Rencana 3 Tahun ke Depan, Prabowo: Sekolah Miliki Setidaknya 6 Kelas dengan Smartboard

ADVERTISEMENT

Rencana 3 Tahun ke Depan, Prabowo: Sekolah Miliki Setidaknya 6 Kelas dengan Smartboard

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 23 Jan 2026 12:30 WIB
Rencana 3 Tahun ke Depan, Prabowo: Sekolah Miliki Setidaknya 6 Kelas dengan Smartboard
Foto: (Muchlis Jr-Biro Pers Sekretariat Presiden) Prabowo di WEF 2026 di Davos, Swiss.
Jakarta -

Presiden Prabowo mengungkap akan menambah 1 juta interactive flat panels (IFP/smartboard) ke sekolah-sekolah. Rencana ini ia paparkan dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss.

Dalam forum ini, ia pun menyebut telah menyalurkan sekitar 288 ribu IFP berukuran 75 inci. Prabowo mengatakan ini adalah bagian dari digitalisasi pendidikan di Indonesia

"Pada tahun ini, 2026, kami akan menambah 1 juta interactive smart panels, sehingga setiap sekolah akan memiliki setidaknya 3 sampai 4 kelas dengan panel-panel tersebut," ungkap Prabowo dalam forum tersebut, seperti disiarkan oleh YouTube Prabowo Subianto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami juga berharap dalam 3 tahun semua sekolah di Indonesia akan memiliki setidaknya 6 kelas dengan panel digital interaktif," lanjutnya.

Prabowo juga menyebut tahun ini pemerintah Indonesia akan meningkatkan renovasi sekolah. Ia menargetkan untuk memodernisasi dan merenovasi 60 ribu sekolah.

ADVERTISEMENT

"Saya juga tengah membangun 1.000 sekolah, yang saya sebut sekolah komprehensif terpadu dengan fasilitas modern, dengan laboratorium modern," sebut Prabowo.

Selanjutnya, Prabowo mengatakan soal pembangunan Sekolah Rakyat yang ditargetkan ada 500 sekolah. Sebelumnya dalam peresmian 166 Sekolah Rakyat, ia menyebut target 500 sekolah tersebut hingga 2029.

Prabowo mengatakan, konsep ini mungkin unik karena biasanya yang pergi ke sekolah berasrama adalah anak-anak dari keluarga mampu. Sedangkan Sekolah Rakyat dibangun untuk anak-anak dari keluarga miskin.

Ia menyampaikan Sekolah Rakyat adalah untuk memutus rantai kemiskinan. Prabowo menegaskan di negara-negara global south ada lingkaran kemiskinan di mana anak-anak dari buruh harian di pelabuhan misalnya, juga akan berprofesi yang sama. Demikian juga misalnya pada anak pedagang kaki lima, akan menjadi pedagang kaki lima.

"Biasanya di negara-negara seperti negara saya, negara-negara global south, negara-negara dunia ketiga, negara-negara yang keluar dari penjajahan selama ratusan tahun, biasanya anak-anak dari petani miskin akan menjadi petani miskin. Anak dari pengumpul sampah akan menjadi pengumpul sampah," kata Prabowo.




(nah/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads