Sulawesi Tenggara - Gua Metanduno di Muna menyimpan cap tangan berusia minimum 67.800 tahun. Kini, jejak seni cadas itu menghadapi ancaman kerusakan.
Picture Story
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Deretan bukit karst menjulang di balik rimbun pepohonan di Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Di balik gua-gua kawasan tersebut, tersimpan gambar cadas yang menjadi jejak perjalanan manusia di Pulau Muna. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Desa Liang Kabori memiliki luas sekitar 4,20 kilometer persegi dengan 1.647 penduduk. Namun, wilayah itu menyimpan bentang sejarah panjang di kawasan gua prasejarah Liang Kabori. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Masyarakat setempat telah mengenal keberadaan gua-gua tersebut jauh sebelum penelitian modern dilakukan. Mereka mengetahui gambar pada dinding batu, tetapi belum memahami usia dan nilai penting guratan yang mulai memudar. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Penelusuran ilmiah dimulai pada 1977 ketika tim Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional melakukan survei awal. Sejumlah situs kemudian diidentifikasi sebagai bagian dari dokumentasi ilmiah gambar cadas di Pulau Muna. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Juru pelihara kawasan cagar budaya Liang Kabori, La Ode Samada (58), mengatakan pada awal penelusuran hanya sembilan gua yang teridentifikasi. Kini jumlahnya mencapai 66 gua dan masih berpotensi bertambah. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Salah satu situs penting adalah Liang Metanduno. Pada 21 Januari 2026, jurnal Nature menerbitkan penelitian kolaborasi peneliti Indonesia dan Australia yang mengungkap usia minimum sebuah cap tangan di gua tersebut mencapai 67.800 tahun. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Penanggalan dilakukan menggunakan metode laser-ablation uranium-series (LA-U-series) dengan menganalisis lapisan kalsit yang terbentuk di atas gambar cadas. Temuan itu menjadikan Liang Metanduno sebagai lokasi seni cadas nonfiguratif tertua yang diketahui dan dapat diberi batas usia minimum secara ilmiah. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Guinness World Records kemudian mencatat Liang Metanduno sebagai lokasi seni lukis cadas nonfiguratif tertua di dunia. Di balik cap tangan sederhana itu tersimpan pertanyaan tentang kemampuan manusia masa lalu membuat tanda dan berkomunikasi melalui simbol. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Namun, usia gambar yang sangat tua juga membuat tanggung jawab pelestariannya semakin besar. Sentuhan pengunjung, asap rokok, perubahan suhu dan kelembapan, getaran, hingga cahaya matahari dapat mempercepat kerusakan gambar cadas. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Juru pelihara berlatar belakang arkeologi, Ajuk, mengatakan akses pengunjung menjadi salah satu persoalan penting dalam pelestarian. Menurutnya, sentuhan fisik, asap rokok, getaran, suhu dalam gua, serta cahaya matahari dapat merusak struktur lukisan. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Pada Juli 2026, Kementerian Kebudayaan menetapkan Gua Metanduno sebagai cagar budaya peringkat nasional. Penetapan tersebut memperkuat posisi situs sebagai bagian penting dari warisan budaya dan arkeologi Indonesia. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Di antara bukit-bukit karst Liang Kabori, gambar-gambar cadas yang mulai pudar masih menyimpan jejak kehidupan puluhan ribu tahun lalu. Kini, tugas manusia bukan hanya menemukan maknanya, tetapi memastikan jejak itu tetap ada. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
