Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menggencarkan edukasi kepada jemaah haji Indonesia di Makkah. Fokusnya tak hanya pada manasik haji, tetapi juga hal-hal teknis seperti kesehatan hingga pembayaran dam yang kerap menjadi pertanyaan utama jemaah.
Pelaksana Bimbingan dan Ibadah (Bimbad) Daker Makkah, Abdul Aziz Siswanto, mengatakan pihaknya telah melakukan visitasi ke sejumlah sektor tempat jemaah Indonesia bermukim, salah satunya di Hotel Lulua Al Mashaer, Sektor 4.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah sudah melaksanakan visitasi ke Sektor 4. Kemudian, Alhamdulillah jemaah juga antusias untuk mengikuti kegiatan visitasi ini," ujarnya, ditemui usai kegiatan visitasi dan edukasi kepada jemaah di Hotel Lulua Al Mashaer, Selasa (5/5/2026).
Dalam kegiatan tersebut, jemaah diberikan edukasi menyeluruh, mulai dari fikih haji hingga aspek kesehatan sebagai penunjang ibadah. Aziz menegaskan bahwa Makkah menjadi pusat utama seluruh rangkaian ibadah haji, sehingga pemahaman manasik menjadi sangat penting bagi jemaah.
"Seluruhnya rangkaian haji nanti ada di Makkah, baik itu dari mulai wukufnya, kemudian sai-nya, kemudian tawaf-nya, semuanya ada di sini. Sehingga penting kita mengedukasi seluruh jemaah agar mereka menguasai bimbingan manasik haji. Dari mana mereka memulai, ke mana mereka akan berakhir, dan di mana mereka akan selesai," urainya.
Dalam sesi konsultasi, Aziz menyebut topik yang paling sering ditanyakan jemaah adalah terkait dam, terutama karena berkaitan dengan biaya. Menurutnya, perbedaan harga hewan dam antara Indonesia dan Arab Saudi menjadi salah satu alasan banyaknya pertanyaan dari jemaah.
"Kalau kami di Jawa, di Bogor, ah itu mah murah cuma 3 juta, di Arab jadi 5 juta," kata Aziz mencontohkan pertanyaan jemaah.
Untuk memudahkan jemaah, PPIH menyiapkan sistem pembayaran dam yang lebih aman tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah besar. Sebagai solusi, pembayaran akan dilakukan dengan sistem jemput bola bekerja sama dengan pihak perbankan dan penyedia layanan resmi.
"Maka nanti dengan sistem jemput bola, Alhamdulillah mudah-mudahan ter-cover semuanya," jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, pembayaran dam tidak dilakukan secara individu, melainkan melalui pendataan berjenjang dari ketua regu hingga ketua rombongan. Aziz menambahkan, validasi data menjadi kunci agar proses pembayaran berjalan lancar dan sesuai dengan identitas jemaah.
"Input datanya ini harus benar-benar valid. Mudah-mudahan dengan data nusuknya ini, dengan barcode-nya akan semuanya sudah sinkron," ujarnya.
Terkait batas waktu pembayaran, Aziz menjelaskan bahwa secara fikih, dam dapat dibayarkan selama jemaah masih berada di Tanah Suci. Namun secara teknis, pelaksanaannya tetap mengikuti ketentuan yang ditetapkan.
"Kalau secara fikih sih, yang penting mereka belum pulang ke Indonesia. Cuma kan ini nanti akan terbatasi kemampuan Adahi (lembaga penyaluran dam yang ditunjuk), daya serapnya sampai kapan," pungkasnya.
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Anggaran Sewa Laptop & Meja Disebut Terlalu Besar, Kemenag: Ini Jauh Lebih Efisien
MUI Kecam Pimpinan Ponpes di Pati yang Perkosa Santriwati: Perbuatan Terkutuk!
Pemerkosa 50 Santriwati di Pati Ditangkap!