Viral video sekelompoks siswa SMAN 1 Purwakarta melecehkan guru perempuan mereka. Kini mereka diskors 19 hari. Namun Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi punya usul sanksi lain: bersih-bersih sekolah hingga toiletnya!
"Ya, saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut dan koronologisnya saya sudah mendengarkan paparan dari kepala Dinas Pendidikan. Dan selanjutnya berdasarkan informasi anak tersebut, orang tuanya sudah dipanggil ke sekolah, orang tuanya nangis, merasa menyesal atas tindakan anaknya. Selanjutnya sekolah sudah memberikan skorsing selama 19 hari anak itu mendapat bimbingannya di rumah," ujar KDM, panggilan akrabnya dalam akun media sosial resminya, @kdm_jawabarat pada Sabtu (18/4/2026) yang dikutip dan ditulis, Minggu (19/4/2026).
Lalu, KDM pun memberikan usul sanksi selain skorsing. Sanksi lain itu yakni membersihkan semua sudut sekolah dari halaman hingga toilet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tetapi saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing selama 19 hari ini, saran, mudah-mudahan sarannya bisa digunakan, tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu dalam setiap hari dan membersihkan toilet, ini yang saya sarankan," jelas KDM.
Pemberlakuan sanksi bersih-bersih sekolah, imbuh KDM, bisa selama 2 atau 3 bulan. Penerapannya menurut KDM tergantung perkembangan dari siswa-siswi sendiri.
"Prinsip dasar adalah setiap hukuman yang diberikan harus hukuman yang memberikan manfaat bagi pembentukan karakter, bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan oleh gurunya," jelas KDM.
Dalam akun medsos KDM juga, para siswa SMAN 1 Purwakarta juga sudah membuat video permintaan maaf.
Sebelumnya viral, sekelompok siswa SMA mengacungkan jari tengah saat seorang guru perempuan berhijab berjalan berlalu hingga membelakangi mereka.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menegaskan, peristiwa ini harus menjadi bahan refleksi bersama, tidak hanya bagi sekolah tempat kejadian, tetapi juga seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
"Ini menjadi bahan refleksi bukan hanya untuk SMAN 1 tapi untuk semua sekolah dan orang tua, termasuk kita di tingkat pengambil kebijakan," tegasnya dikutip dari detikJabar.
Sebagai langkah penanganan, Disdik Jabar mendorong pendekatan pembinaan karakter terhadap para siswa yang terlibat. Menurutnya, sanksi harus diarahkan untuk membentuk empati dan kedisiplinan.
"Iya anak-anak dilakukan pembinaan karakter, itu bisa dilatih lewat empati, disiplin dan disesuaikan dengan perkembangan mereka," jelasnya.
Ia juga memastikan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan sekolah untuk menentukan langkah lanjutan sesuai prinsip pendidikan yang diarahkan pemerintah daerah.
"Kita akan sampaikan ke kepala sekolah dan mudah-mudahan ada langkah-langkah yang bisa dilakukan berdasarkan arahan gubernur dalam prinsip-prinsip pendidikan," ujarnya.










































