Di Tengah Pemerintahan Presiden Donald Trump, Bagaimana Peluang Kuliah di AS?

ADVERTISEMENT

Di Tengah Pemerintahan Presiden Donald Trump, Bagaimana Peluang Kuliah di AS?

Devita Savitri - detikEdu
Jumat, 09 Jan 2026 20:30 WIB
Di Tengah Pemerintahan Presiden Donald Trump, Bagaimana Peluang Kuliah di AS?
Kampus MIT Amerika Serikat. Ini peluang mahasiswa internasional untuk berkuliah di AS menurut profesor UChicago. Foto: MIT/Emer Garland
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) jadi negara yang punya peran penting dalam keadaan geopolitik dunia saat ini. Di era kepemimpinan Presiden Donald Trump, berbagai kejadian yang menghebohkan dunia terjadi.

Terbaru, Amerika Serikat melakukan penangkapan kepada Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Maduro didakwa atas tuduhan terorisme narkoba, perdagangan kokain, dan kepemilikan senjata mesin dan alat peledak yang ditujukan untuk AS.

Di bidang pendidikan, pada pertengahan 2025 lalu, Trump juga sempat membuat heboh dunia. Di mana, ia mengeluarkan kebijakan kontroversial yang melarang Universitas Harvard menerima mahasiswa asing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan keadaan ini, sebenarnya bagaimana peluang mahasiswa Indonesia yang ingin berkuliah ke AS?

ADVERTISEMENT

Peluang Kuliah Mahasiswa RI ke AS

Profesor di The University of Chicago Amerika Serikat (AS) asal Indonesia, Haryadi Gunawi mencoba menjawabnya. Haryadi panggilan akrabnya mengaku pada pemerintahan baru tidak bisa dihindari ada ketentuan baru pula yang akan diambil.

Bila ia melihat riset di kampus AS peluang untuk kuliah di AS masih terbuka lebar. Menurutnya tidak mungkin penurunan penerimaan mahasiswa baru internasional mencapai 0%.

"Tapi yang namanya riset di kampus Amerika gak mungkin dari 100% atau misalnya 50-60% kita terima mahasiswa internasional lalu turun ke 0%," tutur Haryadi dalam webinar Garuda ACE: Dari Pelatihan Riset Ilmu Komputer Terbuka Sampai Panduan Mencari Beasiswa S2/S3 Kampus Luar Negeri, Kamis (8/1/2026), ditulis Jumat (9/1/2026).

Setidaknya di bidang Ilmu Komputer melalui program PhD kombo S2 dan S3, Haryadi menilai akan mengalami penurunan penerimaan mahasiswa baru sebanyak 20%. Hal ini menjadi salah satu imbas dari pemerintahan baru di Negeri Paman Sam tersebut.

Kendati demikian, alih-alih memikirkan turunnya kuota penerimaan, Haryadi menyarankan agar calon mahasiswa fokus dalam persiapan. Pemikiran ini disebutnya dengan 'probabilitic thinking'

"Kita harus probabilitic thinking yaudah bagaimana kita mempersiapkan biar kita tetap masuk ke top 80%. Kalau kita bisa mempersiapkan diri ke top 80%, kita should dont worry about this. Kampus Amerika tetap berjalan," tegasnya.

Menurut Haryadi, mahasiswa internasional pasti akan mengalami rasisme dan mendapat gangguan. Pemberitaan yang ada baginya terkadang tidak selalu memperlihatkan keadaan nyata di kampus AS melainkan menyoroti isu yang sedang ramai saja.

"Kalau kita lihat media, news, dan reels, mereka bakal push yang ramai-ramai dan heboh-heboh. Tapi menurut saya itu hanya part of journalist, itu tidak reflect dari the real situation," tandasnya.

Persiapan PhD Lewat Program Garuda ACE

Salah satu persiapan yang bisa dilakukan untuk berkuliah lewat program PhD di Amerika Serikat adalah mengikuti program Garuda ACE (Academic of Excellence). Garuda ACE adalah program beasiswa non-gelar dari Kemdiktisaintek yang fokus pada pelatihan riset internasional.

Kriteria pesertanya adalah mahasiswa aktif S1 dan S2 di bidang STEM. Program ini membuka jalan untuk studi lanjut ke luar negeri termasuk Amerika Serikat.

Namun, Haryadi menyebut di 2026 program Garuda ACE kemungkinan tidak membuka pendaftaran. Mengingat program peserta pendaftar di 2025 masih berjalan dan perlu diselesaikan.




(det/faz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads