6 Rekomendasi Bidang Kuliah untuk Berkarier di Bidang AI, Ada Apa Saja di Kampus RI?

ADVERTISEMENT

6 Rekomendasi Bidang Kuliah untuk Berkarier di Bidang AI, Ada Apa Saja di Kampus RI?

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Sabtu, 10 Jan 2026 14:00 WIB
6 Rekomendasi Bidang Kuliah untuk Berkarier di Bidang AI, Ada Apa Saja di Kampus RI?
Ilustrasi AI. Foto: Getty Images/Prae_Studio
Jakarta -

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah merombak jalur karier di seluruh dunia. World Economic Forum sebelumnya memprediksi ada 85 jutaan pekerjaan pada 2025, yang digantikan oleh AI. Namun, ini juga membuka kesempatan baru bagi mereka yang mau ambil peran dalam era ekonomi berbasis AI ini.

Maka pertanyaannya bukan lagi "apakah AI akan merombak pasar kerja," karena memang sudah diubah oleh AI. Pertanyaan yang paling tepat saat ini adalah, "Jurusan kuliah apa yang mampu membekali mahasiswa untuk berkolaborasi dengan AI dan bukan bersaing."

Berdasarkan hasil analisis data ketenagakerjaan, proyeksi gaji dan tren industri, setidaknya terdapat enam jurusan yang cocok untuk era ekonomi berbasis AI ini. Bidang-bidang tersebut memadukan keterampilan unik manusia dengan literasi teknis di mana para lulusan, nantinya dapat memposisikan diri untuk memimpin dan bukan sekadar mengikuti perubahan teknologi, sebagaimana dikutip dari Forbes pada (6/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, bidang keilmuan apa saja yang pas untuk berkarier di bidang AI?

Rekomendasi Bidang Kuliah untuk Berkarier di Bidang AI

1. HCI (Human-Computer Interaction)

Human-Computer Interaction (HCI) merupakan bidang yang menggabungkan psikologi, ilmu komputer, dan desain untuk menciptakan teknologi yang bersifat intuitif dan mudah digunakan.

ADVERTISEMENT

College Factual menyebut, perkembangan karir di bidang HCI diprediksi tumbuh sebesar 9,3 persen dari tahun 2016 hingga 2026. Sementara itu, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (US BLS) memperkirakan peningkatan sebesar 13% pekerjaan di bidang IT dari tahun 2016 sampai 2026.

Posisi ilmuwan riset komputer juga tumbuh sekitar 16%. Prediksi terbaru BLS menunjukkan pekerjaan di bidang teknologi semakin pesat pertumbuhannya hingga tahun 2033.

Hal ini semakin didukung dengan kesadaran perusahaan untuk berinvestasi dalam desain yang berpusat pada manusia. Harvard Business Review mencatat bahwa 'design thinking,' telah menjadi prioritas strategis untuk menciptakan produk yang lebih efektif dan relevan.

Meski AI mampu mencatat kode dan menganalisis perilaku pengguna, ia tetap tidak bisa merasakan frustrasi atau memahami kepuasan emosional seperti tatap muka yang dirancang dengan baik. Di sinilah peran seorang profesional HCI berperan penting.

Prospek karir yang dimiliki meliputi: UX researcher, product designer, human factors engineer, dan accessibility specialist. Pekerjaan tersebut dapat bertahan di era gempuran AI karena mengandalkan empati dan kreativitas, serta advokasi pengguna yang tidak bersifat otomatis.

2. Ilmu Kognitif

Ilmu kognitif berada di titik temu antara psikologi, ilmu saraf, ilmu komputer dan filsafat. Pendekatan interdisipliner ini diprediksi akan menghasilkan lulusan yang paham dengan cara berpikir manusia serta bagaimana manusia memproses informasi. Ilmu ini juga dibutuhkan seiring dengan perkembangan AI.

Keunggulan bidang ini adalah fleksibilitas penghasilan dan tentunya karier. Jurusan ini menyiapkan mahasiswa untuk peran-peran baru dalam AI.

Jurusan ini juga membuka peluang karier di bidang AI ethics specialist, cognitive analytics, user researcher, dan human factors consultant. Pekerjaan-pekerjaan di bidang tersebut dinilai dapat bertahan kuat di zaman serba AI karena pemahaman tentang pengambilan keputusan tetap menjadi keunikan manusia.

3. Ilmu Komunikasi

Di tengah arus konten-konten AI, komunikasi khas manusia justru terasa lebih autentik dan bernilai. Mahasiswa komunikasi dilatih untuk membaca isyarat sosial, membangun kepercayaan, mengelola konflik, dan mempengaruhi orang lain. Kemampuan tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan sulit ditiru oleh mesin.

Misalnya, seorang manajer periklanan tidak hanya fokus pada kampanye dan anggaran, ia juga dituntut untuk bisa memahami dan memotivasi audiens. Kemampuan tersebut membantu mereka untuk menyusun strategi komunikasi yang efektif dan tepat sasaran.

