Unik Banget! Riset Ini Ikuti Kehidupan 12 Ribu Anak Selama 20 Tahun

Anatasia Anjani - detikEdu
Senin, 10 Mei 2021 14:00 WIB
Kemiskinan jadi permasalahan di berbagai negara dunia. Di India, salah satunya, kemiskinan memaksa sejumlah anak mencari nafkah di usia belia. Berikut potretnya
Kehidupan pemulung anak di India. Universitas Oxford mengadakan penelitian selama 20 tahun dengan objek anak-anak termasuk di India (Foto: AP Photo/Anupam Nath)
Jakarta - Riset yang dilakukan Universitas Oxford ini sangat unik. Perguruan tinggi yang berada di Inggris ini mengikuti perjalanan hidup sebanyak 12 ribu anak yang sama selama 20 tahun dari negara sejumlah negara di tiga benua seperti Ethiopia, India, Peru, dan Vietnam.

Seperti dikutip dari laman Universitas Oxford 12 ribu anak yang dijadikan objek penelitian dibagi atas dua kelompok umur yakni kelahiran tahun 1994 dan 2001.

Survei tatap muka proyek yang dinamakan Young Lives ini dilakukan setiap tiga hingga empat tahun sekali. Pewawancara akan kembali ke keluarga yang sama untuk menangkap perubahan dalam kehidupan dan komunitas mereka.

"Kebanyakan studi tentang kemiskinan hanya berbicara tentang orang dewasa, tetapi anak dan orang tua tidak selalu memiliki pengalaman yang sama," ujar Marta Favara selaku peneliti Young Lives yang dikutip dari laman World Economic Forum.

Berdasarkan data diperoleh di Ethiopia kemiskinan ekstrim turun dari 61% pada tahun 1996 menjadi 24% pada tahun 2016, sementara banyak keluarga melaporkan memiliki akses yang lebih baik ke layanan dasar, listrik, sanitasi dan air.

Sedangkan di Peru Keluarga kaum muda mengalami peningkatan akses listrik dari 60% pada 2002 menjadi 96% pada 2016, sementara di Vietnam meningkat dari 55% menjadi 97% pada periode yang sama.


Berikut adalah 7 fakta yang didapat dari survei anak tersebut:

1. Pengalaman Anak Usia Dini Menentukan Keturunan Selanjutnya

1000 hari hidup pertama anak merupakan sesuatu yang penting, dengan bayi yang kurang gizi cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih lemah pada usia 5 tahun. Selain itu seorang anak yang sekolah di sekolah dengan fasilitas yang minim saat dewasa mereka akan lebih tertinggal.

2. Kemiskinan Berdampak Pada Segalanya

Kemiskinan pada anak sangat multidimensi baik dari segi penyebab maupun konsekuensinya, dan berdampak pada setiap aspek kehidupan anak dan membatasi kemampuannya. Sebagai contoh ada pada bangunan rumah, rumah yang lebih miskin akan mengalami kejadian buruk seperti guncangan dan berbeda dengan rumah yang dibuat sesuai dengan perencanaan yang matang, tidak akan berdampak negatif pada anak.

3. Kehidupan Remaja Anak Menawarkan Kesempatan Kedua

Asumsi yang bertentangan tentang malnutrisi yang berkepanjangan dapat mengganggu perkembangan kognitif anak. Nyatanya melalui survei anak tersebut ditemukan bahwa anak-anak tersebut dapat pulih secara fisik seiring dengan bertambahnya usia dan tampil lebih baik dalam tes kognitif.

4. Sekolah Tidak Selalu Membawa Perubahan

Berdasarkan hasil survei anak Universitas Oxford tersebut ditemukan sebanyak 40% anak tidak dapat memahami literasi dasar pada usia 8 tahun, meskipun bersekolah, banyak sekolah yang memiliki akses pendidikan berkualitas rendah.

5. Pernikahan Dini dan Melahirkan Anak Berpengaruh

Studi anak juga termasuk pada pendidikan ibu muda dan peluang kerja yang dipengaruhi secara negatif oleh pernikahan dini dan melahirkan anak usia muda sangat berpengaruh pada kesehatan dan perkembangan kognitif anak.

Menurut survei pada tahun 2016, terdapat 47% wanita di India menikah sebelum berusia 18 tahun dan sebanyak 60% perempuan yang menikah berpartisipasi dalam Young Lives studi dan telah melahirkan saat usia mereka 19 tahun.

6. Kekerasan Pada Anak Berdampak Panjang dalam Kehidupan

Kekerasan adalah bagian dari kehidupan anak baik yang terjadi di sekolah, rumah, komunitas, dan sebagainya. Studi menemukan bahwa kekerasan pada anak sangat berpengaruh pada kesejahteraan anak, terutama pada sekolah dan pembelajaran.

Menurut hasil riset Young Live dan Unicef pada tahun 2017 ditemukan bahwa sebanyak 1,7 miliar anak mengalami kekerasan setiap tahun. Di Peru terdapat undang-undang yang baru disahkan mengenai larangan penghukuman fisik dan penghinaan pada anak-anak.

7. Tidak Semua Pekerjaan Berdampak Buruk Pada Anak

Beberapa keluarga sangat bergantung pada keuangan anak-anak untuk bertahan hidup. Jika pekerjaan tersebut berdampak baik untuk anak maka mereka harus mendapatkan apresiasi dari anggota keluarganya, kata peneliti. Menurut peneliti ketika anak bekerja tetap harus melakukan pekerjaan yang aman dan tidak menghalangi mereka untuk bersekolah.

Dari hasil survei anak Young Lives yang dilakukan Universitas Oxford ini juga ditemukan bahwa pandemi COVID-19 memberikan sumbangan besar pada kemiskinan ekstrem di tahun 2021.

Bank Dunia juga telah memberikan peringatan bahwa ada krisis pembelajaran saat COVID-19. Setidaknya terdapat 1,6 miliar anak keluar dari sekolah dan menambah kesenjangan serta penurunan yang lambat dari kemiskinan.

Simak Video "Oxford Akan Uji Coba Vaksin Corona Alternatif, Apa Itu?"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia