Contoh Puisi Tentang Alam yang Sarat Akan Makna

Kholida Qothrunnada - detikEdu
Jumat, 01 Okt 2021 08:30 WIB
TNB di juluki Africa Van Java karena keindahannya alamnya yang indah mulai dari padang savana, hutan, satwa dan pantai.
Contoh puisi tentang alam dari sejumlah penyair (Foto: detik)/Contoh Puisi Tentang Alam yang Sarat Akan Makna
Jakarta -

Alam memang sering dijadikan objek dalam sebuah karya sastra, salah satunya adalah puisi. Puisi tentang alam bisa sebagai bentuk ekspresi kecintaan akan alam dan isinya.

Puisi adalah bentuk dari karya sastra yang berisi ungkapan dan perasaan. Puisi bisa menggambarkan tentang suasana keadaan sekitar atau lingkungan, perasaan senang, sedih, gelisah, marah, bahkan kekecewaan.

Makna yang terkandung pada suatu puisi, berisi pesan-pesan tertentu yang bisa ditangkap oleh pembacanya. Bahasa dan kata-kata yang ada dalam puisi terikat dengan rima, irama, lirik dan bait.

Dikutip dari modul Kemendikbud bertajuk "Pembelajaran SMA Bahasa Indonesia Kelas X" karya Suttji Harijanti, M.Pd., berikut adalah struktur batin dan fisik puisi:

Struktur Batin (Hakikat Suatu Puisi)

1. Tema: merupakan unsur utama dari isi puisi, karena hal ini berhubungan dengan makna yang ingin disampaikan oleh penyair dengan bahasa.

2. Rasa: sikap penyair terhadap suatu masalah, yang diungkapkan dalam puisi. Ungkapan rasa ini, biasanya berkaitan dengan latar belakang penyair, contohnya agama, pendidikan, jenis kelamin, pengalaman, dan lain-lain.

3. Nada: seorang penyair dapat menyampaikan suatu puisi dengan nada mendikte, menggurui, memandang rendah, dan sikap lainnya terhadap pembaca/pendengarnya.

4. Tujuan: maksud suatu pesan yang ingin disampaikan oleh sang penyair kepada pembaca atau pendengarnya.

Struktur Fisik (Metode Penyampaian Puisi)

1. Perwajahan Puisi (tipografi): bentuk format suatu puisi, berupa pengaturan baris, tepi kanan-kiri, halaman yang tidak dipenuhi kata-kata.

2. Diksi: pilihan kata seorang penyair dalam mengungkapkan puisinya.

3. Imaji: susunan kata dalam puisi, yang mengungkapkan pengalaman indrawi sang penyair (pendengaran, penglihatan, dan perasaan). Hal ini bisa mempengaruhi pembaca/pendengar seolah-olah merasakan isi dalam puisi tersebut.

4. Kata Konkret: bentuk kata yang bisa ditangkap oleh indera manusia sehingga menimbulkan imaji. Umumnya berbentuk kata kiasan (imajinatif).

5. Gaya Bahasa/Majas: penggunaan bahasa yang bisa menimbulkan efek dan konotasi tertentu yang dapat mengandung banyak makna. Contohnya: majas metafora, ironi, repetisi, pleonasme, dan lain-lain.

6. Rima/ Irama: persamaan bunyi dalam penyampaian puisi, baik di awal, tengah, ataupun di akhir puisi.

Berikut adalah contoh puisi tentang alam, spesial yang tim detik kumpulkan untuk kalian semua!

1. "Sajak Matahari"

Karya: W.S. Rendra

Matahari bangkit dari sanubariku
Menyentuh permukaan samudra raya.
Matahari keluar dari mulutku, menjadi pelangi di cakrawala
Wajahmu keluar dari jidatku, wahai kamu, wanita miskin!

Kakimu terbenam di dalam lumpur
Kamu harapkan beras seperempat gantang, dan di tengah sawah tuan tanah menanammu!

Satu juta lelaki gundul keluar dari hutan belantara, tubuh mereka terbalut lumpur dan Kepala mereka berkilatan memantulkan cahaya matahari
Mata mereka menyala tubuh mereka menjadi bara dan mereka membakar dunia
Matahari adalah cakra jingga yang dilepas tangan Sang Krishna
Ia menjadi rahmat dan kutukanmu, ya, umat manusia!

2. "Pengakuan yang Jujur"

Karya: Radius S.K Siburian

Di tiap ujung daun menjari Tersimpan nada kagum
Di tiap Bentangan akar bersembunyi nada taat
Di tiap pucuk pohon pinus Bertunas nada syukur
Di tiap ujung paruh burung terselip rasa kagum

Di tiap auman fauna terdengar rasa taat
Di tiap alat gerak animalia terbekas rasa syukur
Di tiap bibir pantai-pantai tercium rasa kagum
Di tiap puncak gunung menjulang tersimpan rasa taat

Di tiap muara sungai terbentang rasa syukur
Di tiap hamparan samudra terbentang nada dan rasa
Kagum, taat, syukur semua menyanyi kitab Kejadian sempurna

3. "Pancuran 7 Abadi"

Karya: Dede Aditnya Saputra

Desir angin sepoi menghembus perlahan
Bersama nyanyian burung di pucuk dahan
Airmu menari-nari dalam nestapa
Mencairkan luka oleh karena cinta

Tercium bau yang harum menawan
Bau harum airmu memecahkan qalbu buana
Tahukah kau akan qalbu buana itu?
Yaitu qalbu yang dirundung duka dan nestapa

Oh.. nirwana puncah Gunung Slamet
Kaulah tempat kami mengingat sang Kuasa
Melepaskan jiwa yang bermuram durja
Dan merenungkan masa jaya

Selain air terjunmu yang menawan
Terdapat mata air panas yang bersahaja
Membuat kita bersatu dengan malam
Apalagi malam Jumat orang Jawa

Terus lah abadi kau Pancuran ketujuh
Bersama ke enam Pancuran di bawah sana
Pancarkan sinar keemas an dalam air mu!
Untuk melupakan rasa sendu yang menggebu

4. "Hutan Karet"

Karya Joko Pinurbo

in memoriam: Sukabumi

Daun-daun karet berserakan.
Berserakan di hamparan waktu.

Suara monyet di dahan-dahan.
Suara kalong menghalau petang.

Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan.
Berloncatan di semak-semak rindu.

Dan sebuah jalan melingkar-lingkar.
Membelit kenangan terjal.

Sesaat sebelum surya berlalu
masih kudengar suara bedug bertalu-talu.

5. "Siapakah"

Karya : Acep Zamzam Noor

Siapakah yang menyiramkan hijau
Ketika punuk bukit kembali bersemi

Siapakah yang menumpahkan biru
Ketika ombak berkejaran dengan sunyi

Siapakah yang menggambari langit
Dengan kuas sehalus awan pagi

Siapakah yang mengukir udara
Dengan pahat selentur jemari

Selanjutnya, puisi tentang alam Taufiq Ismail

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia