Bedah Buku Pariwisata Syariah UGM: 10 Destinasi Halal Dunia di Indonesia

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 09 Jul 2021 13:30 WIB
Universitas Gadjah Mada (UGM).
Foto: Universitas Gadjah Mada (UGM). (Dok Humas UGM)/Bedah Buku Pariwisata Syariah UGM: 10 Destinasi Halal Dunia di Indonesia.
Jakarta - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) mengadakan sebuah webinar daring bedah buku Hukum Pariwisata Syariah di ASEAN. Acara yang dihelat Rabu (07/07/2021) tersebut turut dihadiri oleh Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno.

Seperti dikutip dari laman UGM, dalam kesempatan ini Sandiaga mengungkapkan peringkat Indonesia pada Global Islamic Economy Indicator 2021 berada di posisi keempat, naik satu peringkat dari tahun 2019. Posisi ini berada di bawah Malaysia, Saudi Arabia, dan UAE.

Sandiaga memaparkan Halal Food Indonesia di posisi ke-4 sebelumnya bahkan tidak masuk sepuluh besar. Selanjutnya, pada sektor Islamic Finance, Indonesia turun satu peringkat dari tahun 2019 dan kini di posisi ke-6 sama dengan Muslim-friendly Travel serta Pharm & Cosmetics.

Untuk Modest Fashion, Indonesia tidak naik dan tidak turun, tetap di posisi ketiga. Sedangkan untuk Media & Creation, Indonesia berhasil mencapai posisi ke-5. Sandiaga mengungkapkan sebagai destinasi wisata muslim di dunia, Indonesia bersama dengan Malaysia ada di peringkat pertama. Hal ini merupakan peningkatan setelah pada 2018 ada di peringkat kedua.

Dalam acara yang diselenggarakan UGM ini, Sandiaga mengatakan tiga negara yang menjadi tujuan wisata muslim dunia ASEAN adalah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Indonesia punya peluang besar karena memiliki pemenang tingkat dunia.

"Sedangkan 10 destinasi pariwisata ramah muslim di Indonesia ini menarik. Kita sudah memiliki pemenang tingkat dunia, yakni Lombok, Aceh, Sumatra Barat, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Riau dan Kepulauan Riau, dan Sulawesi Selatan. Ini destinasi-destinasi yang menjanjikan untuk perkembangan ke depan," kata Sandiaga.

Dirinya menjelaskan, sudah dilakukannya berbagai inovasi dan digitalisasi untuk mengembangkan pariwisata halal. Contohnya adalah dorongan pengembangan gerakan beli produk halal Indonesia, pengembangan aplikasi dompet digital syariah, serta kerja sama dengan Kemenag, MUI, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), dan sebagainya.

Guru besar Fakultas Hukum UGM M. Hawin juga menyatakan bahwa buku Hukum Pariwisata Syariah di Indonesia karya Reza Zaki dari Binus University merupakan buku yang menarik dan populer. Menurutnya, belum ada buku yang membahas topik tersebut.

"Secara umum buku ini bagus, namun kajian hukumnya masih perlu dikembangkan. Masih perlu diperbanyak dari segi hukum perdagangan internasionalnya terutama WTO, GATS, dan di tingkat ASEAN juga ada perjanjian di bidang jasa. Kerangka perjanjian tingkat ASEAN yang perlu dikembangkan yaitu ASEAN trades in service agreement yang ada pada Oktober 2020 lalu," tuturnya.

Hawin berpendapat bahwa ASEAN trades in service agreement berbeda dari national treatment pada General Agreement on Trade in Service (GATS).

"Dalam GATS, national treatment hanya berlaku pada sektor-sektor yang dikomitmenkan oleh negara-negara anggota WTO. Jadi, tidak berlaku untuk umum. Ini menarik untuk dikaji atau dikembangkan bukunya," ujar Profesor Hukum UGM tersebut.

Simak Video "BEM UGM Bagikan Sembako, Sindir Pemerintah Tangani Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(row/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia