Anggarkan Rp 17 T untuk Produk TIK di Sekolah, Luhut Bakal Basmi Pemain Impor

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 22 Jul 2021 20:33 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono/Anggarkan Rp 17 T untuk Produk TIK di Sekolah, Luhut Bakal Basmi Pemain Impor
Jakarta - Pemerintah melalui Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan menetapkan anggaran Rp 17 triliun pada 2024 untuk penggunaan produk dalam negeri (PDN) di bidang pendidikan, khususnya produk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Harapannya, hal ini bisa mendorong produksi dalam negeri ketimbang impor.

Luhut mengatakan belanja produk dalam negeri (PDN) di sektor pendidikan dan belanja pemerintah pada bidang TIK yang masih rendah. Hal itu bila dibandingkan dengan belanja produk impor.

Sebagai informasi, data Kementerian Perindustrian mendapati permintaan produk laptop di Indonesia mencapai 3 juta unit per tahun dengan market share produk impor 95%. Sedangkan laptop dalam negeri hanya mencapai 5%.

Luhut pun menjelaskan keberadaan produk impor menjadi permasalahan utama terhambatnya pemakaian produk lokal di masyarakat.

"Kita dorong, jadi tidak boleh kita impor agar kita bisa produksi sendiri. Harus dibasmi orang-orang yang masih bermain-bermain di sini, khususnya untuk produk TIK yang masih rendah jika dibandingkan dengan produk impor," kata Luhut dalam jumpa pers virtual, Kamis (22/7/2021).

Luhut menjelaskan, pengadaan produk lokal TIK di bidang pendidikan dilaksanakan bertahap. Untuk anggaran 2021, lanjutnya, kebutuhan Kementerian Pendidikan, Riset, Teknologi, dan Kebudayaan (Kemendikbudristek) akan pengadaan laptop sejumlah 431.730 unit atau sebesar Rp 3,7 triliun.

"Sebanyak 189.165 unit atau Rp 1,3 triliun melalui APBN 2021 dan 242 unit.565 unit atau Rp 2,4 triliun melalui DAK (dana alokasi khusus) fisik pendidikan. Saat ini juga sudah dilakukan penandatangan kontrak atas penggunaan PDN senilai Rp 1,1 triliun," papar Luhut.

Ia mengatakan, pemerintah daerah (pemda) berkewajiban mengalokasikan DAK fisik pendidikan untuk membeli PDN untuk sekolah-sekolah seperti halnya Kemendikbudristek membelanjakan anggaran 100% untuk pengadaan laptop. Sebelumnya, Mendikbudristek Nadiem menyebut Kemendikbudristek telah membelanjakan anggaran Rp1,3 triliun untuk 190.000 laptop yang disalurkan ke 12.000 sekolah.

Luhut mengatakan, saat ini ada 6 produsen laptop dalam negeri dengan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 25% dan sudah dapat memenuhi kebutuhan pengadaan PDN TIK Kemendikbudristek dan pemda pada 2021.

"Kesiapan produksi dalam negeri adalah 351.000 unit pada September 2021 dan total sebanyak 718.000 unit pada November 2021," kata Luhut.

Luhut menjelaskan, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) juga tengah bekerjasama membentuk konsorsium untuk memproduksi tablet dan laptop 'Merah Putih' dengan merek Dikti Edu.

"Industri wajib melakukan offset agreement untuk meningkatan R&D (research and development) dengan ikut sertakan vokasi dan pendidikan tinggi yang dituangkan dalam kontrak pemesanan," kata Luhut.

Ia mengatakan, pemerintah berkomitmen dalam mendorong investasi produksi peralatan TIK untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Komitmen tersebut, lanjutnya, diwujudkan lewat skema insentif dan disinsentif. Sebagai informasi, pemerintah memberikan tax deduction sebesar 300% bagi perusahaan yang melakukan kegiatan riset dan pengembangan.

Luhut menambahkan, pemerintah juga memberikan sertifikasi Tingkat Komponen dalam Negeri (TKDN) secara gratis mulai 2020 untuk produk dengan proyeksi nilai TKDN di atas 25% dengan maksimal 8 jenis produk per industri.

"Fasilitas ini menggunakan dana PEN dengan total Rp112 miliar," jelas Luhut.

Simak Video "Kala Dunia Apresiasi Kinerja RI dalam Mengendalikan Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia