Ancaman Hoaks di Depan Mata, Dosen ITS Kembangkan Game Edukatif

Fahri Zulfikar - detikEdu
Rabu, 24 Nov 2021 10:00 WIB
Hands holding mobile phone on blurred night city as background
Foto: Getty Images/iStockphoto/B4LLS
Jakarta - Penyebaran berita bohong atau hoaks menjadi ancaman nyata dalam dunia internet. Siapapun bisa saja terkena hoaks apabila kurang memahami isu dengan baik dan minimnya literasi yang dimiliki.


Data American Journal of Tropical Medicine and Hygiene tahun 2020 bahkan menyebut Indonesia menempati ranking lima dunia dalam penyebaran rumor, stigma dan teori konspirasi terkait Covid-19.


Beranjak dari permasalahan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sebuah game edukasi guna meningkatkan kualitas baca dan kesadaran masyarakat akan bahayanya berita hoaks.


Tim Abmas yang berbasis produk ini terdiri atas gabungan tujuh orang dosen dari Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) ITS dan Departemen Sistem Informasi (SI) ITS.


Ketujuh dosen tersebut ialah Nugrahardi Ramadhani SSn MT, Rabendra Yudistira Alamin ST MDs, Putri Dwitasari ST MDs, Nurina Orta Darmawati ST MDs, Didit Prasetyo ST MT, Naufan Noordyanto SSn MSn yang berasal dari Departemen DKV ITS, dan Renny Pradina Kusumawardani ST MT dari Departemen SI ITS.


Ketua tim Abmas, Nugrahardi Ramadhani SSn MT menjelaskan bahwa proyek Abmas ini merupakan ide hasil kolaborasi Sustainable Development Goals (SDGs) ITS bersama Departemen DKV ITS dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo).


Proyek ini memiliki konsep dengan mekanika permainan, seperti achievement, motivation, learning, dan challenge.


"Dibandingkan konsep game yang menghibur, gamifikasi kami mengombinasikannya dengan proses pembelajaran," terangnya seperti dikutip dari laman resmi ITS, Selasa (23/11/2021).


Game Pramana Sahwahita


Game edukatif hasil karya Tim Abmas ITS kemudian diberi nama Pramana Sahwahita. Dhani memaparkan, nama Pramana Sahwahita sendiri berarti mencari pengetahuan untuk kebenaran yang bermanfaat demi kemaslahatan umat manusia.


Dengan pemikiran tersebut, Tim Abmas ini akan bertugas sebagai perpanjangan tangan ITS untuk membantu mitra, mengobservasi karakteristik masyarakat dari konten-konten hoaks yang beredar di masyarakat.


Dosen Departemen DKV ITS ini mengaku, tujuan utama dalam game ini adalah permainan peran (role play), di mana masyarakat akan dilibatkan secara aktif dalam proses pembuatan dan penyebaran berita hoaks. Sehingga diharapkan nantinya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam bersikap.


Cara Permainan


Nantinya, masyarakat akan disajikan sebuah berita bertemakan COVID-19 serta diajak menebak dan pembuktian berita hoaks.


Selain itu, pemain juga akan diarahkan pada aksi berikutnya, yaitu memberitakan kepalsuan beritanya, tidak bersikap apa-apa, atau justru turut menyebarkan kembali berita tersebut kepada orang lain.


Meskipun game ini masih dalam bentuk prototipe, tim ini berhasil menyajikan visual yang menarik dan terdiri dari 15 level, di mana tiap level mempunyai dialog-dialog atau info tentang berita hoaks atau bukan.


Masing-masing tindakan ini akan mendapatkan akumulasi poin dan akan dikategorikan apakah layak menjadi netizen produsen hoaks, user pasif atau layak menjadi agen pemberantas hoaks.


Dengan adanya game ini, Dhani berharap penyebaran berita hoaks dapat diminimalisasi dimulai dari lingkup yang kecil.


"Diharapkan masyarakat dapat lebih sadar untuk mengenali kebenaran berita yang beredar melalui cek fakta sebelum bereaksi," tuturnya.

Simak Video "Sutradara Buka Suara soal 'Squid Game 2' dan 'Squid Game 3'"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/faz)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia