Lebih 50 Persen Kelurahan di Jakarta Tak Punya SMA Negeri

Rahma Harbani - detikEdu
Jumat, 04 Jun 2021 20:30 WIB
Sejumlah orang tua murid mendatangi SMAN 8 Jakarta untuk mendaftar PPDB DKI 2019 Jalur Zonasi. Tak sedikit dari mereka yang telah mengantre sejak pagi.
Foto: Agung Pambudhy/Lebih 50 Persen Kelurahan di Jakarta Tak Punya SMA Negeri
Jakarta - Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nahdiana menyebutkan sebaran sekolah menengah negeri di Jakarta baik Sekolah Menengah Atas maupun Sekolah Menengah Pertama tak merata di tiap wilayah. Menurutnya ini merupakan salah satu persoalan yang dihadapi dalam penerimaan peserta didik baru atau PPDB.

Dari sebanyak 267 kelurahan yang ada di lima kota dan kabupaten di DKI Jakarta sebanyak 168 kelurahan tidak memiliki SMA negeri. Sementara untuk jenjang SMP terdapat 86 kelurahan yang tak punya sekolah negeri.

"Namun ada juga beberapa kelurahan punya 3 SMA Negeri, ada 2 kelurahan dalam data kami. Sementara ada 4 kelurahan yang punya 5 SMP Negeri. Sebarannya memang tidak sama," ujar Nahdiana dalam diskusi bertajuk PPDB DKI Jakarta dan Kesetaraan Akses Pendidikan untuk Semua Anak, Jumat (4/6/2021) yang digelar Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK).

Selain persoalan tak meratanya sebaran sekolah, Nahdiana juga menyebut terdapat juga persoalan pada daya tampung. Kemudian sebaran penduduk di Jakarta tidak sama di tiap wilayah termasuk di beberapa titik memiliki hunian vertikal. "Peminatan pada sekolah negeri juga sangat tinggi," katanya.

Setelah melalui berbagai evaluasi dan diharmonisasi dengan aturan dari Kemendikbudristek, Nahdiana menyatakan perubahan sistem zonasi untuk PPDB 2021 berbeda dengan tahun lalu. Tahun sebelumnya, jalur zonasi diberlakukan zonasi kelurahan dan irisan kelurahan.

"Yang paling penting kami sesuai dengan Permendikbud. Turunannya kita memiliki Pergub No 32, yang proses kita keluarkan Pergub ini pun melalui harmonisasi yang dilakukan dengan Kemendikbud dan Kemendagri. Tahun lalu tidak mengerluarkan ini," ujar Nahdiana.

Pada pelaksanaan PPDB 2021, menurut Nahdiana saat ini tengah dicoba untuk membuka prioritas 1. Prioritas ini diberikan pada calon perserta didik baru yang domisilinya bertepatan 1 RT dengan sekolah.

"Tahun ini kita mencoba prioritas. Prioritas 1 kita berikan kepada calon peserta didik baru yang domisilinya sama dengan RT sekolah," ujar mantan Kepala Sekolah SMA Negeri 8 Jakarta itu. "Tetapi irisan RW juga terjadi di sini. Yang menempel (atau) yang di gerbang sekolah. Karena kan kondisinya tidak sama."

Alasan dibentuk prioritas 1 untuk memberikan kesempatan pada calon peserta didik yang berada paling dekat dengan sekolah.

Menurut Nahdiana, alasan zonasi prioritas 3 diberlakukan langsung pada kelurahan, hal ini didasarkan pada fakta di lapangan. Pada sekolah tertentu ada yang berhimpitan langsung dengan rumah-rumah penduduk, namun berada pada kelurahan yang berbeda.

"Ada sekolah tertentu yang berhimpitan juga (dengan rumah penduduk), (tetapi) kelurahannya juga beda. Itu yang menyebabkan kita langsung ke prioritas 3. Kita memberikan kesempatan karena di sebagian tempat ada yang sudah selesai di prioritas 2," jelasnya.

Nahdiana mengharapkan dengan aturan PPDB 2021 yang baru seluruh sekolah negeri di Jakarta memiliki kesetaraan mutu dan juga kesetaraan dalam aksesnya.

Perlu diketahui, perjenjangan zonasi SMP-SMA/SMK pada PPDB 2021 didasarkan pada tiga prioritas, di antaranya:


- Zona prioritas 1: RT calon peserta didik baru (CPDB) sama dengan SMA;
- Zona prioritas 2: RT CPDB sebelah dari RT SMA; dan
- Zona prioritas 3: Kelurahan CPDB adalah kelurahan sekolah atau kelurahan yang berdekatan dengan sekolah.

Adapun daftar kuota jenjang SMP/SMA secara lengkap adalah sebagai berikut


Daftar Kuota Jenjang SMP/SMA:

PPDB untuk jenjang SMP dan SMA terdiri dari:
a. Jalur Prestasi akademik dengan kuota 18% (delapan belas persen)
b. Jalur Prestasi non-akademik dengan kuota 5% (lima persen)
c. Jalur Afirmasi dengan kuota 25% (dua puluh lima persen)
d. Jalur Zonasi dengan kuota 50% (lima puluh persen)
e. Jalur Perpindahan Tugas Orang Tua dan Anak Guru dengan kuota 2%

Simak Video "Aspal Lebih Halus, Tapi Kenapa Beton yang Dipakai untuk Jalan?"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia