UNICEF Sarankan Skill Digital bagi Siswa Perempuan di Pelosok, Kenapa?

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 30 Agu 2021 18:15 WIB
Siswa-siswa di Kecamatan Kanal, Kabupaten Kaur, Bengkulu, kesulitan mengikuti belajar online, karena ketiadaan infrastruktur telekomunikasi di sana.
Foto: Tomi Defantri
Jakarta - Salah satu perwakilan organisasi UNICEF Indonesia, Katheryn Bennet menyebutkan bahwa ada kesenjangan kemampuan digital antara perempuan dan laki-laki di Indonesia, khususnya untuk yang tinggal di wilayah pelosok.

"The data also found there were gender imbalance in digital learning access which I think for us all in creating learning platform, it is something that for us to really think thorough (Data juga menunjukkan adanya kesenjangan gender dalam akses pembelajaran digital, yang mana untuk kita semua yang menciptakan kanal pembelajaran, perlu memikirkannya secara menyeluruh)," ujar Bennet dalam simposium daring bertajuk 'Pembelajaran Digital Berkualitas bagi Semua', Senin (30/08/2021).

UNICEF juga mempublikasi sebuah jurnal penelitian berjudul 'Memperkuat Pembelajaran Daring di Seluruh Indonesia: Ringkasan Penelitian'. Seperti dilansir dari rilis tersebut, sebuah tulisan berjudul 'Unlocking Indonesia's Digital Opportunity' oleh McKinsey Indonesia menyatakan bahwa Jakarta adalah ibu kota Twitter di dunia.

Pada tahun 2020, terdapat hingga 59% pemuda di Indonesia yang merupakan pengguna sosial media aktif. Kendati begitu, ringkasan ini juga menyebutkan bahwa IntechOpen mengatakan literasi digital Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain di Asia Tenggara.

Bennet turut memaparkan adanya tiga perhatian utama UNICEF mengenai pengembangan kemampuan digital siswa dan guru. Pertama, siswa memang memiliki potensi yang kuat dalam pembelajaran digital, namun kurang keterampilan untuk menunjang perekonomian digital.

Kedua, banyak siswa yang kesulitan menyesuaikan diri dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan orang tua memiliki kapasitas yang kurang untuk mendukung mereka.

Ketiga, banyak guru yang mendapat pelatihan terbatas terkait pembelajaran daring serta tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk pendidikan berbasis daring.

Keempat, ada kesenjangan gender terkait kemampuan digital perempuan dan laki-laki, khususnya area pelosok. Berdasarkan publikasi berjudul 'Special Report on Digital Literacy for Women and Girls' yang disebutkan dalam rilis ini, perempuan mendapat akses lebih rendah terhadap perangkat digital dan sosial media sehingga mengerucutkan kesempatan mereka untuk bergabung dengan komunitas daring.

Hal di atas makin diperkuat dengan miskonsepsi masyarakat bahwa perempuan merupakan teknophobia dan kurang ketertarikan maupun kemampuan dalam hal teknologi.

Terkait hal ini, UNICEF merekomendasikan pengembangan sesi pelatihan untuk meningkatkan kemampuan digital pelajar muda. Khususnya siswa perempuan dan yang tinggal di area pelosok.

Terlebih lagi, perlu ada penekanan keamanan siber dalam kebijakan yang disarankan UNICEF ini. Hal tersebut juga harus mudah diakses oleh mereka yang tinggal di kawasan manapun.

UNICEF menjelaskan lebih detail bahwa program ini dapat dilakukan melalui kerja sama dengan sektor swasta untuk memfasilitasi pelatihan gratis bagi siswa rentan melalui sekolah atau berbagai komunitas.

Simak Video "Nicholas Saputra Sambut Baik Program Literasi Digital Kemkominfo"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia