahankan Nyawa dan Harta dalam Islam