Saat ruang kelas tak lagi aman, pembelajaran pun berpindah ke tempat yang memungkinkan. Dari ruang kelas, pembelajaran beralih ke posko pengungsian. Kemudian, sekolah bersama orang tua dan pemerintah setempat membangun tiga posko belajar sederhana dari bambu dan terpal. Foto: Kemendikdasmen
Belajar di tengah situasi darurat jelas punya tantangan tersendiri. Dalam satu posko, murid dari jenjang TK, SD, hingga SMP bisa belajar bersama. Para guru pun harus beradaptasi dengan pembelajaran kelas rangkap agar setiap anak tetap mendapatkan pendampingan.Foto: Kemendikdasmen
Murid kelas 1-3 berfokus pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Sementara itu, kelas yang lebih tinggi mendapatkan penguatan literasi, numerasi, serta materi esensial lainnya. Foto: Kemendikdasmen
Bukan cuma pelajaran yang perlu dipulihkan. Rasa aman anak-anak juga menjadi prioritas. Dukungan psikososial dan pemulihan trauma bersama relawan membantu murid perlahan kembali beraktivitas, lebih tenang, dan berani mengikuti pembelajaran. Foto: Kemendikdasmen
Kabar baiknya, semangat anak-anak mulai kembali. "Antusias anak-anak mulai nampak dan tidak takut atau masih panik," ungkap Kepala SD Katolik Doki, Maria Sefiriana Sebo. Foto: Kemendikdasmen