Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menyampaikan pesan kepada satuan pendidikan yang menerima bantuan revitalisasi atau perbaikan. Ia menekankan, program revitalisasi bukan merupakan proyek kaget.
"Dilaksanakan penuh tanggung jawab, penuh integritas. Jangan ditempatkan sebagai proyek kaget begitu," kata Atip dalam acara Penutupan Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026 yang ditayangkan dalam YouTube Kemendikdasmen, Rabu (11/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masih Banyak Sekolah seperti 'Rumah Hantu'
Atip juga menekankan, tujuan program revitalisasi sekolah adalah menghidupkan kembali sekolah. Ia ingin fasilitas dan sarana sekolah bisa dipakai siswa dengan maksimal.
"Sesuai yang disampaikan oleh Bapak Presiden, ini bagian dari upaya untuk menghadirkan pendidikan yang bermutu dimulai dengan fasilitas, sarana pendidikannya. Karena pernah saya katakan, hampir 25-30 tahun, sarana pendidikan kita belum tersentuh oleh perbaikan. Makanya digunakan bahasanya revitalisasi agar hidup kembali," bebernya.
Atip bergurau, beberapa sekolah yang rusak bahkan seperti rumah hantu. Ia mendorong pemerintah daerah untuk membantu mengawasi jalannya program revitalisasi ini.
"Banyak sekolah yang tampak seperti rumah hantu, jadi yang ada di sana adalah para hantu. Tolong ini diperhatikan, dimanfaatkan, dan jangan lupa dipelihara," imbaunya.
Sekolah Jadi Penanggung Jawab Revitalisasi
Atip memohon pihak sekolah yang menerima bantuan ini agar bertanggung jawab sepenuhnya. Pasalnya, bantuan tersebut berasal dari anggaran pendidikan.
"Mohon ini dilaksanakan dengan penuh integritas, dengan penuh rasa tanggung jawab, karena itu adalah titipan dari masyarakat, dari rakyat kita," tegasnya.
Pada 2026, ditargetkan sebanyak 11.744 sekolah akan direvitalisasi. Bantuan ini diperuntukkan bagi sekolah dengan kondisi bangunan rusak.
"Kemudian terkait dengan revitalisasi Bapak-Ibu, yang ini merupakan proyek yang cukup masif dilakukan oleh pemerintah kita dan akan berlanjut," tutur Wamen Atip.
Wamendikdasmen mengingatkan sasaran prioritas dari program ini adalah sekolah dengan kondisi rusak parah. ia berharap tidak ada lagi kasus sekolah ambruk dan sebagainya.
"Jadi kami menerima banyak laporan, kenapa sekolah ini tidak direvitalisasi padahal kelasnya sudah ambruk mayoritas. Tolong yang rusak berat itu diprioritaskan Bapak dan Ibu Kepala Dinas," pesannya.










