Kuncinya adalah mampu menggunakan dan menguasai literasi digital dengan baik. Lulusan ilmu komunikasi yang paham tentang analisis data, algoritma media sosial, dan strategi konten, sangat mungkin untuk mendapat posisi strategis dan gaji kompetitif.

Prospek karier yang dapat digeluti bagi lulusan ilmu komunikasi adalah brand strategist, crisis communication manager, digital marketing director, dan organizational development specialist. Pekerjaan di bidang ini cenderung bertahan di era AI karena membangun hubungan yang autentik dan pemikiran strategis membutuhkan penilaian manusia.

4. Kesehatan Masyarakat

Bidang kesehatan dinilai tetap menjadi tulang punggung ekonomi global. Pada 2025, jurusan kesehatan tergolong dalam kelompok gaji tertinggi. Bidang ini memadukan analisis data dan pemecahan masalah berbasis manusia.

Para profesional kesehatan masyarakat memanfaatkan teknologi AI untuk melacak penyakit, alokasi sumber daya, dan pemodelan prediktif. Namun, keputusan strategis tetap membutuhkan pemahaman sosial, budaya, dan etika.

Beberapa posisi spesialis seperti perawat anestesi, mendapatkan penawaran gaji di Amerika Serikat rata-rata 200 ribu dolar per tahun atau sekitar 3 milyar rupiah. Seiring meningkatnya data yang digunakan dalam pelayanan kesehatan, para profesional kesehatan berperan penting sebagai jembatan antara teknologi dan kebutuhan manusia.

Prospek karier di bidang ini meliputi ahli epidemiologi, analis kebijakan kesehatan, koordinator kesehatan global, ahli biostatistik. Profesi ini akan terus bertahan di era AI karena keterlibatan komunitas dan pengambilan keputusan etis membutuhkan wawasan manusia.

5. Kewirausahaan

Meski AI dan pembelajaran mesin menawarkan gaji tinggi, kewirausahaan mengasah kemampuan mahasiswa untuk membidik peluang yang tidak terlacak algoritma. Kewirausahaan mendorong adaptabilitas, kreativitas, dan keberanian mengambil resiko.

Mereka diasah untuk memiliki keterampilan penting di tengah perubahan pasar. Para mahasiswa belajar untuk mengidentifikasi kesenjangan pasar, membangun tim, serta menghadapi ketidakpastian. Wirausahawan yang dapat sukses di era Ai adalah mereka yang mampu melihat keterbatasan dan kemampuan sambil berfokus pada solusi yang membutuhkan empati dan kreativitas manusia.

Prospek karier di bidang ini meliputi pendiri startup, analis modal, konsultan inovasi, hingga pengembang bisnis. Bidang ini resistan terhadap AI karena untuk melihat peluang dan kepemimpinan membutuhkan intuisi dan kreativitas manusia.

6. Teknologi Pendidikan

Dunia pendidikan tengah dihadapkan dengan transformasi besar-besaran. Permintaan tenaga pendidik yang kompeten untuk mengintegrasikan metode pengajaran tradisional dan teknologi digital kian meningkat. Terlebih keadaan saat ini yang mengalami kekurangan tenaga pengajar berkualitas di berbagai negara khususnya di bidang STEM.

AI memang bisa mempersonalisasi pembelajaran dan memantau kinerja siswa, tapi peran guru tidak mungkin digantikan. Guru memiliki peran penting dalam membimbing, memotivasi, dan beradaptasi untuk mengambil keputusan secara langsung di kelas.

Selain guru, peran seorang perancang sistem pembelajaran (learning system designer) semakin dibutuhkan dalam merancang sistem untuk sekolah, perusahaan dan program pelatihan.

Jenjang karier dalam bidang ini meliputi learning experience designer, educational technology coordinator, curriculum developer, hingga corporate trainer. Profesi tersebut dinilai cukup kebal dalam menghadapi arus perkembangan AI karena, motivasi, bimbingan dan pembelajaran bermakna masih butuh sentuhan manusia.

Kampus di Indonesia yang Menyediakan Jurusan soal AI

Berdasarkan arsip detikEdu, berikut kampus di Indonesia yang sudah menyediakan jurusan bahkan fakultas terkait AI:

  1. Jurusan Rekayasa Kecerdasan AI (S1) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
  2. Jurusan Artificial Intelligence (S1) di Universitas Bina Nusantara
  3. Jurusan Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan (S1) di Universitas Airlangga
  4. Jurusan Kecerdasan Artificial (S2) di Universitas Gadjah Mada
  5. Jurusan Kecerdasan Buatan (S2) di Universitas Syiah Kuala
  6. Jurusan Sains dan Kecerdasan buatan (S2) di Universitas Sumatera Utara
  7. Faculty of Artificial Intelligence (FAI) di Universitas Pelita Harapan.




(nah/nah)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads