Kurikulum Baru Disiapkan, Platform Belajar Digital Masih Ada?

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 26 Nov 2021 17:01 WIB
PJJ lewat televisi bandung 132
Pembelajaran jarak jauh lewat Televisi Bandung 132. Dengan pergantian kurikulum tahun depan, bagaimana nasib platform belajar digital? Foto: Wisma Putra
Jakarta - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengumumkan akan ada penggantian kurikulum pada 2022. Nadiem mengatakan, kurikulum tersebut saat ini tengah diujicobakan di sejumlah sekolah penggerak.

Menurut Nadiem, kurikulum yang ditawarkan tahun depan lebih merdeka bagi guru dan murid. Ia mengatakan, kurikulum ini dapat dimengerti oleh guru dan fleksibel. Dengan demikian, kurikulum baru ini dapat diadaptasi guru sesuai kemampuan muridnya.

Ia menambahkan, kurikulum baru tersebut juga akan memberikan kesempatan bagi guru untuk berkreasi dan berinovasi. Proses pembelajaran pun, harapnya dapat berjalan lebih mudah.

"Kami akan mulai menawarkan kurikulum yang jauh lebih merdeka, sekarang lagi dites di sekolah-sekolah penggerak," ujarnya dalam Puncak Perayaan Hari Guru Nasional, Kamis (25/11/2021).

Platform Belajar Digital Tahun Depan

Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbudristek Hasan Chabibie mengatakan, platform belajar digital Kemendikbudristek masih akan terus dibuka untuk mendukung pendidikan siswa. Kendati terbatas dan tidak sempurna, sambungnya, opsi penggunaan teknogi komunikasi terus membantu proses pembelajaran.

Sebagai informasi, Pusdatin Kemendikbudristek saat ini memiliki sejumlah platform digital untuk peserta didik seperti Rumah Belajar, Suara Edukasi, TV Edukasi, dan Kihajar.

"Ini opsi terbaik yang bia kita lakukan. Kira refer situasi COVID dari Kemenkes di lapangan. Jika membaik, pemerintah juga melakukan pembaharuan policy untuk mendorong kemampuan belajar tatap muka," katanya.

Terkait perubahan kurikulum, Hasan mengatakan, konten digital dari Kemendikbudristek dapat disesuaikan karena dibuat dikembangkan dengan prinsip bit sizing.

Prinsip cuplikan kecil ini, menurut Hasan, memudahkan konten digital yang disiapkan untuk peserta didik bisa diterjemahkan ke kurikulum baru. Sebab, cuplikan-cuplikan materi belajar sebelumnya memiliki kata kunci dan substansi yang sama dengan yang di kurikulum baru.

"Mengembangkan digital content ini disesuaikan dengan kurikulum detik.com/kurikulum. Biasanya kita mengenal bit sizing content. Kita buat yang sifatnya cuplikan kecil, jadi memudahkan untuk di-reuse, reshare, dan remix untuk peserta didik, apapun pendekatan kurikulumnya.

Menurut Hasan, pembelajaran ke depan yang ideal adalah hybrid learning, dengan gabungan pembelajaran tatap muka yang didukung teknologi optimal.

Harapannya, pembelajaran tetap muka dapat membantu pembentukan karakter, mendukung aspek afektif dan psikomotor peserta didik. Sementara itu, komunikasi jarak jauh dapat memudahkan siswa untuk pembelajaran jarak jauh .

"Jadi semakin bisa meningkatkan kualitas belajar mengajar kita," kata Hasan.



Simak Video "Hari Pertama PTM 100 Persen di Yogyakarta Tidak Optimal"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia