56 Ribu Guru Madrasah Belum S1, Kemenag Buka Cyber Islamic University

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 04 Jun 2021 14:41 WIB
ujian akhir madrasah di rembang
Kemenag buka Cyber Islamic University bagi guru madrasah (Foto: Arif Syaefudin/detikcom)
Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) membuka Cyber Islamic University untuk mengentaskan pendidikan sebanyak 56 ribu guru madrasah se-Indonesia belum memenuhi kriteria sarjana S1 atau sarjana lengkap.

Seperti diketahui pemerintah telah mewajibkan guru harus berijazah minimal S1. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Kementerian Agama (Kemenag), Muhammad Zain mengungkapkan, para guru madrasah yang belum S1 tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

"Ini memang menjadi salah satu prioritas kerja kita untuk mengentaskan mereka," katanya saat penandatanganan kerjasama Ditjen Pendidikan Islam Kemenag dengan Perguruan Tinggi di Bandar Lampung, (3/6/2021).

Dalam kesempatan tersebut Kemenag mengikat kerjasama dengan 58 kampus Islam dan kampus umum dalam hal penyediaan kuliah daring bagi 56 ribu guru madrasah yang belum S1.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru mengatur para guru yang belum S1 dilarang mengajar. Namun hingga saat ini para guru masih diberi waktu menyesuaikan diri karena pemerintah memberikan kelonggaran waktu berdasarkan kesulitan-kesulitan yang ada. Kelonggaran ini dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani meminta para rektor kampus Islam ikut melek terhadap kenyataan ini. Para guru madrasah yang belum S1 itu berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Guru-guru ini mayoritas menjadi figur sentral bagi unit pendidikan di lingkungannya. Mereka tidak dimungkinkan mengambil jeda libur yang lama hanya untuk kuliah tatap muka. "Kalau mereka kuliah ke kota sekolah mereka bisa bubar," ujar Ali Ramdhani.

Untuk itu ia meminta negara hadir dalam menyajikan pendidikan bagi para guru madrasah ini. Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini menambahkan, awalnya terdapat ide pembentukan semacam universitas Islam terbuka.

Ide itu kemudian berkembang menjadi Cyber Islamic University. Pada akhirnya ide perkuliahan siber itu diwujudkan dengan sepenuhnya menggunakan sistem daring, mulai dari pendaftaran, proses pembelajaran sampai kelulusannya.

Saat ini grand design, modul, dan model pembelajaran jarak jauhnya sudah ada, sehingga dalam waktu dekat sudah siap diaplikasikan. Ini merupakan pekerjaan berat, karena saat ini yang akan terlibat sebanyak 58 kampus.

Bila dihitung kapasitas, untuk mengentaskan 56 ribu guru madrasah menjadi sarjana lengkap memerlukan waktu lebih dari 10 tahun.



Model cyber university ini nantinya juga akan dibutuhkan oleh warga negara Indonesia yang berada di luar teritori, seperti para TKI. Di waktu senggang usai bekerja, mereka dapat kuliah melalui platform ini.

Simak Video "Saatnya Guru Jadi 'YouTuber' Andal Lewat Program Akademi Edukreator"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia