Distrik Sekolah Terpadu Los Angeles (LAUSD), Amerika Serikat telah memberlakukan moratorium terhadap penggunaan AI generatif di perangkat sekolah negeri oleh siswa mulai tahun ajaran ini. Pelarangan pemakaian AI generatif tersebut turut membatasi penggunaan komputer di ruang kelas.
Dilansir dari LA Times, kebijakan tersebut ternyata tidak ditetapkan secara langsung oleh dewan sekolah. Pejabat LAUSD menerapkannya berdasarkan kewenangan yang dimiliki sebagai tindak lanjut kebijakan dewan sekolah pada Juni 2026 yang mengatur pembatasan screen time bagi siswa.
Anggota dewan sekolah, Nick Melvoin mengatakan, kendati terkejut dengan kebijakan ini, ia mendukung larangan AI generatif di sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika kebijakannya adalah kita tidak akan mengizinkan siswa menggunakan AI generatif untuk sementara waktu, maka kita harus mempublikasikannya," kata Melvoin.
"Tetapi juga, itu sebenarnya tidak berasal dari dewan, jadi saya masih ragu-ragu mengenai hal itu saat ini... hanya sedikit tidak nyaman saja," tuturnya.
Didukung Orang Tua-NGO
Sementara itu, orang tua murid menyatakan dukungannya atas larangan penggunaan AI generatif ini. Larangan ini dinilai signifikan lantaran orang tua murid makin khawatir akan ketergantungan pada teknologi di sekolah.
"Tampaknya kita sudah memiliki moratorium AI, yang sudah kita perjuangkan di semua tingkatan kelas di LAUSD," kata Bridie Lee, salah satu pemimpin kelompok Schools Beyond Screens LA.
Mantan kepala sekolah dan Kepala Program Media di organisasi nirlaba Common Sense Media, Yvette Renteria menambahkan, larangan AI generatif ini juga penting untuk menekan besarnya risiko pengunaan AI oleh siswa.
Yvette menjelaskan, berdasarkan studi Commons Sense Media berjudul A Comprehensive Report on Teens, Tweens, and AI (2026) dan Teens in the AI Era: Schoolwork and Skills That Matter (2026), AI menjadi bagian kehidupan anak praremaja dan remaja AS. Ketika dilarang di sekolah, mereka tetap menggunakannya di perangkat pribadi.
"Banyak pekerjaan yang harus dilakukan sepanjang tahun ini, termasuk mengajarkan literasi AI, yang tidak mengharuskan anak-anak untuk menggunakan AI itu sendiri," terangnya.
"Banyak produk AI terkemuka tidak dirancang untuk keamanan atau untuk mendukung pembelajaran dengan benar," imbuh Renteria.
Namun, pakar teknologi pendidikan dan profesor University of Syracuse, Jing Lei mengatakan, larangan atau izin menggunakan teknologi tidak cukup. Sekolah menurutnya tetap harus memastikan kualitas penggunaan AI generatif.
Ia mencontohkan, larangan menggunakan teknologi justru dapat menghalangi anak kecil belajar dari peluang pendidikan bermakna yang ditawarkan dengan akses teknologi. Sisi lain, akses ke teknologi selama 20 menit saja pun bisa tergolong terlalu lama bagi siswa kelas tinggi, jika tidak ada tujuan yang jelas.
Kelanjutan dari Larangan AI di New York
Terungkapnya larangan AI di sekolah-sekolah negeri LA bersamaan dengan kabar pelarangan resmi penggunaan alat AI generatif oleh Pemerintah Kota New York. Dalam kebijakan ini, NYC akan melarang pengunaan AI generative tools yang berinteraksi langsung dengan siswa, seperti chatbot dan tutor yang merespons perintah atau prompt.
Adapun larangan AI generatif di NYC berlaku bagi anak PAUD sampai siswa kelas 8. Siswa kelas menengah dapat menggunakan AI alat AI generatif secara terbatas.
Dijelaskan dalam laman resmi Pemerintah NYC, siswa SMA juga mempelajari modul berpikir kritis dalam pemanfaatan AI dua kali setahun. Sementara itu, pembatasan screen time sesuai usia juga diterapkan.
"Anak-anak membutuhkan guru dan hubungan antarmanusia agar dapat belajar dan berkembang. Mereka perlu mengembangkan keterampilan bersama teman sebaya, membangun hubungan dengan pendidik, dan bergulat dengan masalah-masalah sulit sendiri," kata Wali Kota NYC, Zohran Mamdani.
Ia menambahkan, pihaknya akan mempelajari lebih lanjut dampak AI generatif bagi siswa sebelum larangan ini diubah atau dicabut.
"Industri teknologi ingin kita percaya bahwa pendidikan usia dini yang didukung AI tak sekadar tidak terhindarkan, tetapi juga dibutuhkan. Kami tidak melihatnya seperti itu. Itulah mengapa kami menerapkan moratorium pada AI generatif untuk siswa kelas 2-K hingga kelas 8 dan menghabiskan tahun depan untuk mempelajari dampak teknologi ini," tegasnya.
