Buka AICIS 2021, Menag Ungkap Pentingnya Rekontekstualiasi Fikih

Bayu Ardi Isnanto - detikEdu
Senin, 25 Okt 2021 18:15 WIB
Pembukaan AICIS 2021 di Surakarta 25 Oktober 2021 yang dihadiri Menteri Agama dan Wali Kota Solo
Pembukaan AICIS 2021 di Surakarta 25 Oktober 2021 yang dihadiri Menteri Agama dan Wali Kota Solo Foto: Bayu Ardi
Solo - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengungkap peran penting akademisi dalam merekontekstualiasi konsep fikih. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan keadaan zaman yang terus berubah.

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Yaqut saat membuka konferensi pendidikan Islam, Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2021 di The Sunan Hotel, Solo, Senin (25/10/2021).

Menurut rencana konferensi akan digelar hingga 28 Oktober 2021 dengan tuan rumah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. Konferensi diikuti akademisi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan sejumlah ilmuwan dari Arab Saudi, Iran, Amerika Serikat, Inggris, Turki, Korea Selatan, dan Malaysia.

"Penting bagi kita saat ini untuk membuka ruang bagi pemikiran dan inisiatif yang diperlukan untuk membangun peran konstruktif bagi Islam dalam kerja sama menyempurnakan tata dunia baru ini," kata Yaqut dalam sambutannya.

Hal tersebut sesuai dengan tema AICIS tahun ini, yakni 'Islam in a Changing Global Context: Rethinking Fiqh Reactualization and Public Policy'. Yaqut menyebut tema ini merupakan usulan dari dirinya.

"Awalnya tema acara ini hanya membahas public policy, tapi saya minta menyisipkan agenda kajian fikih seperti masa pandemi sekarang. Saya lihat beberapa konteks saat ini yang tidak bisa dihindari," ujar dia.

Yaqut juga menjelaskan alasan-alasan para ahli harus merekontekstualiasi ilmu fikih atau ortodoksi Islam. Antara lain ialah agar praktik pengamalan Islam tidak bertentangan dengan pesan keislaman itu sendiri.

"Dalam hal ini, para pemikir Islam sepanjang sejarah telah membuka ruang dan menyediakan perangkat-perangkat intelektual untuk keperluan itu dengan khazanah ilmu-ilmu tafsir, hadis, ushul fiqh, dan sebagainya," ujar dia.

Menurutnya, kontekstualisasi fikih sudah dimulai sejak awal peradaban Islam hingga bermunculan sejumlah mazhab. Di masa kini, kontekstualisasi fikih juga perlu dilakukan karena terjadi perubahan tatanan kehidupan yang sangat pesat.

"Selama lima abad terakhir, praktik ijtihad pada umumnya telah berakhir di seluruh dunia Muslim Sunni. Ketika muslim kontemporer mencari bimbingan agama, maka sumber referensinya adalah produk Abad Pertengahan," ujar Gus Yaqut.

Ia menambahkan, "Di tengah perubahan yang demikian pesat, dunia membutuhkan sebuah ortodoksi atau Fikih Islam alternatif, yang akan dirangkul dan diikuti oleh sebagian besar umat Islam di dunia."

Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis), Muhammad Ali Ramdhani, menyampaikan melalui Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) tahun ini ingin bisa mengekspor pemikiran Islam di Indonesia ke luar negeri.

Ramdhani mengatakan, ada keinginan besar dari forum AICIS ini. Sebab selama ini fikih-fikih yang digunakan di Indonesia hasil impor dari luar negeri. Sekarang Kemenag yakin dengan kekuatan intelektual dan pemahaman keagamaan yang baik dari para cendekiawan Muslim, Indonesia juga bisa mengekspor pemikiran Islam.

"Kita ingin mengekspor juga pemikiran-pemikiran Islam yang berada di Indonesia dan pijakannya sangat kuat, kita memiliki ahli-ahli yang memiliki reputasi untuk urusan-urusan reaktualisasi fikih," katanya.

Ia menerangkan, pemikiran Islam dari Indonesia bukan sekedar untuk menjawab persoalan di dalam negeri saja, tapi juga untuk menjawab isu global. Sebab pandemi Covid-19 tidak hanya terjadi di Indonesia, karena akibat pandemi terjadi perubahan fikih. Misalnya fikih pemulasaran jenazah korban Covid-19 dan lain sebagainya.

Ia mengatakan, secara mendasar melalui AICIS mencoba membangun logika fikih dan ushul fikih. Kemudian menyatakan bahwa agama itu tidak menghambat perkembangan manusia, tapi justru agama melindungi manusia. Agama juga mempermudah manusia untuk beribadah.

"Kalau ada silaturahmi pasti ada pertukaran ilmu dan lain sebagainya, kemudian ada kolaborasi antar berbagai para pakar dari multidisipliner," ujarnya.

Ramdhani menyebutkan membumikan agama adalah bagian penting dari sebuah pembentukan peradaban. Dialektika yang dibangun itu pada dasarnya untuk membumikan agama, sehingga fikih itu beradaptasi dengan kondisi masyarakat.

Menurut Ramdhani, kebijakan pemerintah dan fatwa dari para ulama atau cendekiawan Muslim untuk umat saat pandemi Covid-19 itu dibahas. Intinya untuk membangun fikih yang memenuhi kaidah maqashid syariah, terutama dalam menjaga jiwa atau hifdzun nafs.

Ramdhani menambahkan, pada dasarnya AICIS merupakan salah satu acara tempat berdialektika dan berdiskusi tentang gagasan hasil penelitian dari cendekiawan Muslim. Meskipun tidak harus Muslim semua pesertanya, ada juga para peneliti atau pemerhati Islam yang membincang banyak hal.

Simak Video "Kontroversi Menag Ucapkan Hari Raya ke Komunitas Baha'i"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia