LPPM ITB Pilih Pesantren Sebagai 'Pusat Penelitian', Ini Alasannya

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Selasa, 05 Okt 2021 06:00 WIB
Infografis 10 Fakultas di ITB dengan daya tampung terbanyak
Foto: Fuad Hasyim/detikcom/LPPM ITB Pilih Pesantren Sebagai 'Pusat Penelitian', Ini Alasannya
Jakarta - Pesantren dipilih Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPPM ITB) untuk 'pusat penelitian.' Riset ini dalam program social lab laboratorium masyarakat.

Perlu diketahui, social lab yang dimaksud adalah suatu penelitian atau pengabdian masyarakat universitas. Riset bertujuan menemui dan mengatasi kompleksitas permasalahan ketika diujicobakan kelompok masyarakat tertentu.

Untuk riset ini, ITB mengembangkannya di masyarakat pesantren. Pihak ITB menyatakan religiusitas bisa menjadi modal budaya dalam pengembangan inovasi. Keterbatasan bukan alasan pesantren tidak berkembang.

"Ternyata religiusitas bisa menjadi modal budaya dalam pengembangan inovasi. Walaupun di tengah keterbatasan, bukanlah menjadi penghalang untuk berkarya. Sehingga pada akhirnya secara organisasi, pesantren untuk menjadi social lab bagi pengembangan inovasi di ITB," tulis ITB dalam laman resminya yang dikutip Senin (4/10/2021).

ITB telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan pesantren untuk kegiatan social lab. Misal, pertemuan antara dosen ITB dan ketua PW GP Ansor Jabar H. Deni Ahmad Haidar.

Selain itu, ITB juga melakukan focus group discussion yang dihadiri sivitas ITB PW Ansor Jabar, kiai muda se-Bandung Raya, dan perwakilan dari Kodam III Siliwangi sebagai koordinator Citarum Harum di Imah Noong Lembang.

Selanjutnya, ITB memilih pesantren-pesantren RMI NU (Rabithah Ma'ahid Islamiyah NU), lembaga NU dengan basis utama pondok pesantren, sebagai social lab mereka. Pemilihan diawali lokakaryadaring pada 7 Mei 2021.

Isu yang diangkat adalah pesantren sebagai social lab untuk inovasi berbasis pertanian terpadu. Menurut pihak ITB, isu ini dianggap dapat mempertemukan religiusitas, inovasi, dan pengembangan masyarakat.

forum juga membahas UU No 18/2019 yang menyebutkan ruang lingkup pesantren tidak hanya pendidikan dan dakwah. Pesantren juga bisa melakukan pemberdayaan masyarakat di lokasi pendiriannya.

"Pesantren di lingkungan NU selain menyelenggarakan pendidikan agama dan tahfiz (hafalan Alquran), juga memiliki spesialisasi atau program unggulan di bidang pertanian (45,6%), kewirausahaan (41,9%), peternakan (27,2%), perikanan (23,5%), dan teknologi informasi (19,9%)," tulis ITB.

Potensi inilah yang menguatkan alasan ITB untuk menjadikan pesantren sebagai pusat social lab. Sekaligus menjadikannya sebagai peluang untuk menjalankan fungsi penelitian dan pengabdian masyarakatnya.

Simak Video "Pengakuan Ustaz di Trenggalek Cabuli 34 Santri Selama 3 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia