Saat Mahasiswa UII Sulap Limbah Masker Jadi BBM

Jauh Hari Wawan S - detikEdu
Kamis, 23 Sep 2021 13:30 WIB
Mahasiswa UII Sulap Masker Jadi BBM
Foto: Jauh Hari Wawan S/detikEdu
Sleman -

Meningkatnya penggunaan masker selama pandemi COVID-19 menimbulkan ancaman baru. Baik untuk lingkungan maupun untuk kesehatan masyarakat.

Studi terbaru memperkirakan setiap bulan digunakan 129 miliar potong masker wajah di seluruh dunia. Lonjakan penggunaan masker menciptakan permasalahan, yakni peningkatan jumlah limbah plastik sekali pakai.

Berangkat dari keprihatinan itu, empat mahasiswa Teknik Kimia Universitas Islam Indonesia (UII) mencoba memanfaatkan limbah masker untuk dijadikan bahan bakar alternatif. Mereka adalah Guntur Marthabaya, Fathur Rizki Novriadi, Sidiq Ikhwanul Hakim, dan Faizal Sultan Widarsani.

"Idenya hadir dari sebuah keprihatinan kita dimana selama masa pandemi ini tanpa kita sadari masker yang digunakan sehari-hari apabila dibiarkan pada lingkungan alam menyebabkan bibit penyakit sekaligus penyebab masalah pada lingkungan hidup," ucap Guntur kepada wartawan, Kamis (23/9/2021).

Menurut Guntur, limbah masker tersebut sudah dilaporkan menyebabkan berbagai masalah. Di antaranya penumpukan sampah di TPA, resiko penyebaran virus dan bakteri, potensi menghasilkan lindi yang berbahaya bagi lingkungan, serta sulitnya limbah masker untuk terurai secara alami.

"Terlebih, sampah masker yang melimpah akan menjadi lebih bermasalah jika dibuang secara sembarangan," jelasnya.

Di sisi lain, kata Guntur, limbah masker sebenarnya berpotensi untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif melalui proses pirolisis.

"Cara mendapatkan bahan bakar dari limbah masker melalui metode pirolisis atau pemanasan dari benda padat menjadi cair," ungkapnya.

Masker sekali pakai terbuat dari bahan polimer, terutama dari Polypropylene(PP) atau High-Density Poly Ethylene (HDPE). Pada tahap awal, limbah masker harus dipisahkan dari jenis sampah lainnya.

Sebelum diproses, limbah masker didisinfeksi untuk menghilangkan virus atau bakteri yang menempel pada masker. Proses ini dilakukan dengan penyemprotan disinfektan ke limbah masker. Limbah masker kemudian diproses di dalam tabung reaktor pirolisis.

Pirolisis sendiri merupakan proses pemanasan tanpa adanya oksigen di dalam ruangan tertutup yang akan mengubah bahan baku menjadi produk cairan dan padatan. "Saat ini tabung reaktor pirolisis yang digunakan mempunyai volume 5 liter dan mampu menampung limbah masker sebanyak 1 kilogram," katanya.

"Nilai konversinya sekitar 50 hingga 60 persen, artinya satu kilogram masker kita dapatkan 500 hingga 600 mililiter bio oil," tambahnya.

Sementara itu dosen Fakultas Teknik Industri UII, Arif Hidayat mengatakan, hasil uji laboratorium dari bio oil yang dihasilkan setara dengan minyak tanah.

"Kalau untuk bahan bakar sehari-hari untuk masak-memasak saya kira sudah tidak masalah," ujarnya.

Pihaknya saat ini masih mengembangkan untuk menjadikan bio oil hasil pirolisis masker medis menjadi bahan bakar minyak untuk kendaraan.

"Kami juga sudah berfikir ke arah situ agar setara dengan pertalite atau yang lain tapi harus ada serangkaian proses lanjutan," pungkasnya.



Simak Video "Rencana Sri Sultan Usai Lokasi Wisata di Yogyakarta Dibanjiri Wisatawan"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia