Hari Kartini 2021 dan Perjuangan Mengejar Kesetaraan lewat Pendidikan

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 20 Apr 2021 22:02 WIB
kartini
Foto: istimewa

Rajin membaca dan mencatat


Lewat membaca dan membuat catatan, Kartini mempelajari dan memahami pemikiran emansipasi yang berkembang di negara-negara lain. Pengetahuan ini menjadi dasar Kartini untuk mewujudkan terciptanya kesetaraan manusia dan kemanusiaan.

R.M Sosrodiningrat senang melihat kegemaran Kartini membaca. Ia berlanggganan kotak bacaan (leestrommel) berisi buku, koran, dan majalah dalam dan luar negeri yang ditukar setiap minggu. Bacaan yang tidak mudah dipahami dibacanya berulang-ulang.

Kata-kata yang tidak ia mengerti dicatat Kartini dan ditanyakan ke R.M. Sosrokartono, kakak kesayangannya yang pulang ke Jepara saat libur sekolah.

Perhatian dan simpati kepada Kartini ditunjukkan kakaknya dengan memberikan buku yang sesuai dengan usia Kartini sehingga mudah dipelajari dan dipahami.

Seiring waktu, Kartini juga bercita-cita menjadi guru. Keinginan ini diungkapkan kepada Nyonya Nelly Van Kol,

"Tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih sungguh-sungguh yang saya inginkan, kecuali dididik dalam bidang pengajaran," seperti dikutip dari Sisi Lain Kartini.

Kartini pernah berupaya mencari beasiswa dengan mengirim surat pada sahabatnya Nyonya Ovink Soer. Tetapi orangtuanya tidak mengizinkannya studi ke Belanda.

Peluang Kartini mendapatkan pendidikan sedikit terbuka saat pemerintah Belanda mengumumkan politik kolonial baru pada September 1901.


Melanjutkan sekolah

Ratu Wilhelmina dalam sidang parlemen memproklamasikan politik etis yang mengharuskan pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat jajahan di Hindia Belanda.

Gagasan emansipasi dan cita-cita Kartini untuk maju dengan pendidikan mulai jadi perhatian pemerintah Hindia Belanda. Pada 8 Agustus Kabupaten Jepara dikunjungi JH. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Kerajinan, dan Agama.

Abendanon datang untuk menjelaskan rencana pendirian kostchool untuk gadis bangsawan. Kostschool adalah sekolah asrama di bawah pengawasan guru.

Kartini mendukung rencana tersebut karena akan menambah pengetahuan kaum perempuan sehingga menyadari hak mereka selama ini terampas.

Kartini juga menyarankan pembukaan pendidikan kejuruan agar perempuan terampil dan mandiri, tidak bergantung kepada laki-laki.

Abendanon yang terkesan dengan penjelasan Kartini dan ayahnya mengundang mereka ke Batavia. Di sana, Kartini ditawari Direktur HBS Batavia Nona Van Loon untuk melanjutkan studi di sekolahnya.

Saat itu ayah Kartini mengizinkannya untuk melanjutkan studi menjadi guru. Tetapi sebagian besar bupati menolak surat edaran Abendanon tentang kostschool dengan alasan aturan adat bangsawan tidak mengizinkan anak perempuan dididik di luar.

Perjuangan Kartini untuk mendapat pendidikan terdengar oleh anggota parlemen Belanda Van Kol. Ia singgah ke Jepara dalam perjalanan ke Hindia Belanda pada 1902.

Pemikiran Kartini tentang persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan yang bisa dicapai melalui pendidikan disampaikan dengan jelas.

Kemampuan Kartini mendorong Van Kol memberi tawaran melanjutkan pendidikan ke Belanda bersama adiknya Roekmini dengan biaya pemerintah.

Tidak lama, Van Kol berhasil mendapatkan beasiswa studi untuk Kartini. Tetapi berbagai bujukan dan tekanan orang bumiputra dan keluarga Abendanon membuatnya mengurungkan niat ke Belanda.

Membuka sekolah Kartini

Dalam surat kepada anak keluarga Abendanon tanggal 27 Januari 1903 Kartini menulis sebab pembatalan studinya, di antaranya janji Mr. Abendanon mengizinkan Kartini membuka sekolah meskipun belum mengikuti ujian pendidikan guru.

Ia pun mencoba mengajukan studi di Batavia saja ke pemerintah Hindia Belanda. Surat permohonan Kartini dan Roekmini adiknya untuk belajar di Batavia tidak segera dijawab pemerintah.

Mereka lalu memutuskan membuka sekolah untuk anak-anak gadis pada Juni 1903.

Sekolah Kartini menekankan pembinaan budi pekerti dan karakter anak sehingga suasana sekolah diciptakan seperti suasana di rumah.

Sekolah berlokasi di pendopo kabupaten. Kegiatan belajar mengajar berlangsung empat hari seminggu, Senin-Kamis. Murid belajar 4,5 jam sehari, pukul 8 pagi-12.30 siang.

Kartini banyak menghabiskan waktu memikirkan pengelolaan sekolah barunya karena minat masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya bertambah. Di tengah masa tersebut, ia memutuskan menikah dengan Bupati Rembang Raden Adipati Djojo Adiningrat pada 8 November 1903.

Cita-cita Kartini dalam memajukan pendidikan gadis bumiputera dikhawatirkan redup setelah menikah dengan Bupati Rembang.

Tetapi Kartini tetap fokus merintis pendidikan kaum perempuan bumiputra, khususnya perempuan dari Jawa dan Madura.

Surat lamaran suaminya diterima Kartini dengan syarat sang Bupati Rembang menyetujui dan mendukung gagasan dan cita-cita Kartini. Kartini juga harus diizinkan membuka sekolah dan mengajar putri-putri bangsawan di Rembang.

Kartini juga mengalihkan beasiswa studi ke Batavia yang ia dan Roekmini dapat tidak lama setelahnya ke orang lain.

Kesehatan Kartini melemah setelah melahirkan anaknya pada 13 September 1903. Pada 17 September 1903, Kartini wafat dalam usia 25 tahun.

Sekolah yang sudah dirintis Kartini mengalami kendala setelah kematiannya. Keluarga Abendanon dan Nyonya Van Deventer kemudian membangun beberapa sekolah nama Sekolah Kartini.

Seiring dengan berjalannya waktu, sekolah Kartini berkembang ke kota-kota lain, dengan program pendidikan yang mendukung keterampilan siswa.



Simak Video "Anak-anak Belajar Mengenali Sosok Kartini Lewat Rangkaian Puzzle "
[Gambas:Video 20detik]

(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia