Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori

ADVERTISEMENT

Picture Story

Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori

Rafida Fauzia - detikEdu
Rabu, 26 Agu 2026 21:00 WIB

Sulawesi Tenggara - Gua Metanduno di Muna menyimpan cap tangan berusia minimum 67.800 tahun. Kini, jejak seni cadas itu menghadapi ancaman kerusakan.

Juru pelihara Ajuk menunjukkan gambar cadas berupa cap tangan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Gua Metanduno, kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Deretan bukit karst menjulang di balik rimbun pepohonan di Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Di balik gua-gua kawasan tersebut, tersimpan gambar cadas yang menjadi jejak perjalanan manusia di Pulau Muna. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Juru pelihara Ajuk menunjukkan gambar cadas berupa cap tangan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Gua Metanduno, kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Desa Liang Kabori memiliki luas sekitar 4,20 kilometer persegi dengan 1.647 penduduk. Namun, wilayah itu menyimpan bentang sejarah panjang di kawasan gua prasejarah Liang Kabori. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Juru pelihara Ajuk menunjukkan gambar cadas berupa cap tangan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Gua Metanduno, kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Masyarakat setempat telah mengenal keberadaan gua-gua tersebut jauh sebelum penelitian modern dilakukan. Mereka mengetahui gambar pada dinding batu, tetapi belum memahami usia dan nilai penting guratan yang mulai memudar. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Juru pelihara Ajuk menunjukkan gambar cadas berupa cap tangan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Gua Metanduno, kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Penelusuran ilmiah dimulai pada 1977 ketika tim Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional melakukan survei awal. Sejumlah situs kemudian diidentifikasi sebagai bagian dari dokumentasi ilmiah gambar cadas di Pulau Muna. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Foto udara susunan tebing karst di kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Juru pelihara kawasan cagar budaya Liang Kabori, La Ode Samada (58), mengatakan pada awal penelusuran hanya sembilan gua yang teridentifikasi. Kini jumlahnya mencapai 66 gua dan masih berpotensi bertambah. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Juru pelihara Ajuk menunjukkan gambar cadas berupa cap tangan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Gua Metanduno, kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Salah satu situs penting adalah Liang Metanduno. Pada 21 Januari 2026, jurnal Nature menerbitkan penelitian kolaborasi peneliti Indonesia dan Australia yang mengungkap usia minimum sebuah cap tangan di gua tersebut mencapai 67.800 tahun. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Juru pelihara Ajuk menunjukkan gambar cadas berupa cap tangan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Gua Metanduno, kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Penanggalan dilakukan menggunakan metode laser-ablation uranium-series (LA-U-series) dengan menganalisis lapisan kalsit yang terbentuk di atas gambar cadas. Temuan itu menjadikan Liang Metanduno sebagai lokasi seni cadas nonfiguratif tertua yang diketahui dan dapat diberi batas usia minimum secara ilmiah. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Juru pelihara Ajuk menunjukkan gambar cadas berupa cap tangan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Gua Metanduno, kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Guinness World Records kemudian mencatat Liang Metanduno sebagai lokasi seni lukis cadas nonfiguratif tertua di dunia. Di balik cap tangan sederhana itu tersimpan pertanyaan tentang kemampuan manusia masa lalu membuat tanda dan berkomunikasi melalui simbol. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Juru pelihara Ajuk menunjukkan gambar cadas berupa cap tangan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Gua Metanduno, kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Namun, usia gambar yang sangat tua juga membuat tanggung jawab pelestariannya semakin besar. Sentuhan pengunjung, asap rokok, perubahan suhu dan kelembapan, getaran, hingga cahaya matahari dapat mempercepat kerusakan gambar cadas. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Juru pelihara Ajuk menunjukkan gambar cadas berupa cap tangan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Gua Metanduno, kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Juru pelihara berlatar belakang arkeologi, Ajuk, mengatakan akses pengunjung menjadi salah satu persoalan penting dalam pelestarian. Menurutnya, sentuhan fisik, asap rokok, getaran, suhu dalam gua, serta cahaya matahari dapat merusak struktur lukisan. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Juru pelihara Ajuk menunjukkan gambar cadas berupa cap tangan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Gua Metanduno, kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Pada Juli 2026, Kementerian Kebudayaan menetapkan Gua Metanduno sebagai cagar budaya peringkat nasional. Penetapan tersebut memperkuat posisi situs sebagai bagian penting dari warisan budaya dan arkeologi Indonesia. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Foto udara susunan tebing karst di kawasan Cagar Budaya Liangkabori, Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Di antara bukit-bukit karst Liang Kabori, gambar-gambar cadas yang mulai pudar masih menyimpan jejak kehidupan puluhan ribu tahun lalu. Kini, tugas manusia bukan hanya menemukan maknanya, tetapi memastikan jejak itu tetap ada. ANTARA FOTO/Andry Denisah  

Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori
Menjaga Jejak Manusia 67.800 Tahun Lalu di Liang Kabori

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads