PAUD-SMP di Gunungkidul Mulai PTM Terbatas, Orangtua: Mengurangi Intensitas Main Gawai

Pradito Rida Pertana - detikEdu
Selasa, 14 Sep 2021 17:30 WIB
Pelajar SLTPN 22 Solo melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan guru di ruang sekolah, Solo, Jawa Tengah, Kamis (2/9). Sekolah tersebut menerapkan aturan kehadiran 50 persen pelajar dan membatasi waktu tatap muka dari pukul 07.30 hingga 09.00 WIB dengan pemberlakuan protokol kesehatan ketat.
Foto: Agung Mardika
Gunungkidul -

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul mulai menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas. Hal itu membuat orangtua murid senang karena mengurangi ketergantungan smartphone anak-anak.

Salah satu orangtua murid SD Negeri Paliyan 4, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul Ganjar Fitriana mengaku senang anaknya bisa kembali sekolah seperti biasa. Pasalnya dengan PTM mengurangi intensitas anaknya dalam mengoperasikan smartphone.

"Lega, senang anak bisa sekolah lagi seperti biasa. Walaupun jamnya cuma sebentar setidaknya anak-anak pegang Hp-nya berkurang," ucapnya saat dihubungi wartawan, Selasa (14/9/2021).

Untuk itu, dia berharap agar PTM bisa terus berlanjut. Mengingat dengan PTM anak bisa lebih paham mencerna pelajaran.

"Soalnya selama tidak sekolah lebih penting game daripada belajar. Dan anak jadi lebih paham pelajaran," ujarnya.

Dihubungi terpisah, Plt Kepala Disdikpora Gunungkidul Ali Ridlo mengaku surat edaran terkait PTM sudah keluar sejak kemarin, Senin (13/9/2021). Namun, karena ada beberapa hal maka PTM baru bisa dimulai hari ini.

"Mulai hari ini kita lakukan pembelajaran tatap muka terbatas. Sebenarnya edarannya sudah mulai hari Senin tapi karena untuk SMP ada kegiatan assesment nasional berbasis komputer lalu ada juga evaluasi tengah semester," katanya.

"Kalau yang PTM semua PAUD, SD, SMP. Tapi terkait jadwal dan jumlah jam (pelajaran) itu diserahkan kepada satuan pendidikan," lanjut Ali.

Pelaksanaannya, untuk SD-SMP menerapkan 50% dari kapasitas setiap kelas. Sedangkan untuk PAUS menerapkan 33% dari kapasitas per kelas.

"Tadi saya mengecek ke SD Kemiri 1 Tanjungsari sudah masuk tapi tidak semua anak masuk. Jadi kemarin kelas yang besar masuk, kemudian kelas berikutnya begitu. Tapi tetap diatur satu ruang itu 50% dari anak, dan nanti jam berikutnya 50% lagi dari anak," ujarnya.

Ali juga menyebut berani menggelar PTM karena capaian vaksinasi COVID-19 untuk remaja di Gunungkidul hampir 80%. Terlebih semua Guru dan tenaga pendidik sudah mendapat vaksinasi COVID-19.

"Kalau dari data yang kami terima, untuk 12 tahun ke atas 76 koma sekian," katanya.

Meski telah melaksanakan PTM secara terbatas, Ali mengaku jika PTM bisa terselenggara jika orangtua murid setuju. Apabila ada orangtua murid tidak setuju pihaknya bisa memberikan pembelajaran jarak jauh.

"Kalau orangtua minta pembelajaran jarak jauh tetap kita layani. Kalau orangtua semua sepakat menghendaki pembelajaran tatap muka dan sekolah siap ya kita selenggarakan PTM terbatas," ucapnya.

"Karana acuan kita PTM dari Mendagri mengatur yang sudah level 3 boleh mengadakan PTM terbatas. PAUD 33% dari kapasitas, SD dan SMP 50% dari kapasitas," lanjut Ali.

Acuan itu tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 42 Tahun 2021 Tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 4, Level 3, Dan Level 2 Corona Virus Disease 2019 di wilayah Jawa dan Bali.

Menyoal lama pembelajaran murid selama PTM terbatas, Ali mengaku menyesuaikan masing-masing sekolah. Namun, dia meminta pertemuan tatap muka tidak berlangsung lama-lama.

"Ya itu yang saya sampaikan kami serahkan pengaturan waktu ke sekolah masing-masing. Karena yang terpenting anak itu pertama kali itu bertemu dulu dan jangan dibebani dengan hal-hal yang berat, karena kan sudah setahun lebih tidak bertemu," ucapnya.



Simak Video "27,17 Persen Sekolah di RI Sudah Lakukan PTM Terbatas"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia