Soal Klaster Sekolah, P2G Sebut Ada Potensi Besar dari Asesmen Nasional

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Minggu, 03 Okt 2021 17:59 WIB
Ilustrasi siswa atau sekolah
Foto: Getty Images/GlobalStock
Jakarta - Klaster sekolah disebut berpotensi besar muncul dari pelaksanaan Asesmen Nasional. Risiko ini disampaikan Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Iman Zanatul Haeri.

"Lalu kemudian untuk asesmen nasional yang diadakan tahun ini. Ini (asesmen nasional) berpotensi besar sebagai klaster terbaru sekolah," kata Iman dalam diskusi daring Pembelajaran Tatap Muka Pertaruhkan Keselamatan Anak pada Minggu (3/9/2021).

Iman menyebut salah satu contoh peristiwa yang terjadi di Kepulauan Riau. Berdasarkan penuturannya, kepala daerah dari Kepulauan Riau melarang satuan pendidikan di sana untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

Namun, pengadaan asesmen nasional ini membuat beberapa pihak satuan pendidikan harus melakukan aktivitas di sekolah kembali.

"Sebagai contoh misalkan di Kepulauan Riau, kepala daerahnya melarang PTM terbatas. Namun karena ada pengadaan asesmen nasional sehingga kemudian sekolah terpaksa melakukan aktivitas dan ada kerumunan lagi," ujar Iman.

Selain itu, Iman juga menambahkan pihak P2G lebih condong untuk mendorong pemerintah lebih memaksimalkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Namun, ia mengaku tidak sepenuhnya menolak pelaksanaan PTM terbatas.

"Di koalisi ini pun kita (P2G) tidak sepenuhnya menolak PTM terbatas. Namun, kita di sini melihat ada tanggung jawab negara yang tidak dilaksanakan," lanjut Iman.

Iman juga menyoroti persoalan learning loss yang disebut-sebut sebagai risiko dari pelaksanaan PJJ. Hal ini, kata Iman, menjadi bukti kegagalan pemerintah dalam menyusun sistem pembelajaran selama pandemi.

"Learning loss seharusnya bisa diminimalisir apabila PJJ dilaksanakan secara sistematis dan terstandar. Pada kenyataannya hampir 2 tahun berlangsung, sementara PJJ masih menjadi beban, inovasi tidak terjadi secara signifikan, tidak terstandar dan kurang efektif," sambung dia.

Relawan LaporCovid19 Natasha Devanand dalam kesempatan yang sama juga mengungkapkan masih rendahnya tingkat vaksinasi bagi pihak satuan pendidikan. Data menunjukkan bahwa vaksinasi pelajar sampai tanggal 2 Oktober 2021 baru mencapai 14,71 persen untuk dosis pertama dan 9,98 persen untuk dosis kedua.

"Capaian ini masih tergolong rendah untuk usia pelajar. Dalam hal ini pelajar yang dimaksud berusia 12 sampai 17 tahun. Sedangkan untuk vaksinasi guru baru mencapi 62,18 persen untuk dosis pertama dan 38 persen untuk dosis kedua. Dan ini data yang kami dapatkan dari 22 September 2021," lanjut dia.

Beberapa waktu lalu, muncul isu klaster sekolah atau klaster PTM yang menyebutkan 2,8 persen satuan pendidikan terkait dengan penularan COVID-19. Namun, Kemendikbudristek telah membantah hal ini dan mengatakan bahwa data tersebut berasal dari laporan warga sekolah, bukan klaster sekolah yang terjadi pada siswa.

Simak Video "Tingkah Lucu Siswa SD PTM di Parepare, Nangis-Tak Tahu Guru"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia