Sempat Nggak Pede, Latiesha Anak Jaksel Sukses Wakili Jakarta di Paskibraka 2026

ADVERTISEMENT

Sempat Nggak Pede, Latiesha Anak Jaksel Sukses Wakili Jakarta di Paskibraka 2026

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 16 Agu 2026 13:00 WIB
Latiesha Firenzie Bharata, Paskibraka 2026 asal DKI Jakarta
Foto: Trisna Wulandari/detikcom
Jakarta -

Latiesha Firenzie Bharata mengenal kegiatan pasukan pengibar bendera (paskibra) sejak duduk di bangku SMP. Mengeksplorasi minat sejak kecil mengantarkan remaja ini menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Pusat Tahun 2026.

Perwakilan DKI Jakarta di Paskibraka Tingkat Pusat 20262 ini menuturkan, ia pertama kali bertugas mengibarkan bendera untuk upacara 17 Agustus di sekolah. Seiring waktu, pelatih di sekolah mengenalkannya tentang paskibraka tingkat kota, provinsi, dan pusat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dorongan Sekitar

Menginjak masa SMA, siswa SMA Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan ini pun sudah cukup umur untuk mendaftar Paskibraka. Kendati didukung keluarga hingga teman-teman, Latiesha mengaku sempat kurang percaya diri dalam hal fisik dan mental.

Namun, ia pun coba mendaftar karena dukungan orang-orang di sekitarnya. Pada seleksi tingkat kota, ia mendapati bahwa di samping fisik dan mental, rupanya etika dan sikap juga menjadi poin yang dinilai.

ADVERTISEMENT

"Jadi di situ saya belajar, saya terus berlatih untuk menjadi yang terbaik supaya terpilih. Dan Alhamdulillah saat diumumkan, saya terpilih sebagai salah satu capaska (calon paskibraka) di tingkat kota, yaitu Jakarta Selatan," tuturnya pada detikedu, ditulis Minggu (16/8/2026).

Adaptasi dan Manajemen Waktu

Latiesha menjelaskan, capaska tingkat kota/kabupaten mendapat beberapa kali latihan per minggu. Ia pun harus beradaptasi serta belajar manajemen waktu dan manajemen energinya.

"Di situ saya sempat shock dengan budaya latihannya karena sebelumnya saya itu, saya menilai diri saya sendiri sebagai orang yang aktif. Dan pada saat itu, saya masuk organisasi luar sekolah dan OSIS juga, jadi agak bentrok, bisa dibilang," tuturnya.

"Tapi di situ saya juga diajarkan untuk memiliki skala prioritas. Dan saya mementingkan hal-hal yang berguna bagi saya di jangka panjangnya daripada yang hanya untuk kesenangan saya untuk saat itu. Dan di situ saya sudah menguasai adaptasi dengan jadwal baru, dan saya sudah mulai senang dengan situasi saya di paskibra tingkat kota," imbuhnya tersenyum.

Untuk dapat menjadi capaska tingkat pusat, Latiesha menjelaskan, rutinitasnya sangat berubah dari sebelumnya. Dari yang sebelumnya sekolah, pulang, main dengan teman, dan istirahat, ia kini harus olahraga hingga belajar materi Pancasila dan Kewarganegaraan. Tak hanya untuk lolos tes-tes tingkat kota dan provinsi, kegiatan-kegiatan baru ini menurutnya penting untuk bertugas sebagai Paskibraka.

"Sebagai paskibraka, kami juga harus jadi teladan. Jadi kita harus membiasakan diri untuk menjadi yang terbaik dari asal daerah, provinsi, maupun kota masing-masing. Jadi pastinya kerasa perbedaan, dan harus adaptasi lagi," ungkapnya.

Latiesha mengaku pernah lelah dan kurang percaya diri. Namun, ia berupaya menyadari bahwa hal ini bagian dari adaptasi dari kebiasaan yang lalu ke kebiasaan yang baru.

"Karena Paskibraka kan identik dengan kedisiplinan, kerapian, dan kekompakan, uang sebelumnya mungkin belum terimplementasikan di keseharian kita. Namun itu bukan hanya tugas Paskibraka, namun pelajar biasa juga. Jadi sebenarnya untuk mengatasi hal tersebut, bisa dengan adaptasi saja, atau dengan motivasi: bisa dari teman, dari keluarga, untuk terus mencapai yang terbaik untuk provinsi kita masing-masing," ujarnya.

Saling Dukung dengan Peserta Seleksi

Ia bercerita, saat tes minat-bakat, semua teman-temannya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sementara dirinya merasa masih kurang. Namun, saat ia ragu dengan diri sendiri, Latiesha mengingat dukungan orang tua hingga teman-temannya.

"Saya masih mencoba yang terbaik dan mengeluarkan yang terbaik. Karena juga orang tua saya sangat bangga akan prestasi saya ini, sudah nyampe seleksi tingkat provinsi.
Jadi saya terus mencoba," ucapnya.

Latiesha merasa bersyukur karena teman-teman sesama peserta seleksi saling mendukung di tiap tingkat seleksi, meskipun pada dasarnya tengah bersaing untuk meraih posisi paskibraka di tingkat pusat. Termasuk saat ia merasa putus asa dan kurang eligible untuk melaju ke verifikasi pusat.

"Saya ada teman di selama seleksi, dan dia terus meyakinkan saya selama menginap karena kami sekamar. Dan saya jadi yakin. Dan saat pantukhir (pemantauan akhir) tiba, pengumumannya juga tiba, Alhamdulillah kami berdua keterima sebagai calon verifikasi pusat. Dan itu kami sudah senang banget, Alhamdulillah. Saya juga sangat bangga dengan diri saya sendiri," tuturnya.

Latiesha menuturkan, sikap saling dukung ini juga ia temui saat bertemu peserta seleksi dari 38 provinsi.

"Dan juga saling membantu, walaupun kami baru kenal," ucapnya.

Menuju Paskibraka di Istana

Lolos verifikasi pusat, Latiesha pun menjalani keseharian pemusatan pelatihan sebagai calon Paskibraka tingkat pusat. Hari-hari dengan rutinitas padat dilalui dari pembelajaran, olahraga, hingga latihan peraturan baris-berbaris.

Masa pelatihan Capaska tingkat pusat baginya tak kalah menantang karena harus pisah dengan keluarga. Diketahui, capaska juga harus menitipkan HP ke panitia dan kontak emergency dilakukan melalui pengasuh.

"Jadi rasanya agak sedih dan susah. Namun pastinya dengan semua teman-teman yang di sini, kami terus disemangatin dan tentunya di sini jadi ada keluarga baru untuk saling merangkul dan saling menjaga," ucapnya.

Ia menambahkan, mewakili daerah juga menjadi prestise sendiri, serta kebanggaan pribadi maupun orang tua. Bergabung dengan teman-teman di tingkat pusat baginya juga jadi kesempatan untuk merasakan bagaimana teman-teman berbeda latar belakang dari Sabang sampai Merauke disatukan untuk mengibarkan duplikat bendera pusaka di HUT RI di Istana.

"Di situ kami bisa merasakan kekeluargaan dan keseruan, kesatuan kami semua di Indonesia ini," ucapnya.

Masa-masa pelatihan bagi Latiesha juga memungkinkan ia melatih public speaking hingga belajar berempati dan saling peduli.

"Di sini pun, karena kita sudah keluarga, kami saling bertukar cerita. Dan di situ saya mengenal berbagai emosi, berbagai perasaan, dan berbagai variasi cara orang menanggapi suatu situasi," jelas siswa yang bercita-cita menjadi psikolog ini.

Setelah bertugas di hari HUT RI besok, Latiesha berencana untuk menggunakan kesempatan sebagai Paskibraka untuk belajar mengembangkan diri dan berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi tanah air.

Ingin mengikuti jejak Latiesha sebagai Paskibraka tahun depan? Selamat menyiapkan diri dari sekarang, detikers!

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video Farid Azhar Ingatkan Anak Muda Waspadai Jebakan Konsumtif Digital"
[Gambas:Video 20detik] (twu/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads