Lintah Laut Bisa Jadi Minuman? Pakar IPB: Antioksidan dan Antikolesterol

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 14 Okt 2021 11:00 WIB
Kegiatan di kampus IPB University
Foto Ilustrasi : Dokumentasi IPB kegiatan di kampus IPB University
Jakarta - Lintah laut merupakan hewan laut yang bisa ditemukan di perairan Indonesia. Apakah detikers tahu, minuman dari lintah laut bisa menjadi antioksidan dan antikolesterol?

Guru Besar Departemen Teknologi Hasil Perairan (THP) IPB University Nurjanah menuturkan, ia menciptakan minuman dari lintah laut ini saat melakukan penelitian S3. Inovasi Nurjanah tersebut mencampurkan minuman fungsional dari lintah laut dengan temulawak dan rossela.

"Rasanya enak dan membuat segar badan," kata Nurjanah, dalam keterangan tertulis IPB University pada wartawan, Rabu (13/10/2021).

Nurjanah mengatakan, penelitiannya mendapat respons dari berbagai pihak setelah dipublikasi. Hanya saja, lanjutnya, lintah laut belum dibudidayakan di Indonesia.

Dosen Departemen Teknologi Hasil Perairan (THP) IPB University ini mengatakan, peluang teknologi hasil perairan di Indonesia sangat besar dalam preparasi, transportasi, hingga end product.

"Untuk meningkatkan nilai tambah, hanya perlu sentuhan sedikit saja dan sudah menghasilkan sesuatu," ujarnya.

Sebagai informasi, jelas Nurjanah, program studi THP mempelajari berbagai teknologi mutakhir dan tepat guna dalam mengolah berbagai hasil perairan hingga menjadi produk komersial unggulan.

Selain lintah laut, dikembangkan juga rumput laut sebagai bahan baku kosmetik dengan prinsip zero waste atau tidak menghasilkan limbah. Produk tersebut, lanjutnya, dikembangkan mahasiswanya di Rumah Rumput Laut (RRL).

Nurjanah mengatakan, pengembangan produk rumput laut tersebut meliputi lotion, krim muka, masker, pomade, dan lip balm yang sebagian sudah mendapat paten. Ia menjelaskan, produk tersebut bisa dipasarkan karena sudah mendapat izin Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM).

Anggota tim perumus Standar Nasional Indonesia (SNI) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini mengatakan, ia juga mulai mengembangkan garam rumput laut. Residu dari pembuatan garam tersebut, kata Nurjanah, juga dijadikan sebagai bahan scrub untuk mengatasi masalah penggunaan mikroplastik.

Nurjanah mengatakan, rumput laut yang dimanfaatkan untuk membuat scrub dengan prinsip zero waste ini adalah yang tidak terpakai dari jenis rumput laut merah, cokelat, dan hijau.

"Kita (Indonesia) ini memiliki spesies yang banyak dan campur-campur. Coba kita pergi ke laut, numpuk-numpuk itu ada biota yang di bawahnya nempel rumput laut. Makanya perlu kita perjuangkan bagaimana kombinasi atau pengembangan teknologi yang memanfaatkan seluruhnya secara kontinu. Kita agak sulit untuk single species, nanti akan kesulitan bahan baku karena budidaya kita belum berhasil. Sebagian besar masih dari hasil tangkap," katanya.

Nurjanah mengatakan, dirinya senang dengan adanya Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Ia berharap, mahasiswa yang baru mengawali belajar ilmu perikanan bisa menggali secara fokus sampai ke hilir atau komersialisasi melalui program tersebut.

"Marine is our future. Tinggal mau mengoptimalkan atau tidak. Hasil perikanan adalah sumber bahan baku yang sangat baik untuk meningkatkan imunitas. Mulai dari protein atau asam amino yang sangat baik, komponen bioaktif, vitamin dan mineral yang sangat lengkap, bahkan kandungan seratnya. Bisnis di bidang perikanan ini peluangnya sangat banyak dan menjanjikan," kata Nurjanah.

Simak Video "Era Disrupsi, Jokowi Dorong Universitas Perkuat Pemanfaatan Teknologi"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia