Murid Putus Sekolah karena Pandemi COVID-19: Menikah dan Bekerja

Puti Yasmin - detikEdu
Jumat, 05 Mar 2021 21:11 WIB
Ilustrasi antar anak sekolah
Foto: iStock/Murid Putus Sekolah karena Pandemi COVID-19: Menikah dan Bekerja
Jakarta - Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal di kehidupan manusia, salah satunya di bidang pendidikan. Sebab, proses belajar-mengajar dilakukan secara jarak jauh atau virtual.

Para murid pun harus menanggung risiko learning loss atau menurunnya kompetensi belajar. Selain itu, risiko lainnya adalah ancaman putus sekolah yang menghantui para peserta didik.

Pada Desember 2020, UNICEF menemukan bahwa 938 anak di Indonesia putus sekolah akibat pandemi COVID-19. Bahkan, 75% di antaranya tak bisa melanjutkan sekolahnya.

"Dengan banyaknya orang tua kehilangan penghasilan dan pekerjaan, kami khawatir angka anak tidak sekolah dapat meningkat secara signifikan setelah pandemi," jelas Perwakilan UNICEF Indonesia Debora Comini dalam peluncuran Strategis Nasional Penanganan Anak Tidak Sekolah, beberapa waktu lalu.

Hal ini juga diungkapkan oleh Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti. Menurutnya, berdasarkan data KPAI sejak awal pandemi COVID-19 hingga Februari 2021 sudah lebih dari 150 anak putus sekolah karena menikah dan bekerja.

Alasan mereka didominasi karena kondisi ekonomi orang tua yang ikut terdampak pandemi COVID-19.

"Pertama, siswa putus sekolah karena menikah. Karena masih PJJ, mayoritas yang sudah menikah tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Wali kelas atau guru Bimbingan Konseling (BK) baru mengetahui setelah dilakukan home visit karena tidak pernah lagi ikut PJJ," ungkap dia saat berbincang dengan detikcom.

"Kedua, siswa putus sekolah karena bekerja. Sejumlah siswa SMK dan SMP terpaksa bekerja karena orang tua terdampak secara ekonomi selama pandemi. Sehingga anak harus membantu ekonomi keluarga," sambung dia.

Pada tahun 2020 terdapat laporan peserta didik yang putus sekolah mencapai 119 anak. Kemudian data Januari-Februari 2021 ada 33 anak putus sekolah karena menikah, sedangkan KPAI tidak memperoleh data siswa yang bekerja.

"Tahun 2020 ada 119 anak yang menikah dan putus sekolah. Kalau yang bekerja tidak ada datanya. Pada Januari-Februari 2021 jumlah siswa yang berhenti sekolah karena menikah jumlahnya mencapai 33 peserta didik dari kabupaten Seluma, Kota Bengkulu dan Kabupaten Bima. Kalau siswa putus sekolah karena bekerja, ada 1 siswa SMPN di Cimahi bekerja sebagai tukang bangunan demi membantu ekonomi keluarganya. Ada 1 siswa di Jakarta yang bekerja di percetakan," papar Retno.

Alasan lain penyebab putus sekolah adalah kurangnya fasilitas dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ), misalnya gadget, kuota belajar, pasokan listrik hingga sinyal operator yang kurang baik.

"Mereka mutusin sekolah karena nggak punya alat (gadget), ada yang nggak punya listrik juga, nggak bisa beli kuota atau nggak ada sinyal juga. Kalau yang berikutnya juga karena nggak bisa bayar SPP kan di daerah ada beberapa yang masih bayar," jelas Retno.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo juga mendapatkan laporan yang sama. Para siswa di daerah tidak memiliki fasilitas yang mendukung dalam proses PJJ akibatnya mereka jadi malas dan putus sekolah.

"Nggak punya HP atau gawai dan guru nggak melakukan home visit karena wabah COVID-19 semakin merebak. Siswa nggak terdampingi dan akhirnya malas belajar, sehingga putus sekolah. Beberapa terlanjur bekerja dan menikah," jelas pria yang juga guru di SMA Labschool Jakarta ini.

Data Putus Sekolah Akibat Pandemi Covid-19Data Putus Sekolah Akibat Pandemi Covid-19 Foto: Tim Infografis detikcom

Persoalan Baru

Lebih lanjut, ia juga menyoroti pergaulan para peserta didik yang saat ini kurang diperhatikan para orang tua. Sebab, hal ini bisa menimbulkan masalah baru di kehidupan sosial.

"Jadi adanya potensi-potensi putus sekolah karena kerja, tidak bisa belajar, pergaulan bebas sehingga harus menikah dini akan menimbulkan persoalan baru, yakni problem sosial. Sebab, mereka kepribadiannya tidak berkembang, intelektual dan bonus demografi juga ngaruh ini. Sehingga potensi putus sekolah akibat PJJ jadi potret suram," ungkap Heru.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi melalui Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa melakukan sensus terbatas terkait putus sekolah di masa pandemi. Sensus melibatkan responden berusia 7-18 tahun.

Hasilnya, diketahui sebanyak 938 anak putus sekolah karena pandemi COVID-19. Angka ini merupakan 1% dari total persentase di mana 88% masih bersekolah dan 11% telah putus sekolah sebelum pandemi COVID-19.

Sementara itu, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah (PAUD Dikdasmen) Kemendikbud, Jumeri mengatakan hingga saat ini pihaknya belum mendata murid yang putus sekolah selama pandemi COVID-19. Namun, pihaknya telah mendapat laporan mengenai peserta didik yang putus sekolah. Rencananya, mereka akan melakukan survei saat pembelajaran tatap muka (PTM).

"Kami belum mendata karena siswa belum masuk, nanti baru tahu setelah PTM full kita sensus lagi. Karena sekarang pasti tidak valid. Saat ini kami belum punya data akurat tentang siswa yang putus sekolah karena siswa masih belajar dari rumah. Memang saat ini ada siswa yang bekerja dan nanti setelah PTM diperkirakan akan balik ke sekolah," kata dia saat dihubungi detikcom.

Pihaknya juga belum memutuskan kebijakan apa yang akan dilakukan terkait putus sekolah di masa pandemi. Namun, ia memastikan ada program untuk mengatasi kondisi tersebut, misalnya Program Indonesia Pintar (PIP) hingga vaksinasi guru.

"Banyak program kemendikbud untuk atasi putus sekolah, program PIP, pemberian BOS dengan indeks majemuk, bantuan pulsa, vaksinasi guru oleh pemerintah dan mendorong Pemda dan sekolah untuk bisa membuka PTM sesuai SKB 4 Menteri," tutupnya.

"Belum kesana (memutuskan kebijakan)" tutup Jumeri. (pay/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia