Buka Bersama, Silaturahmi lintas negara ala Mahasiswa Al-Azhar

Julia Misbach - detikEdu
Sabtu, 08 Mei 2021 07:15 WIB
Julia Misbach
Julia Misbach (Foto: Istimewa )
Jakarta - Ramadhan menjadi momentum penting bagi mahasiswa lintas negara di al-Azhar, Cairo, Mesir. Mahasiswa dari berbagai negara memanfaatkan buka bersama sebagai ruang silaturahmi untuk menguatkan keakraban dan persaudaraan.

Sebagaimana diketahui, Universitas al-Azhar Cairo Mesir merupakan universitas Islam tertua ke-dua di dunia, yang memiliki ribuan mahasiswa dari ratusan negara. Beragam suku dan budaya melebur menjadi satu di bawah naungan Al-Azhar Syarif. Uniknya, dari negara manapun mereka tinggal, mereka memang sama-sama memiliki cita-cita yang kuat untuk mengeyam pendidikan di al-Azhar. Berangkat dari dampak dan peran al-Azhar terhadap peradaban Islam dan kekaguman mereka terhadap para alumninya itulah yang membuat generasi Al-Azhar tidak pernah surut, bahkan terus bertambah dari belahan dunia manapun.

"Kenapa kamu memilih kuliah di Al-Azhar, Abla?" tanyaku di awal perkenalan pada salah satu teman asal Turki. Abla adalah panggilan untuk Kakak perempuan di Turki.

"Dari kecil aku sudah bercita-cita untuk kuliah di Al-Azhar. Dan awalnya aku hanya cinta kepada Al-Azhar, tanpa tahu persyaratan dan peraturan apa saja yang ada di sini. Namun karena kecintaanku terhadap Al-Azhar, sesulit apapun rintangan dan perjuangan yang harus aku lakukan, alhamdulillah bisa berjalan dengan lancer," jawabnya lembut, khas perempuan Turki.

Kami menjalin hubungan yang sangat baik antar pelajar asing maupun dengan pelajar pribumi Mesir itu sendiri. Mahasiswa Mesir kerap membantu kami dalam memahami penjelasan dosen, khususnya ketika para dosen menjelaskan dengan bahasa 'Amiyah Mesir, atau biasa kita sebut bahasa daerah. Begitu juga dengan pelajar dari negara benua lain, seperti Eropa, Asia dan lain-lain.

Kami sesama pelajar asing juga saling membantu satu sama lain, meskipun sama-sama masih terbata menggunakan bahasa Arab Fushah maupun 'Amiyah Mesir. Hal tersebut tidak menjadi penghalang komunikasi antara kami. Bahkan, kami saling belajar bahasa negara masing-masing. "Behibbak Indunisi" (aku suka orang Indonesia). Itulah kalimat berbahasa Mesir, yang sering mereka lontarkan kepada mahasiswa Indonesia yang dianggap cukup ramah dan suka bersosial dengan mahasiswa asing lainnya.

Kebaikan-kebaikan mereka di bangku kuliah pun, berlanjut di kehidupan sehari-hari. Khususnya di momen Ramadhan seperti ini. Kami saling mengundang teman antar negara untuk buka bersama dan mencicipi makanan khas negara masing-masing.

Beberapa waktu lalu, saya dan teman serumah asal Indonesia diundang untuk buka bersama teman asal Turki di rumah sewaan mereka daerah Distrik 7-kawasan perumahan elit para Mahasiswa Al-Azhar yang sangat dekat dengan Kuliatul Banat (kampus Al-Azhar khusus perempuan). Rumah sewaan adalah opsi tempat tinggal kedua setelah asrama gratis bagi sebagian mahasiswa Al-Azhar. Karena jumlah Mahasiswa Al-Azhar yang sangat banyak, sehingga tidak semua asrama bisa menampung keberadaannya. Bantuan makanan pokok setiap bulan pun dialihkan kepada mahasiswa yang memilih tinggal di rumah sewaan.

Mereka menyambut kami dengan sangat hangat. Tepat pukul 18.34 WLK (Waktu Lokal Kairo) azan berkumandang, suguhan lezat khas Turki di ruang tamu pun dipersilakan untuk dimakan. Seperti halnya dengan teman-teman Indonesia, kita memulai buka dengan minum air putih dan memakan yang manis-manis. Kurma sukkari selalu menjadi favorit kami. Lalu dilanjut dengan menyantap syurbah asal Turki yang masih hangat sebagai pembuka makan besar kita.

Setelah menghabiskan semangkuk syurbah-semacam kuah sup dibuat dari dedaunan yang dihaluskan, kita pun melanjutkan dengan makan nasi Kazakhstan. Perpaduan antara nasi yang dicampur dengan potongan daging dan wortel membuat makanan ini bernuansa Timur-Tengah. Ditambah dengan salatoh (semacam acar berisi timun, tomat, dan cuka) dan mahshi (bawang bombay yang diisi nasi lalu dikukus) membuat Nasi Khazaktan semakin terasa lengkap.

Jika di Indonesia bentuk dan pengolahan nasinya hampir sama dengan nasi goreng, hanya saja tidak ada sambal yang menjadi syarat mutlak bagi sebagian orang Indonesia. Sebab, orang Turki dan kebanyakan Timur-Tengah memang tidak begitu suka dengan makanan pedas. Daging yang dipotong kotak-kotak dan bumbu yang dicampur sudah cukup menjadikan nasi Kazakhstan terasa nikmat, apalagi nasi kali ini dibuat langsung oleh chef handal asli Turki.

Setelah kenyang dengan nasi Kazakhstan, kita disuguhkan dengan buah semangka yang cocok disantap saat musim panasnya Mesir dan minum Es Karkadeh; teh herbal dari bunga Rossella yang berwarna merah tua. Rasanya asam dan sedikit manis. Keduanya menjadi penyegar tubuh setelah berpuasa 16 jam dengan cuaca 41° C.
Setelah rangkaian menu berbuka telah habis disantap, kami pun salat magrib berjamaah. Lalu dilanjut dengan membaca zikir Jausyan Said Nursi. Pujian terhadap Allah dan Nabi Muhammad semakin menenangkan ruangan yang bersih tanpa debu itu. Ya, mereka memang sangat menjaga kebersihan di rumahnya, bahkan tidak ada barang pribadi satu pun yang tergeletak di tempat umum (ruang tamu).

Sehabis zikir, kita pun berbincang-bincang dan saling bertukar cerita ditemani dengan Kunafa manisan atau halawiyat khas Mesir dan secangkir teh hangat yang menjadi minuman wajib bagi orang Turki setelah makan. Canda dan gelak tawa pun mewarnai obrolan kita. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WLK, kami pun beranjak pamit untuk mengejar salat tarawih di rumah. Dengan berat hati mereka melepas kami di pintu keluar, sembari memberi bingkisan kecil yang berisi gelang dan tasbih asal Turki. Sikap hangat mereka terhadap kami yang hanya mengenal di bangku kuliah, benar-benar mengajarkan kami arti persaudaraan yang sesungguhnya. Allah sizden razı olsun! (*).


Julia Misbach

Mahasiswi S1 Akidah Filsafat Universitas Al-Azhar, Cairo Mesir

Artikel ini merupakan kerjasama antara PCINU se-dunia dengan detikcom

Simak Video "BIN Tracing Covid-19, Sasar Lingkungan Sekolah di Jaksel"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia