Round Up

4 Klarifikasi Kemendikbudristek soal Ribuan Klaster COVID di Sekolah

Kristina - detikEdu
Jumat, 24 Sep 2021 20:23 WIB
Sekolah di Tangerang mulai melakukan uji coba sekolah tatap muka dengan terapkan protokol kesehatan secara ketat. Seperti apa pelaksanaannya? Lihat yuk.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melakukan klarifikasi terkait data ribuan klaster COVID-19 di sekolah sebagaimana tertera dalam laman sekolah.data.kemdikbud.go.id. Setidaknya ada 4 hal yang perlu diluruskan terkait data tersebut.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah (PAUD Dikdasmen), Jumeri mengatakan, terjadi miskonsepsi dalam data yang ditampilkan situs Kemendikbudristek.

"Ada 4 miskonsepsi atau salah pemahaman mengenai isu klaster PTM terbatas yang saat ini beredar di masyarakat," ucap Jumeri saat melakukan klarifikasi lewat online kepada wartawan, Jumat (24/9/2021).

Berikut 4 klarifikasi Kemendikbudristek soal 1.296 klaster COVID-19 di sekolah saat PTM berlangsung:

1. Bukan Klaster Sekolah

Jumeri menegaskan, data yang dipublikasikan pada laman Kemendikbudristek bukan klaster sekolah yang terjadi pada siswa. Data tersebut berasal dari laporan warga sekolah baik siswa, guru, tendik, dan bahkan keluarga dari mereka.

"Angka 2,8 persen yang kita publikasikan satuan pendidikan itu bukanlah data klaster COVID-19. Itu 2,8 persen bukan klaster pendidikan. Tapi itu adalah data yang menunjukkan satuan pendidikan yang melaporkan lewat aplikasi kita, laman kita bahwa di sekolahnya ada warga yang terkonfirmasi positif COVID-19," ungkap Jumeri.

2. Belum Tentu Kasus PTM

Menurutnya, data yang diinput dalam sistem Kesiapan Belajar Satuan Pendidikan merupakan data campuran, yakni data yang diperoleh dari sekolah yang menyelenggarakan sekolah tatap muka maupun pembelajaran jarak jauh.

"Belum tentu penularan COVID-19 di satuan pendidikan yang melaksanakan PTM, belum tentu. Data didapatkan dari laporan 46.500 dari yang mengisi semacam pendataan kami. Satuan pendidikan tersebut adalah yang sudah PTM maupun yang belum PTM," tegas Jumeri.

3. Data Merupakan Akumulasi Sejak Juli 2020

Data yang tertera dalam sistem Kemendikbudristek merupakan data akumulasi dari 14 bulan pembelajaran di masa pandemi COVID-19. Artinya, data tersebut bukanlah data saat pelaksanaan PTM berlangsung.

"Angka satuan 2,8 persen bukanlah akumulasi dari 1 bulan terakhir, akumulasi dari masa pemberlakuan PTM terbatas setelah PTM darurat level 1-3 bukan. Jadi, itu adalah akumulasi sejak Juli 2020, atau tahun ajaran 2020 sampai 2021," terangnya.

4. Laporan Belum Diverifikasi

Terakhir, Jumeri menegaskan, data yang dilaporkan belum sepenuhnya diverifikasi. Sehingga, banyak ditemukan kesalahan-kesalahan dalam proses input data.

Jumeri juga menyebut setelah diteliti ulang, ada juga temuan kasus COVID-19 yang sebenarnya disebabkan oleh kasus di keluarga.

"Ada sekolah yang melaporkan klaster di sekolah itu. Ada juga yang melaporkan keluarga sekolah yang terjangkit COVID-19. Ini data yang perlu kita validasi karena dari sekolah-sekolah ini tidak diberi penjelasan," terangnya.

Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, pihak Kemendikbudristek berencana akan menggunakan aplikasi PeduliLindungi dalam melakukan pendataan atau skrining selama PTM berlangsung.

"Dikarenakan keterbatasan akurasi, kita tahu validitas laporan kurang karena ke lapangan tidak mungkin maka saat ini Kemendikbudristek dan Kemenkes sedang uji coba pendataan baru lewat PeduliLindungi," paparnya.

Terkait teknis penggunaannya, pihaknya masih menunggu hasil uji dari tim terkait. Jumeri juga mengakui tak semua anak memiliki gadget khususnya siswa di daerah terpencil. Untuk itu, Jumeri juga masih menunggu solusi yang akan diterapkan dalam PTM.

"Ini makanya kita sedang melakukan uji coba. Tapi kami belum bisa memberikan langkah, tapi kira-kira akan ke sana," tegas Jumeri.



Simak Video "Bekali Anak dengan 'Alat Perang' saat Sekolah Tatap Muka"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia